Rabu, 21 November 2018 09:48 WIB
pmk

Headline

BI Yakin Mampu Lewati Tekanan terhadap Rupiah

Redaktur:

INDOPOS.CO.ID - Rupiah masih terus melemah. Bahkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika semakin  mendekati kurs saat kriris tahun 1998 lalu, yakni Rp 15 ribu. Adapun pelemahan rupiah disebabkan faktor eksternal, yakni gejolak perekonomian dunia. Perang dagang AS-China.  Termasuk krisis di emerging market Turki dan Argentina.

Pada Jumat (31/8) kurs tengah rupiah terhadap dollar Amerika berada diposisi Rp 14.711. Adapun kurs jual 14.785 dan beli Rp 14.637. Sejumlah bank bahkan ada yang  menjual perdollar Rp 14.900.

Terkait pelemahan rupiah, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, rupiah yang saat ini berada di kisaran 14.700 per dolar, karena ada permasalahan negara lain di argentina.

"Artinya semua negara di Asia Tenggara termasuk Malaysia dan Thailand hampir nggak ada tekanan. Tetapi kemarin dia juga melemah mata uangnya. Semua negara di kawasan ini mengalami itu dan memang ada unsur agak surprise juga urusan Argentina ini," ujarnya kepada wartawan Jumat (31/8).

Argentina menurutnya, sudah mendapatkan bantuan dari IMF sebesar USD 50 miliar. Semestinya sudah survive dengan bantuan itu.  Namun, gerakan capital outflow di Argentina makin besar. Bahkan sampai menaikkan bunga sampai 60 persen.

"Itu sudah tingkat yang luar biasa, sehingga biasanya kalau pasar sudah gitu,  Wah ini nggak beres. Tapi ya pasti negara yang memang mempunyai masalah yang cukup mendalam soal neraca pembayaran, pasti akan ada saja cara terpengaruh," jelas Darmin.

Disinggung apakah ada dampaknya ke Indonesia, Darmin mengatakan, sama seperti Turki, hanya sentimen ke pasar.

"Bahkan lebih sedikit lagi karena dengan Amerika Latin, hubungannya sedikit sekali dibandingkan hubungan dengan Turki," jelasnya.

Adapun tekanan ke pasar obligasi, pasar saham, pasar uang sama.

Artinya secara umum akan ada dampaknya.  "Sampai dia kemudian ada jalan keluar bisa direm di sana, baru kemudia dia tenang secara global. Negara paling maju, seperti Inggris semua kena bukan cuma negara berkembang," jelas Darmin.

Rupiah bisa naik lalu turun lagi sedikit. The Fed juga berencana menaikan suku bunga. Indonesia, harus mengambil langkah-langkah menyesuaikan itu.

"Nah itu berarti kita akan kena dampaknya. Baik di tingkat bunga, inflasi, mungkin lama-lama inflasi kita terpengaruh karena imported inflation. Tapi sejauh ini belum. Artinya core inflation naik sedikit tetapi masih di bawah 3,5 persen," jelas Darmin. Sebab dampak nilai tukar terhadap inflasi melalui core inflation walaupun core inflation banyak barangnya, bukan hanya impor.

"Namun, yang pasti bukan pangan atau administered prices. Sekarang ini ada kenaikan dilihat dari kalau kita akumulasikan sampai Agustus, tapi belum besar kenaikannya," pungkasnya.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, ketahanan ekonomi Indonesia cukup kuat. Tidak ada tanda-tanda atau satupun indikator yang menggambarkan bahwa kondisi nilai tukar rupiah bakal bernasib seperti Lira Turki maupun Peso Argentina.

BI meyakini, Indonesia bisa melewati tantangan global tahun ini. Pihaknya mewaspadai dampak dari Argentina dan Turki.

"Ketahanan ekonomi kita kuat, dan kami komitmen bersama bersinergi antara pemerintah, BI, OJK agar kebijakan tetap prudent. Apakah moneter, fiskal, atau kebijakan di sistem keuangan," ujarnya kepada wartawan Jumat (31/8).

Sementara itu, seperti pernah diberitakan, Ekonom dari UGM Tony Prasetiantono saat  ditemui di acara diskusi Strategi Dalam Menghadapi Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar AS, dalam Menghadapi Perekonomian Indonesia, di Jakarta, Selasa lalu (14/8)  mengatakan, pelemahan mata uang hampir terjadi global di emerging market. Gejolak mata uang dunia, ditambah lagi ada perang dagang AS dan China memperburuk ekonomi dunia.

"Tekanan faktor eksternal tersebut, membuat rupiah tertekan," pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Nanang Hendarsah, Kamis (30/8) mengatakan, tekanan terhadap Rupiah  dipicu oleh revisi data PDB AS triwulan II. Yakni dari 4,1 persen menjadi 4,2 persen.  Kemudian langkah Public Bank of China (PBoC) memperlemah mata uang Yuan di tengah negoisasi sengketa dagang AS dan China yang belum tercapai, serta melemahnya mata uang Argentina Peso dan Lira Turkey. 

"Bank Indonesia terus berada di pasar untuk memastikan pelemahan Rupiah tidak cepat dan tajam.  Bank Indonesia juga masuk ke pasar SBN melakukan stabilisasi," pungkasnya. (cr-2/dai)


TOPIK BERITA TERKAIT: #bank-indonesia #nilai-tukar-rupiah 

Berita Terkait

Pasar Optimistis, Investasi ‘Wait and See’

Headline

Cegah Melemah, Transaksi Pakai Rupiah

Nasional

IKLAN