Senin, 24 September 2018 10:51 WIB
pmk

Internasional

Mengaku Salah, Arab Saudi Janji Berikan Kompensasi atas Serangan ke Yaman

Redaktur:

KORBAN TAK BERDOSA - Seorang anak Yaman berdiri di samping bus pengangkut anak sekolah yang hancur akibat serangan udara koalisi pimpinan Arab Saudi, di Pasar Dahyan dengan maksud menumpas pemberontak Huthi dari Saada. Namun kesalahan serangan udara itu menewaskan 51 orang termasuk 40 anak-anak. AFP PHOTO/STRINGER

INDOPOS.CO.ID – Kerajaan Arab Arab Saudi tak lagi bisa mengelak. Laporan The Joint Incident Assessment Team (JIAT) pada Sabtu (1/9) menyebutkan bahwa serangan udara di pasar Saada pada 9 Agustus lalu seharusnya bisa dicegah. Bus yang berisi anak-anak yang tengah berkarya wisata semestinya tak menjadi korban serangan bom. Tragedi yang melenyapkan 51 nyawa itu merupakan tanggung jawab Arab Saudi.

”Komando Pasukan Koalisi Gabungan mengungkapkan penyesalan atas kesalahan tersebut dan mengucapkan simpati, belasungkawa, serta solidaritas sebesar-besarnya kepada keluarga korban.” Demikian bunyi pernyataan pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi yang dimuat di kantor berita SPA.

Pengakuan itu terbilang jarang. Mereka rencananya berkoordinasi dengan pemerintah Yaman untuk memberikan kompensasi. Selain itu, bakal meninjau ulang operasi mereka di negara tersebut. Awalnya Arab Saudi menolak disalahkan. Mereka berdalih bahwa sasarannya adalah pelontar misil yang digunakan untuk menyerang Arab Saudi. Pasukan koalisi bahkan menuding pemberontak Houthi sengaja menggunakan anak-anak sebagai tameng.

Namun, desakan dari berbagai pihak serta negara-negara Amerika dan Eropa membuat mereka berpikir ulang. Pasukan koalisi akhirnya membentuk tim independen JIAT untuk melakukan penyelidikan. JIAT menyatakan bahwa serangan itu tak bisa dibenarkan. Semua pihak yang terlibat di dalamnya diminta untuk bertanggung jawab.

JIAT juga mengungkapkan bahwa serangan udara di pasar Provinsi Saada itu dilakukan berdasar informasi intelijen yang menyebut di dalam bus ada para pemimpin Houthi. Tapi, ada perintah bahwa serangan itu ditunda. Perintah tersebut lantas tak sampai ke si pilot pesawat tempur. Kesalahan komunikasi itu harus diselidiki.

”Tim meyakini bahwa pasukan koalisi harus segera meninjau keterlibatannya untuk memastikan tidak ada aturan yang dilanggar,” ujar Mansour Ahmed Al Mansour, penasihat hukum JIAT, seperti dilansir Reuters. Serangan Arab Saudi memang membabi buta. Sejak awal terlibat perang di Yaman, mereka sudah puluhan kali menyasar fasilitas umum yang banyak digunakan penduduk sipil. Mulai pasar, sekolah, pesta pernikahan, upacara pemakaman, permukiman penduduk, hingga rumah sakit yang didirikan para relawan. Korban jiwa mencapai ribuan orang.

Di tempat terpisah, Human Rights Watch (HRW) menyerukan agar tak ada lagi negara yang menjual senjata ke Arab Saudi. Menurut HRW, serangan yang dilakukan Arab Saudi itu adalah kejahatan perang. Lembaga ataupun negara yang menyuplai senjata untuk serangan tersebut bisa dianggap terlibat.

Salah satu senjata yang dipakai untuk mengebom bus berisi anak-anak itu adalah bom GBU-12 Paveway II. Itu diproduksi Lockheed Martin, penyuplai senjata Pentagon. ”Negara-negara yang tahu rekam jejak Arab Saudi tapi tetap menyuplai lebih banyak bom, maka mereka bakal terlibat dalam serangan mematikan terhadap penduduk sipil ke depan,” tegas peneliti senior urusan hak anak-anak di HRW  Bill van Esveld. (sha/c10/sof/jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #serangan-bom #arab-saudi 

Berita Terkait

Akhirnya Perempuan di Arab Boleh Nyetir

Internasional

Black Panther Siap Gebrak Bioskop Saudi

Internasional

Saudi Redam Kritik soal Israel

Internasional

Gerakan Modernisasi Arab Saudi

Internasional

IKLAN