Sabtu, 22 September 2018 04:25 WIB
pmk

Banten Raya

TPA Jatiwaringin Timbulkan ISPA

Redaktur:

Foto : Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID - Masyarakat mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang menutup tempat pembuangan akhir (TPA) Jatiwaringin. Alasannya, pengelolaan limbah yang dilakukan dengan cara dibakar menimbulkan penyakit di sekitar lokasi. Akibat itu pula banyak warga menderita inspeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Salah satu warga Kampung Jungkel, Sandy Mulyono mengatakan, desakan penutupan TPA Jatiwaringin itu telah diajukan warga yang berdomisili di Desa Rajeg Mulya, Kecamatan Rajeg. Sebab, asap tebal dari pembakaran limbah masyarakat ini mendatangkan sejumlah penyakit yang menyerang warga. Pembakaran sampah yang dilakukan pengelola TPA itu terjadi sejak enam bulan lalu.

“Ini usulan yang sudah sering diajukan, karena kondisi seperti ini terus kami alami. Memang harus segera ditutup, soalnya sampahnya sudah menggunung. Hampir tiap hari asap pembakaran sampah ini menyelimuti daerah kami,” katanya kepada INDOPOS, Minggu (2/9).

Menurutnya, asap pekat pembakaran sampah di TPA Jatiwaringin itu telah mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat sekitar. “Udara di sini sudah tercemar. Tak sedikit warga yang sesak akibat menghirup asap terbakarnya sampah. Kalau diperiksa dokternya bilang kena ISPA. Pembakarannya mulai dari pagi dan sore hari,” ujar Sandy.

Diakui Sandy, kendati pembakaran sampah telah lama dikerjakan, upaya dari Pemkab Tangerang untuk memadamkan api tak pernah dilakukan. Akibatnya, titik api di TPA semakin banyak dan asap tebal semakin mencemari lingkungan.

“Warga di sini juga tak diberikan pengobatan terhadap masalah yang mereka timbulkan. Kami sudah laporkan ke Kades dan Kecamatan sampai ke dinas terkait. Imbas dari asap ini sampai ke empat desa yang lain,” ucapnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Tangerang, Syaifullah menyatakan, jika jajarannya belum mendapatkan laporan terkait pembakaran sampah TPA Jatiwaringin dari Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) TPA Jatiwaringin dan warga. Mengingat, kegiatan tersebut tak pernah diinstruksikan oleh DLHK. Dirinya menduga terjadinya kebakaran sampah di TPA tersebut dilakukan oleh oknum yang jahil. Sebab, pengolahan sampah di lokasi TPA tidak pernah menggunakan sistem pembakaran.

“Nanti akan kami tanyakan ke UPT Jatiwaringin. Kalau benar, akan kami padamkan. Mungkin terbakar karena cuaca panas atau sengaja dibakar orang. Tidak pernah dibakar karena sangat berbahaya buat lingkungan,” paparnya.

Syaifullah pun menyebut, adapun beberapa cara pengolahan sampah di TPA Jatiwaringin yang diterapkan DLHK. Dari cara pemilahan, komposter hingga daur ulang. Bahkan, cara baru untuk memanfaatkan sampah tersebut pun sedang mereka garap.

Pengamat Lingkungan Hidup UI, Tarsoen Waryono menuturkan, terjadi masalah itu akibat DLHK Kabupaten Tangerang tak konsen melakukan penanganan sampah di TPA. Serta penggalakkan program pemilahan kepada warga juga tak berjalan. Sehingga alternatif yang dipilih dalam mengurangi volume limbah tersebut adalah dengan cara membakar.

“Harusnya ada kajian yang dilakukan, bukan hanya menumpuki saja di TPA. Ini persoalan klasik yang terjadi dan tidak mampu ditangani pemerintah daerah. SDM di Pemkabnya malas menggali informasi soal penanganan sampah,” tuturnya.

Ditambahkan Tarsoen, salah satu upaya yang harus dilakukan Pemkab Tangerang menangani masalah tersebut adalah membuat biogas dan menggalakkan bank sampah. Kemudian juga menciptakan briket dari sampah. Dirinya yakin dengan cara-cara tersebut volume sampah di TPA Jatiwaringin dapat tertanggulangi.(cok)

Alasan Warga Menutup TPA 

-    Sampah di TPA Jatiwaringin sudah menggunung

-    Sudah enam bulan UPT membakar sampah 

-    Asap bakaran menyebabkan polusi udara

-    Banyak warga terserang penyakit ISPA

-    Kadis DLHK Kabupaten Tangerang tidak tahu


TOPIK BERITA TERKAIT: #sampah 

Berita Terkait

IKLAN