Minggu, 18 November 2018 04:47 WIB
pmk

Nasional

Para Korban Gempa Butuh Rumah Sementara Bukan Kandang Kambing

Redaktur: Redjo Prahananda

INDOPOS.CO.ID - Para korban gempa Lombok membutuhkan rumah sementara (Rumatara). Sehingga setiap keluarga dapat berkumpul utuh tanpa terpisah-pisah anggota keluarganya.  

Direktur Utama Dompet Dhuafa Filantropi, drg. Imam Rulyawan MARS., mengatakan, Dompet Dhuafa memiliki desain konstruksi untuk Rumah Ramah Gempa. Desain ini disiapkan untuk fase transisi respon ke recovery sambil menunggu rekonstruksi dari Pemerintah. 

"Dari semua kanal jaringan Dompet Dhuafa, termasuk CSR, BUMN dan Pemerintah melalui BNPB dan PUPR, direncanakan akan dibangun 15 ribu unit," ujarnya Sabtu (1/9/2018).

Dengan Dompet Dhuafa ini, sambungnya, berharap agar dalam masa transisi menunggu pemulihan kondisi oleh Pemerintah. Dengan rumah sementara ini, masyarakat secepatnya berkumpul sebagai satu keluarga yang utuh, dan mulai menata kehidupan mereka ke depan. 

"Sambil menunggu bantuan pemerintah sampai ke mereka," tandas drg. Imam Rulyawan, MARS.

Hingga kini, dengan data terupdate pada Jumat (31/8/2018) lalu, tercatat sudah 560 orang meninggal dunia akibat gempa bumi. Dari data yang dihimpun diantaranya di Kabupaten Lombok Utara 466 orang, Lombok Barat 40 orang, Lombok Timur 31 orang, Kota Mataram 9 orang, Lombok Tengah 2 orang, dan Kota Denpasar 2 orang. 

Selain itu, sebanyak 1.469 orang luka-luka, pengungsi tercatat 396.302 jiwa tersebar di ribuan titik. Sedangan sebanyak 83.392 rumah rusak berat, 3.540 fasilitas umum dan sosial rusak.

Dompet Dhuafa terus melakukan pergerakan dengan berbagai program, salah satu yang di inisiasi yaitu Rumatara (Rumah Sementara) bagi ribuan pengungsi yang saat ini masih menempati pos pengungsian di wilayah Lombok dan sekitarnya. Rumatara yang dibangun sudah melalui tahap uji coba untuk tingkat kenyamanan.

"Sekarang kami bersyukur ternyata Dompet Dhuafa memberikan Rumah Sementara (Rumtara) di Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, Lombok Utara.  Desa ini jarang mendapat perhatian apalagi jaraknya juga jauh dari kota Mataram sendiri berjarak 50 Km dengan waktu perjalanan 2,5 jam yang menanjak perbukitan," ucap Harimuni warga setempat.

Harimuni menambahkan, sudah dua malam kami huni Rumtara ini. Enak, nyaman, tidak seperti berada di tenda dan kandang kambing yang kami tempati sebelumnya. "Apalagi  sebelumnya kandang kambing ini bau sekali, berukuran 3x3 meter berisi 3 keluarga. Belum lagi ditempat pengungsian juga sangat terbatas baik fasilitas listrik, air maupun sanitasi," tambah dia. 

Dompet Dhuafa merespon cepat bencana gempa bumi Lombok, dan telah menurunkan tim rescue dari Disaster Management Center (DMC), Psychological First Aid, Dapur Umum, Dapur Keliling, Tenaga Medis seperti Dokter Spesialis Bedah dan Spesialis Penyakit Dalam, Dokter Umum, Perawat, Bidan serta aktivis kemanusiaan lainnya. 

Selain kegiatan Dapur Keliling, terdapat Aksi Layanan Sehat (ALS), pendirian pos pengungsian, pendirian Dapur Umum, pembangunan MCK sementara, pembangunan Masjid sementara, inisiasi pendirian Sekolah Darurat, Sekolah Ceria, Layanan Dakwah, pengadaan pipanisasi untuk 1.300 pengungsi korban gempa.

Selain itu, distribusi tandon air, serta Motor Kilat, yang berkeliling melayani kebutuhan kesehatan untuk mobilitas ke beberapa wilayah terpencil, dan sulitnya medan karena akses terputus.(Adl/vera)


TOPIK BERITA TERKAIT: #korban-gempa-butuh-rumah-sementara #gempa-lombok #dompet-dhuafa 

Berita Terkait

CBA Minta Pemerintah Tidak PHP Korban Gempa Lombok

Nasional

Gelar Acara Mewah, PHP Korban Gempa

Nasional

Kemensos Kehabisan Dana untuk Lombok

Headline

IKLAN