Minggu, 23 September 2018 05:58 WIB
pmk

Internasional

Eksodus Venezuela Bikin Pusing Tetangga

Redaktur:

PADAT - Gelombang pengungsi asal Venezuela berdesakan memasuki wilayah Kota Roraima di Negara Bagian Brazil Utara, dalam beberapa bulan terakhir Foto: istimewa

INDOPOS.CO.ID – Kemelut ekonomi Venezuela melahirkan krisis kemanusiaan baru di Benua Amerika. Eksodus warga dalam skala besar membuat negara-negara tetangga siaga. Tidak terkecuali Brasil. Presiden Michel Temer mengerahkan pasukan tambahan ke perbatasan. Tepatnya ke Negara Bagian Roraima kemarin.

Roraima berbatasan langsung dengan Venezuela. Dari negara bagian itulah ribuan warga Venezuela masuk Brasil. Karena itu, Temer menerbitkan dekrit soal pengamanan perbatasan pada Selasa (28/8). ’’Gelombang pengungsi di Roraima muncul karena penduduk (Venezuela) mengalami kondisi yang luar biasa buruk,’’ ujar Temer di istana kepresidenan Planalto.

Dalam dekritnya, Temer menuliskan bahwa pasukan tambahan tersebut akan berjaga di perbatasan sampai 12 September. Karena tugas utamanya menjaga keamanan, pasukan yang dikerahkan ke Roraima itu dipersenjatai lengkap. Sebab, para pengungsi Venezuela dan penduduk Roraima rawan bentrok.

Pertengahan Agustus lalu, penduduk Roraima dan para pengungsi asal Venezuela baku hantam. Empat warga Venezuela diduga melakukan kekerasan terhadap penduduk setempat. Kabarnya, mereka juga merampok. Penduduk Roraima tidak terima. Mereka mengamuk. Mereka mengusir para pendatang dan membakar barang-barangnya.

Tak ingin insiden serupa terulang, Temer pun lantas menerbitkan dekrit tersebut. Dia berharap kehadiran pasukan bersenjata di perbatasan bisa membuat situasi keamanan makin kondusif. Apalagi, arus pengungsi dari Venezuela terus mengalir. Setiap hari jumlah pendatang juga bertambah.

Belakangan, kondisi Venezuela memburuk. Akibatnya, jumlah warga yang mengungsi semakin banyak juga. Menurut BBC, saat ini ada lebih dari 60 ribu warga Venezuela di Brasil. Sebagai negara tetangga, Brasil pun menyediakan bantuan kemanusiaan. Diantaranya, menyediakan tempat penampungan dan layanan medis.

’’Masalah Venezuela bukan lagi urusan politik dalam negeri. Masalah itu bisa mengancam keharmonisan seluruh (penghuni) benua,’’ tegas Temer. Dia berharap pemerintah Venezuela tanggap dan bisa mengatasi masalahnya dengan segera.

Sejak Selasa, para pejabat imigrasi Brasil, Peru, Ekuador, dan Kolombia menggelar pertemuan di Bogota. Dalam pertemuan dua hari itu, mereka membahas tentang para pengungsi Venezuela. Perundingan itu berlanjut di tingkat menteri luar negeri pekan depan. Rencananya, pertemuan dihelat di Ekuador.

’’Jika kita bicara skala, (arus pengungsi Venezuela) setara dengan eksodus penduduk Syria,’’ ujar Luisa Feline Freier, asisten dosen ilmu sosial dan politik Universidad del Pacifico, Peru, seperti dilansir Euro News. Dia mengatakan bahwa eksodus penduduk Venezuela ke negara-negara Amerika Latin akan menyalip eksodus Syria. Itu jika pemerintah Venezuela tidak segera berbenah.

Negara-negara tetangga mulai mengeluhkan derasnya arus pengungsi dari Venezuela. Jika Brasil mengerahkan pasukan bersenjata ke perbatasan, Peru bahkan mendeklarasikan situasi darurat kesehatan. Status itu berlaku selama 60 hari di dua provinsi yang berbatasan dengan Venezuela. Otoritas kesehatan Peru khawatir para pengungsi tersebut menyebarkan penyakit campak dan malaria.

Di Peru ada lebih dari 400 ribu imigran asal Venezuela. Sekitar 178 ribu di antaranya sudah mengantongi izin tinggal legal. Ada juga yang izinnya sedang diproses. Peru berusaha membatasi jumlah tersebut dengan menerapkan aturan ketat bagi pemohon izin. Yakni, wajib punya paspor. Kebijakan yang berlaku sejak Sabtu (25/8) itu berhasil menekan masuknya imigran Venezuela hingga 50 persen.

Mereka yang tidak punya paspor tak kehilangan akal. Bukannya mengajukan izin tinggal, mereka mengajukan permohonan sebagai pencari suaka. Setiap hari jumlah pemohon suaka mencapai ratusan orang. Agar distribusi bantuan tak tumpang-tindih dan pergerakan imigran terbaca, Peru bekerja sama dengan Kolombia. Mereka berbagi informasi tentang database imigran.

Terpisah, Presiden Venezuela Nicolas Maduro meminta penduduknya pulang. Maduro memperingatkan bahwa mereka akan menghadapi situasi sulit di luar negeri. Versi Maduro, ada 89 penduduknya yang pulang setelah bermigrasi ke Peru dan diperlakukan dengan buruk.

’’Apa yang mereka temui di Lima (ibu kota Peru) adalah rasisme, penghinaan, dan penganiayaan,’’ jelas Maduro. Pemerintah Peru menolak untuk berkomentar. Tapi, para aktivis menilai pernyataan Maduro hanyalah pencitraan. (sha/c19/hep/jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #imigran-venezuela 

Berita Terkait

IKLAN