Selasa, 25 September 2018 04:16 WIB
pmk

Kesehatan

Penderita Skizofrenia Ada di Sekitar Kita

Redaktur:

Ilustrasi.

INDOPOS.CO.ID - Masalah kesehatan di masyarakat tak hanya secara fisik. Kesehatan jiwa tak boleh luput dari perhatian. 

Data Riset Kesehatan Dasar 2013 menunjukkan, di Indonesia prevalensi gangguan jiwa emosional meningkat. Dicirikan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan untuk usia 15 tahun mencapai 14 juta orang atau 6 persen dari dari penduduk Indonesia. 

Skizofrenia merupakan penyakit jiwa terberat dan kronis yang sampai saat ini tidak diketahui satu penyebab pastinya.

Meski begitu, banyak faktor berkontribusi terhadap terjadinya skizofrenia. Prevalensi gangguan jiwa berat seperti skizofrenia mencapai sekitar 400 ribu atau sebanyak 1,7 per seribu penduduk.

Mulai dari faktor genetis, kondisi pra-kelahiran, cedera otak, trauma, tekanan sosial, hingga stres bisa menyebabkan gangguan mental ini. Pemakaian narkotika dan obat-obatan psikotropika pun bisa menjadi faktor pemicu skizofrenia.

Ketua Persatuan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia, dr Eka Viora SpKJ menjelaskan, kesehatan jiwa, khususnya skizofrenia, masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang terabaikan. Padahal, gangguan jiwa tersebut merupakan penyakit jiwa terberat dan kronis. 

Skizofrenia merupakan penyakit seumur hidup yang menjadi beban bagi penderitanya. ''Gejala pertama biasanya muncul pada masa remaja atau dewasa muda. Walaupun ada juga yang baru muncul ketika usianya di atas 40 tahun,'' ujarnya di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (30/8) lalu.

Periode awal dari psikosis yang tak ditangani dapat memperburuk kondisi pengidap skizofrenia. Penderita memiliki gangguan dalam memproses pikirannya.

Sehingga muncul halusinasi, delusi, dan pikiran tak jelas. Akibatnya, mereka kerap kali menunjukkan perilaku tak wajar. 

Hal tersebut membuat para penderitanya mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain. Beberapa orang yang mengalami skizofrenia bahkan menarik diri dari dunia luar. 

Aktivitas sehari-hari mereka pun menjadi tidak produktif dan berpengaruh buruk bagi perkembangan karir penderita. Banyak penderita yang akhirnya berhenti kerja akibat penyakit tersebut.

Eka menerangkan, penderita skizofrenia membutuhkan pengawasan intensif. Pihak keluarga harus menghabiskan waktu 15 jam setiap minggu untuk mengawasi penderita skizofrenia. 

Hal itu tentu bisa membuat pihak keluarga merasa lelah dan kehilangan. Sehingga dapat mengganggu pekerjaan, kehidupan sosial, dan kehidupan berkeluarga mereka. 

''Apabila tidak diterapi dengan baik, skizofrenia akan mengakibatkan kekambuhan. Semakin sering kekambuhan terjadi, kondisi pasien akan semakin menurun. Otomatis risiko kerusakan otak permanen menjadi semakin besar,'' katanya.

Sayangnya, seperti gangguan mental lainnya, penderita skozofrenia juga sering mendapat stigma buruk dari masyarakat. Padahal, hal ini bisa memperparah kondisi mereka.

Padahal, pada dasarnya penderita skizofrenia mengalami kesulitan berinteraksi dengan orang lain. Bahkan tak jarang mereka menarik diri dari aktivitas sehari-hari di lingkungan keluarga dan dunia luar.

Karena hal tersebut, maka lingkungan sosial, termasuk keluarga yang memiliki peran penting dalam skizofrenia. ''Kalo depresi mekanisme perempuan dan laki-laki ada perbedaan. Kalau perempuan mungkin bisa curhat, tapi stigma masyarakat sering membuat pernyataan laki-laki tidak boleh cengeng. Itu yang membuat laki-laki sulit mencari penyelesaian masalahnya, yang kemudian menjadi depresi,'' tambahnya.

Dampak buruk dari skizofrenia, menurut Eva, penderita biasanya akan mendengar bisikan dan melihat halusinasi. Kecenderungannya bisikan untuk melakukan tindakan buruk. Seperti, bunuh diri, membunuh seseorang, dan menghancurkan sesuatu. 

Untuk itu, uluran bantuan dari semua pihak diperlukan, terutama oleh keluarga. Terapi Skizofrenia tidak bisa berjalan dari satu sisi saja. Biasanya, terapi ini merupakan kombinasi antara pengobatan dan psikoterapi.

Pengobatan diperlukan untuk menurunkan gejala skizofrenia. Sedangkan psikoterapi dapat membantu pasien untuk memahami, menerima dan menjalani penyakitnya. 

''Oleh karenanya, keluarga berperan penting dalam penyembuhan. Dalam skizofrenia, keluarga berperan penting. Keluarga diberi edukasi paling tidak bagaimana untuk membuat (pasien) patuh minum obat. Keluarga juga diajari gejala ketika skizofrenia kambuh. Keluarga harus sadar pada gejala-gejala itu,'' jelas Eka.

Meski penyembuhan skizofrenia adalah sebuah jalan panjang, namun kembali Eka menegaskan, skizofrenia bisa disembuhkan. ''Yang penting adalah ketika dia sudah didiagnosis, kemudian ada support dari lingkungan terutama, yang tidak mendiskriminasi dia, itu dia akan jauh lebih baik pengobatannya,'' katanya.

Di tempat yang sama, Diah Ayu Puspandari, selaku Ketua Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan (KP-MAK) Universitas Gadjah Mada (UGM) mengatakan, untuk memberikan pengobatan skizofrenia yang efektif dan efisien, diperlukan model manajemen layanan yang komprehensif. Ditambah, dengan mekanisme pembiayaan yang memadai. 

Panduan yang dirumuskan bersama dalam forum ini merupakan langkah pertama dalam mengembangkan model manajemen pembiayaan yang ideal untuk layanan skizofrenia. ''Skema pembiayaan melalui sistem asuransi nasional dan swasta di masing-masing negara di Asia Tenggara perlu memasukkan pembiayaan kesehatan jiwa. Termasuk skizofrenia. Sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan masyarakat yang meliputi kesehatan fisik dan jiwa,'' paparnya.

Menurut Diah, mengingat skizofrenia adalah penyakit kronis yang membutuhkan penanganan yang sangat lama, diperlukan model layanan non-stigma. Mudah didapatkan, ramah-pasien, dan tidak diskriminatif.

Khususnya untuk menyediakan layanan yang berkelanjutan dan komprehensif dengan pembiayaan yang memadai. Hal senada diutarakan Anung Sugihantono, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan.

Dia mengatakan, pembangunan kesehatan manusia perlu memasukkan kesehatan fisik dan kesehatan jiwa sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan. ''Indonesia adalah salah satu negara yang berkomitmen untuk mewujudkan perbaikan kesehatan jiwa. Sebagai upaya untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (SDGs),'' ungkapnya.

Untuk itu, dalam forum yang diselenggarakan Johnson & Johnson, para ahli kesehatan jiwa terkemuka dari wilayah Asia Tenggara bertemu dan saling berbagi pembelajaran. Mereka mengembangkan strategi untuk mengatasi kesenjangan dalam manajemen kesehatan mental. 

Lebih dari 150 peserta yang berasal dari kalangan dari bisnis, pemerintah, organisasi internasional, masyarakat sipil, akademisi dan media berpartisipasi dalam forum tersebut. (dew)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kesehatan #skizofrenia 

Berita Terkait

Lawan Stigma dengan Lari Marathon

Lifestyle

Sunglasses Tangkal Katarak Dini

Kesehatan

Seksi Sixpack Tanpa Sit Up

Kesehatan

Ketua MUI : Vaksin MR Wajib

Nasional

Lasik, Tindakan Cepat Persiapan Lama

Kesehatan

IKLAN