Minggu, 18 November 2018 09:43 WIB
pmk

Nusantara

Fenomena Monyet Hantu, Nikmati Santap Siang ala Rimbawan

Redaktur:

JADI IKON - Seorang bocah Minahasa selfie dekat poster Tarsius Spectrum. Riznal Faisal/INDOPOS

Jambore Nasional dan Pameran Konservasi Alam di Taman Wisata Alam (TWA) Batu Putih, Bitung, Sulawesi Utara, berakhir lebih awal. Perhelatan yang diikuti 300 peserta yang sedianya berlangsung 28-31 Agustus itu, justru ditutup Kamis (30/8), sehari lebih cepat. Meski begitu, pesan harmonisasi alam dan budaya yang ingin disampaikan tetap menguat.

RIZNAL FAISAL, BITUNG

INDOPOS.CO.ID - Tarsius Spectrum menjadi legenda di Minahasa. Monyet terkecil di dunia itu menjadi magnet di TWA Batu Putih. Ukurannya yang hanya sekepal tangan anak kecil itu dan spesiesnya yang langka, menjadi daya tarik wisatawan asing dan local. Tak terkecuali peserta jambore nasional yang datang dari seantero nusantara.

 “Pagi-pagi tadi saya sempat nyari. Ada terdengar suara lengkingan kecil, ‘kik…’, yang saling bersahutan. Saya menduga itu suara Tarsius. Tapi, tidak ketemu (wujudnya). Saya justru melihat Yaki (monyet hitam Sulawesi),” kata staf Taman Nasional (TN) Gunung Kerinci Taufiqurrahman yang menjadi peserta jambore kepada INDOPOS.

Kepala Resort Simbalun itu memang sudah dua subuh ngetem di hutan dekat pantai, habitat dimana monyet hantu itu sering terlihat. Namun, usaha pria 41 tahun itu tak membuahkan hasil. Rasa penasaran masih menggelayutinya. 

“Subuh besok, sebelum pulang (ke Lombok), saya ingin kembali ke lokasi itu. Mudah-mudahan saya bisa melihatnya,” kata ayah dua anak asal Desa Sembalun, Kecamatan Sembalum, Lombok Timur itu.

Tak hanya Taufiq yang penasaran. Sejumlah peserta jambore  rupanya juga tertarik melihat primata berwarna kelabu bermata besar itu di habitatnya. Tapi, sama seperti Taufiq, mereka juga belum beruntung. “Saya sudah beberapa kali kesana (hutan dekat pantai). Tapi, belum pernah ketemu,” kata Yohanes W Joni, staf Taman Nasional (TN) Kalimutu.

Pria 45 tahun itu, sama seperti teman-temannya yang lain, merasa penasaran tentang primata seberat 113-142 gram itu. Ia juga mendengar, kalau monyet ekor panjang tersebut hanya beraktivitas pada malam hari dan istirahat siangnya. “Pingin sih melihat binatang unik dan langka tersebut. Tapi, bagaimana caranya?” tanya ayah empat anak itu.

Adalah Jay, petugas Taman Nasional (TN) Siberut, yang telah berulang kali melihat hewan kecil bernama lokal Tangkasi, di hutan sekitar pantai Batu Putih. Lelaki berperawakan kurus ini bahkan tahu persis populasi keluarga Tarsius yang mendiami sebuah pohon beringin di sana.

“Saya melihatnya pagi tadi, sekitar jam 6. Seingat saya, sebelumnya jumlahnya 6 ekor. Tapi kini ada 7 ekor. Populasinya sudah bertambah,” kata lelaki berkulit gelap itu.

Menurut Jay, monyet kecil itu hanya bisa ditemukan saat malam hari. Aktivitas binatang itu bisa diamati antara pukul 22.00 sampai 06.00 pagi. Di luar waktu itu, kawanan binatang pemakan serangga ini bersembunyi di lubang-lubang pohon, seperti pohon beringin, yang menjadi tempat tinggal mereka. 

“Binatang ini sengaja keluar saat gelap untuk menghindari Yaki, monyet besar yang menjadi penghuni hutan disini,” kata Jay. 

Yaki yang bernama latin Macaca Nigra juga merupakan jenis monyet langka dan dilindungi. Namun, lantaran tubuhnya berukuran besar sehingga menjadi ancaman bagi Tarsius yang mungil. Lucu juga mengetahui dua binatang yang langka hidup dalam waktu yang berbeda dalam habitat yang sama.

“Tarsius dan Yaki menjadi ikon di taman wisata ini,” kata Jay yang sering berkunjung ke TWA Batu Putih.

Selain fenomena Tarsius, ada kesan lain saat mengunjungi lokasi jambore di Batu Putih. Salah satunya, saat menikmati makan siang di dapur umum peserta jambore. Untuk mendapat jatah nasi, orang-orang harus antre. Setelah piring berisi nasi, sasaran beralih ke sebuah meja, yang ditunggui sejumlah ibu-ibu, yang bertugas membagi jatah ikan bakar dan sayur kol.

 “Wah, seru juga ya,” kata Royke Mamboh begitu piringnya terisi penuh, sambil celingak-celinguk cari tempat untuk duduk. 

Royke menatap sekeliling. Ada yang selonjor di bawah pohon, duduk di pinggir jalan, atau makan di dalam tenda. Tak satupun kursi terlihat. Royke pun sadar, tak akan menemukan tempat yang benar-benar nyaman untuk menikmati santap siangnya. Sopir mobil rental itu akhirnya menemukan tempat di sisi jalan yang agak teduh.

“Ini makanan ala rimbawan,” kata seorang peserta jambore melihat kebingungan Royke. Rimbawan merupakan sebutan untuk orang yang bekerja di hutan atau institusi kehutanan. Royke mengganguk seolah mengerti. 

Selesai makan, dia pun celingak-celinguk lagi untuk mencari gelas atau cangkir untuk minum. Ada beberapa gelas terlihat di atas meja. Tapi sepertinya bekas diminum orang. Sebagian orang terlihat membawa botol minuman untuk mengambil air dari sebuah galon yang dimiringkan sedemikian rupa.

Seorang ibu menyuruh Royke mengambil gelas di tempat cuci piring yang tak jauh dari situ. Setelah gelas didapat, dia pun mengambil air dari galon yang diletakkan miring itu. “Benar-benar butuh perjuangan,” ujar ayah dua anak itu sambil tertawa. 

Beruntung, esok paginya saat lelaki asal Tomohon itu kembali harus ke dapur umum, semuanya tertata rapi. Deretan piring berisi nasi, sepotong telur dadar dan sambel, tersusun rapi di atas meja. Tinggal ambil saja. Namun, mengingat pengalaman sehari sebelumnya, Royke membawa botol minuman untuk mengisi stok minumnya.  

“Kita dilarang membawa aqua gelas. Jadi harus bawa botol minuman sendiri. Ini area lost plastic,” kata M Firdaus, petugas Taman Nasional (TN) Tesso Nelo, Pelalawan, Riau. “Selama mengikuti jambore nasional ini, kita memang mendapat pelajaran yang berharga dalam pengelolaan ekosistem alam,” ujar pria 48 tahun ini.

Semua akan dimulai dari Taman Wisata Alam Batu Putih. Sebuah taman seluas 615 hektar yang memiliki keanekaragaman fauna dan flora yang endemik serta pemandangan yang indah dan menarik. Objek wisata yang berjarak 20 km dari Kota Bitung atau sekitar 80 km dari Kota Manado. Titik awal dari spirit harmonisasi alam dan budaya. (*)


TOPIK BERITA TERKAIT: #boks #feature 

Berita Terkait

IKLAN