Rabu, 26 September 2018 02:07 WIB
pmk

Total Sport

Tenis Meja Akan Rekonsiliasi

Redaktur:

Foto : Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID - Pengurus Pusat Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PP PTMSI) pimpinan Ketua Umum Oegroseno sukses menggelar pertandingan Asian Games XVIII/2018 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta. Keberhasilan ini makin meningkatkan kepercayaan Persatuan Tenis Meja Asia terhadap kepemimpinan Oegroseno dalam pertenismejaan Indonesia yang tengah dilanda kemelut organisasi.

“Sukses penyelenggaraan ini menjadi modal untuk menyelenggarakan kejuaraan tenis meja Asia di Bali tahun depan. Selain itu kita juga pantas menjadi penyelenggara pertandingan tenis meja Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020. Saya akan segera melaporkan hal ini kepada Kemenpora (Kementrian Pemuda Dan Olahraga) dan juga KOI (Komite Olimpiade Indonesia),” kata Ketua Umum PP PTMSI Oegroseno ketika ditemui di Jakarta, kemarin.

Dengan mendapat kepercayaan mempersiapkan dan menurunkan tim Indonesia dan menyelenggarakan pertandingan pada Asian Games XVIII membuktikan PP PTMSI yang mendapat pengakuan dari pemerintah maupun KOI. 

Ini memperkuat kedudukkan PP PTMSI yang sudah mendapat kekuatan hukum berdasarkan keputusan PTUN dan Mahkamah Agung. Sedangkan kepengurusan organisasi tenis meja lainnya yaitu Pengurus Besar PTMSI pimpinan Ketua Umum Sri Dato’ Tahir sudah dinyatakan cacad hukum oleh Badan Arbitrase Olahraga Indonesia (Baori) sehingga tidak sah.

Meskipun demikian, Oegroseno menyatakan akan tetap melaksanakan rekonsiliasi tenis meja nasional dengan mengundang kepengurusan PB PTMSI pimpinan Ketua Umum Lukman Edy. Langkah itu sudah mulai dilakukan dengan menghadirkan para pengurus provinsi PTMSI dari PP dan PB saat penyelenggaraan pertandingan Asian Games XVIII. Ini dilaksanakan untuk menyatukan dulu pengurus di daerah-daerah yang merupakan ujung tombak PTMSI.

“Banyak yang hadir. Nantinya 18 Pengprov dari PP PTMSI, 12 Pengprov dari PB PTMS pimpinan Pak Lukman kita satukan. Sedangkan empat lagi kita akan usahakan ada wakil dari PB PTMSI kubu Tahir segingga rekonsiliasi nanti akan benar-benar menyatukan tenis meja Indonesia. Kondisi dualisme bahkan sekarang ada tiga kepengurusan PTMSI merugikan tenis meja Indonesia,” kata mantan Wakapolri itu.

Oegroseno menjelaskan, kemelut dalam pertenismejaan nasional telah dimanfaatkan oleh petualang-petualang untuk memecah belah pemain.

Dia mencontohkan saat Asian Games ada pemain yang tiba-tiba tidak mau bertanding saat Indonesia melawan Makau tanpa alasan yang jelas. 

Kemudian persiapan pemain selama di China dan juga saat berada di Indonesia terus diganggu dengan menyebarkan kabar yang tidak benar.

“Hal itu mempengaruhi semangat para pemain dalam membela negara. Saya kaget ketika melaihat semangat mereka menurun. Kalau saja para pemain tetap fokus dan bersemangat, peluang meraih medali di Asian Games sebenarnya cukup terbuka. Namun ulah para petualang itu membuat pemain tidak fokus,” tutur Oegroseno yang didampingi pelatih Haryono.

Da berjanji akan melaporkan semua yang terjadi apa adanya kepada pemerintah dan KOI tentang kejadian selama persiapan dan saat pertandingan Asian Games XVIII. Dari sini diharapkan pemerintah, dalam hal ini Kemenpora yang dipimpin Menteri Pemuda Dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi bisa mengambil keputusan tegas untuk mengakhiri perpecahan di tenis meja nasional. Bila tidak maka pata atlet dan tenis meja Indonesia akan menjadi korban.

“Saya siap buka-bukaan jika diperlukan. Bahkan juga akan terus berjuang berdasarkan kenentuan hukum yang berlaku. Ini negara hukum maka semua harus taat dan menghormati hukum,” katanya. (bam)


TOPIK BERITA TERKAIT: #tenis-meja 

Berita Terkait

Tenis Meja Sertakan 10 Pemain di Asian Games

Total Sport

Ke Baori, Kisruh Tenis Meja Kian Panas

Total Sport

Skuad Pelatnas Tenis Meja Bukan Yang Terbaik

Total Sport

PTMSI DKI Desak Kaji Ulang Pelatnas Tenis Meja

Total Sport

Kemenpora Juara Tenis Meja Beregu Putra Pornas Korpri

Total Sport

IKLAN