Minggu, 18 November 2018 07:36 WIB
pmk

Nasional

Cara Kartel Pangan Meraup Profit di 2018

Redaktur: Redjo Prahananda

Rizal Ramli

INDOPOS.CO.ID - Merujuk Angka Tetap (ATAP) Badan Pusat Statistik (BPS), dalam kurun waktu dua tahun terakhir 2016-2017, ekspor hasil pertanian meliputi komoditas tanaman pangan, perkebunan, peternakan dan hortikultura terjadi kenaikan.

Beberapa komoditas pertanian dengan kenaikan ekspor menonjol antara lain beras, bawang merah dan jagung. Selain itu, komoditas pertanian lain seperti nanas, salak, daging ayam, telur unggas, kelapa, kelapa sawit, kopi, kakao, karet, pala dan teh mengalami kenaikan signifikan.

Pada 2016, volume ekspor hasil pertanian hanya 35,49 juta ton, nilanya USD 26,73 miliar. Sementara di tahun 2017 naik menjadi 41,26 juta ton, nilainya cukup fantastis yakni USD 33,05 miliar. Hasil, volume dan nilai neraca perdagangan sektor pertanian tahun 2016-2017 surplus. Masing-masing 97,06 persen dan 45,85 persen.

Namun demikian di tahun 2018 ini, impor pangan tidak terkendali. Ekonom Senior, Rizal Ramli menyebut, lonjakan volume impor pangan disebabkan kebijakan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. Misal, impor beras mencapai 2 juta ton dan gula 1,1 juta ton.

“Biang kerok Mentri Perdagangan Enggar ! Rugikan petani dan petambak garam,, dan grogoti elektibilitas @jokowi,” demikian kicau Ekonom senior Dr Rizal Ramli dalam akun twitter pribadinya @RamliRizal.

Menteri Perekonomian era Presiden Gusdur itu lantas menjawab pertanyaan dari akun twitter @AndyHan terkait impor pangan terus menerus. Baru-baru ini pemerintah mengimpor Impor beras dan sekarang gula

“Seingat saya @RamliRizal pernah bahas di IBF, saya nggak mau menyimpulkan, makanya saya tag pak RR, siapa tau beliau berkenan menjelaskan dengan singkat, kenapa hal ini terjadi terus menerus, yg baru lalu Beras skrg Gula,” tanya @_AndyHan kepada Rizal Ramli.

“Kartel impor pangan, dapat keuntungan puluhan trilliun,, memang sengaja melakukan impor sewaktu panen. Sehingga petani tebu, padi dan bawang tahun depan mengurangi produksi. Tercipta “ketergantungan permanen”. Jahat sekali,” jawab RR sapaan akrabnya.

Sebelumnya, RR meminta pemerintah untuk lebih memperhatikan petani. Menurutnya, impor beras justu semakin membawa petani dalam jurang kemiskinan.

“Jangan jadi raja tega gitu loh,” kata Rizal Ramli, saat memanen padi bersama kelompok petani di Desa Penggalang, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang, Banten, Selasa (13/02/2018).

“Kalau perlu banget, saya juga enggak keberatan import, tapi di aturlah momentum impor. Pas paceklik baru import, atau kalau muncul badai El Nino baru butuh impor, Anak SD juga ngerti, masa menteri harus diajarin anak SD,” sambung Rizal.

ARAM I BPS 2018, produksi beras bulan Januari - Agustus 2018 diperkirakan 39,37 juta ton. Sementara dari hitungan Badan Ketahanan Pangan Kemengan, diperkirakan kebutuhan konsumsi beras pada periode ini sebesar 21,57 juta ton.

Dengan begitu terdapat surplus 17,81 juta ton. Kelebihan produksi beras tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan beras selama 4 bulan ke depan. Bahkan kegiatan panen masih ada yakni akan berlangsung selama 4 bulan ke depan, maka ketersediaan beras akan terus bertambah. (Adv)


TOPIK BERITA TERKAIT: #cara-kartel-pangan-meraup-profit 

Berita Terkait

IKLAN