Rabu, 26 September 2018 02:14 WIB
pmk

Nasional

Bedah Buku Paradoks Indonesia, Prabowo Merasa Seperti Kampanye

Redaktur: Redjo Prahananda

Prabowo Subianto ketika menghadiri bedah buku Paradoks Indonesia. Foto : Jaa Rizka Pradana / INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Prabowo Subianto merasakan atmosfer layaknya kampanye dalam acara bedah buku karyanya bertajuk 'Pradoks Indonesia'. Betapa tidak, ketika calon presiden itu masuk ke ruangan yang dipenuhi ratusan emak-emak, akademisi, politisi hingga warga meneriakkan Prabowo presiden.

Teriakan ganti presiden tak ketinggalan bergema di ballroom Hotel Sahid yang cukup luas tersebut.

"Begitu banyak cendekiawan, dosen, yang paling bersuara emak-emak. Saudara-saudara ini forum akademis ibu-ibu. Ini suasananya seperti rapat kampanye di kabupaten," ujar Prabowo, Sabtu (1/9/2018).

Dalam acara yang diinisiasi oleh Institute Mardani Nusantara tersebut, Prabowo banyak berbicara mengenai peran ideal suatu bangsa terhadap rakyatnya. Ia membandingkan pandangannya tersebut dengan realitas yang terjadi di lapangan, di mana kriminalisasi, kelaparan, ekonomi serta kekayaan Indonesia masih jauh panggang dari api.

Ketua Umum Partai Gerindra itu mengatakan, ada suatu ciri khas bangsa-bangsa di dunia ini seperti bangsa yang banyak bicara dan banyak bekerja, bangsa yang sedikit bicara banyak bekerja, bangsa yang banyak bicara sedikit bekerja serta bangsa yang sedikit bicara sedikit bekerja.

"Indonesia tergolong yang mana? Orang lain bicara Indonesia ini aneh. Bicara apa kerjanya apa. Jadi bingung gitu, apalagi para pimpinanya, bicaranya apa kerjanya apa. Bukan saya yang ngomong tapi orang lain yang nilai," urainya.

Kemudian eks-Danjen Kopassus itu menjelaskan struktur status masyarakat yang ada di Indonesia seperti cendekiawan, militer, ulama, politisi, akademisi, ekonom yang mempunyai perannya masing-masing dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Prabowo menyebut mereka dengan para elit yang disegani. Kata dia, ketika sebuah bangsa mengalami kesulitan, perubahan perbaikan bisa saja datang dari para elit ini.

Sedangkan kaum emak-emak, bagi Prabowo adalah kaum intelektual. Kelompok ini mempunya suatu kemampuan menilai dan menganalisa keadaan tapi dia memiliki perasaan. Dalam seumur hidup, seorang ibu punya tanggung jawab terhadap anak dengan rela berkorban demi sang buah hati.

"Jadi kalau seorang ibu melihat sesuatu kekayaan negara dicuri nanti sisanya apa untuk anaknya sekolah? Walaupun ada ibu miskin mana ada ingin anaknya miskin. Itu apa kita bernegara kalau anak cucu kita melarat, kan demikian," urai Prabowo.

"Jadi inilah yang kita hadapi sekarang suatu keadaan yang saya sebut kejanggalan. Indonesia ini paradoks, negara begitu kaya tapi rakyatnya miskin dan banyak lagi di ambang kemiskinan. Jadi kalau dihitung semuanya rakyat tidak hidup bahagia. Padahal tujuan suatu negara adalah yang disebut life Liberti and the pursuit of happiness," pungkasnya. (jaa)


TOPIK BERITA TERKAIT: #bedah-buku-paradoks-indonesia #prabowo-subianto 

Berita Terkait

IKLAN