Kamis, 15 November 2018 03:48 WIB
pmk

Headline

Rupiah Tembus Rp 14.816

Redaktur:

Grafis IFOED/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - NILAI tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sentuh posisi 14.800 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (3/9/2018). Berdasarkan data RTI, dolar Amerika Serikat (AS) bergerak di kisaran Rp 14.802. Dolar AS perkasa tak hanya terhadap rupiah tetapi juga sejumlah mata uang lainnya.

Dolar AS perkasa terhadap dolar Hong Kong sekitar 0,01 persen. Kemudian dolar AS menguat 0,33 persen terhadap ringgit Malaysia. Dolar AS menguat terhadap dolar Kanada sekitar 0,05 persen, yuan melemah 0,03 persen terhadap dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah tembus 14.816 per dolar AS pada Senin sore. Dolar AS perkasa terhadap rupiah sekitar 0,72 persen. Pada Senin sore, rupiah bergerak di kisaran 14.729-14.816 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada awal perdagangan, rupiah melemah 35 poin ke posisi 14.745 per dolar AS pada Senin 3 September 2018 dari penutupan pekan lalu di kisaran 14.710. Jadi sejak awal tahun, rupiah sudah melemah 9,15 persen terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Sebelumnya diberitakan, nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) lebih dari 20 tahun pada Senin 3 September 2018. Hal itu mendorong bank sentral yaitu Bank Indonesia (BI) akan turun tangan.

Berdasarkan laporan Reuters, BI akan intervensi dalam valuta asing dan pasar obligasi. Pada awal pekan ini, nilai tukar rupiah ke posisi 14.777 per dolar AS. Level itu terlemah sejak 1998. Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS sekitar 8,93 persen sejak awal tahun.

Pada 2018, rupiah menjadi salah satu mata uang berkinerja buruk di regional. Analis menilai, nilai tukar rupiah yang tertekan itu didorong defisit neraca transaksi berjalan dan kekacauan di pasar negara berkembang yang disebabkan krisis keuangan Turki.

"Kepemilikan asing yang tinggi pada obligasi ditambah dengan utang dolar Amerika Serikat perusahaan Indonesia yang meningkat juga membuat (rupiah) cenderung melemah," ujar Ekonom Mizuho Bank, Vishnu Varathan, seperti dikutip dari laman CNBC.

Menurut Moody’s, sekitar 41 persen utang pemerintah dalam mata uang asing. Jika rupiah terdepresiasi lebih lanjut akan membuat utang akan lebih mahal untuk kembali dibayar.

Varathan mengingatkan jika kenaikan kredit meningkat lebih lanjut dan harga minyak tetap tinggi jelang sanksi Iran pada November akan menekan nilai tukar rupiah. “Ketika harga minyak naik itu berkontribusi pada peningkatan tagihan impor negara,” ujar dia. (esa)


TOPIK BERITA TERKAIT: #rupiah-tembus-rp-14816 #dolar 

Berita Terkait

IKLAN