Selasa, 13 November 2018 10:00 WIB
pmk

Headline

Setnov yang Atur Pembagian Kasus Suap Proyek PLTU Riau-1

Redaktur:

Setya Novanto. ISMAIL/INDOPO

INDOPOS.CO.ID – Eni Maulani Saragih melalui pengacaranya, Fadli Nasution, membeberkan peran mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar, Setya Novanto, dalam kasus suap proyek PLTU Riau-1. Menurut Fadli, Novanto lah yang mengatur uang yang berasal dari Johannes B Kotjo harus dibagikan ke siapa dan jumlahnya berapa.

“Jadi, Bu Eni hanyalah pelaksana. Setya Novanto yang atur,” kata Fadli Nasution, kepada INDOPOS, Jumat (31/8/2018).

Sebelumnya, Eni mengatakan, uang yang ia terima dari sakunya Johannes B Kotjo adalah sebesar Rp 6,2 miliar. Kemudian sebesar Rp 2 miliar dari Rp 6,2 miliar tersebut mengalir ke Munaslub.

“Ya, benar itu. Sebesar Rp2 miliar untuk Munaslub Golkar tahun 2017,” kata  Fadli Nasution.

Lantas, kemana sisa uangnya” Menurut Fadli, sisa uangnya digunakan Eni untuk keperluannya. “Rp 2 miliar mengalir ke Munaslub. Sisanya digunakan sendiri oleh  Bu Eni,” kata pengacara Eni, Jumat (31/8/2018).

Bahkan, menurut Fadli, Eni memiliki bukti aliran dana tersebut ke parpol yang kini dipimpin Airlangga Hartato itu.

Tak hanya soal uang, Eni juga mengakui bahwa dirinya mengawal proyek PLTU Riau. Walau tidak menjelaskan bentuk pengawalan yang dimaksud, namun Eni mengakui bahwa hal itu dilakukannya sebagai petugas partai.

Bahkan, politikus Golkar itu juga sempat menyinggung bahwa yang dilakukannya itu merupakan perintah dari Ketua Umum. Meski ia tak menjelaskan siapa sosok Ketua Umum yang dimaksud.

Saat Munaslub Golkar digelar, jabatan Ketua Umum Partai Golkar masih dipegang oleh Idrus Marham selaku pelaksana tugas. Posisi Ketua Umum Golkar sebelumnya dipegang oleh Setya Novanto yang kemudian mundur karena terjerat korupsi e-KTP. Sedangkan dalam Munaslub itu, Airlangga Hartarto terpilih menjadi Ketum Golkar.

Terkait hal tersebut, Setnov membantah ada instruksi darinya kepada Eni terkait pengawalan itu. "Wah enggak (ada perintah mengawal proyek). Saya sudah masuk (bui karena kasus e-KTP), saya enggak tahu," ujar Setnov usai diperiksa KPK di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (28/8/2018) lalu.

Saat ditanyakan perihal perkenalan Eni Maulani Saragih dengan Johannes B Kotjo si pemberi suap, Fadli kembali menjelaskan, bahwa Eni dikenalkan Setya Novanto.

“Benar. Yang mengenalkan Pak Kotjo ke Bu Eni adalah Pak Setnov. Perkenalan tersebut sekitar tahun 2015,”tegasnya.

Terpisah, Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto membantah dugaan aliran dana suap proyek PLTU Riau 1 Rp 2 miliar masuk ke Munaslub Partai Golkar pada 2017 lalu. "Terkait dana ke Partai Golkar atau ke saya pribadi, itu tidak ada. Itu fitnah, dari hasil informasi dan pernyataan Ketua OC, Pak Agus Gumiwang, mengatakan tidak ada," ujarnya saat dihubungi INDOPOS, Jumat (31/8).

Dia juga menegaskan, keterangan dari ketua panitia penyelenggara Munaslub juga menjelaskan, tidak adanya aliran dana tersebut.

Saat ditanya apakah Partai Golkar siap diaudit atas dugaan aliran dana suap tersebut, Airlangga enggan menjawabnya. "No coment ya," tandasnya. (cr-1/aen)

Terpeleset Komitmen Fee Rp 4,8 M

 

13 Juli 2018 :

Eni Maulani Saragih ditangkap di rumah Idrus Marham,

Kompleks Widya Chandra, Jakarta. Malam itu 8 orang ditangkap KPK, bersama uang tunai Rp500 juta. Johannes Budisutrisno Kotjo termasuk di dalamnya.

 

14 Juli 2018

KPK umumkan Eni sebagai tersangka, atas dugaan terima suap total Rp 4,8 M dari Johannes Budisutrisno Kotjo.

 

19 Juli 2018:

Idrus diperiksa selama lebih kurang 12 jam di Gedung KPK.  

 

 

24 Juli 2018

Idrus mundur dari jabatan Mensos

 

26 Juli 2018

Idrus kembali diperiksa KPK. Ia dicecar soal aliran duit berkaitan dengan kasus itu. Namun Idrus mengaku sama sekali tidak tahu.

 

15 Agustus 2019
Pemeriksaan ketiga, KPK mencari tahu tentang pertemuan antara Idrus dengan Eni maupun Kotjo. Juga soal proses persetujuan kerja sama proyek.

 

31 Agustus 2018

Idrus Marham resmi mengenakan baju orange, dengan status tahanan KPK, dengan tuduhan menerima uang suap Rp4,8 M.


TOPIK BERITA TERKAIT: #kasus-suap-proyek-pltu-riau #setya-novanto #korupsi 

Berita Terkait

IKLAN