Selasa, 18 September 2018 09:11 WIB
pmk

Ekonomi

Rupiah 14.840, Inflasi Mengintai

Redaktur:

Foto : Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID - Pelemahan rupiah terhadap dollar Amerika, dikhawatirkan berdampak kepada inflasi pangan. Berdasarkan data Jakarta interbank spot dollar rate (Jisdor),  Selasa (4/9/2018) kurs rupiah berada di posisi 14.840 perdollar. Atau kembali melemah dibanding Senin kemarin (3/9/2018) di posisi Rp 14.767.

Pengamat Ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef)  Bhima Yudhistira mengatakan, pelemahan kurs rupiah dapat mempengaruhi  daya beli lewat dua transmisi.

"Pertama, beberapa bahan pangan komposisi impornya cukup besar baik langsung maupun tidak langsung (pakan ternak). Ketika rupiah melemah maka menciptakan imported inflation (inflasi yang diakibatkan perubahan nilai tukar)  karena biaya yang dibutuhkan untuk impor meningkat signifikan," ujar Bhima, di Jakarta, Selasa (4/9/2018).

Ia menambahkan, meskipun pada bulan Agustus 2018 mengalami deflasi, namun dilihat perkomponen Inflasi tahun kalender volatile food (harga pangan bergejolak) sejak Januari-Agustus secara akumulasi mencapai 3,3 persen lebih tinggi dibanding tahun 2017 yang hanya 0,71 persen.

"Ini berarti inflasi pangan harus jadi perhatian serius," jelas Bhima.

Adapun transmisi yang kedua adalah inflasi dari sisi harga BBM. Kenaikan harga minyak mentah dunia dikisaran USD 75  per barel membuat harga BBM  non subsidi disesuaikan. Imbasnya pada inflasi disektor transportasi. Jika BBM  mahal, harga pangan dan barang lainnya akan terpengaruh.

"Masyarakat kelas menengah kebawah sangat rentan tergerus daya belinya. Sementara 20 persen masyarakat terkaya akan menahan belanjanya. Konsumsi sampai akhir tahun bergerak di 4,9-5 persen dibawah pertumbuhan ekonomi," pungkasnya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS), Senin  (3/9/2018)  meminta pemerintah untuk memberikan perhatian khusus terhadap komponen harga pangan bergejolak atau volatile food. Sebab meskipun pada bulan Agustus harga pangan deflasi, namun secara tahunan telah terjadi inflasi pada sektor ini yang mencapai 4,97 persen.

"Ke depan ini perlu ekstra hati-hati," ujar Kepala BPS Suhariyanto, Senin (3/9/2018).

Sebelumnya,  Menteri Keuangan Sri Mulyani, usai Rapat Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) di kantor Kemenko Perekonomian Jumat (24/8/2018) mengatakan pemerintah fokus pada  melihat komponen dari masing-masing inflasi tersebut.

Dalam artian pembagian, tiga  komponen pembentuk inflasi yang jadi perhatian BI dan pemerintah
"Yakni inflasi inti (core inflation), inflasi dari volatile food da inflasi yang diakibatkan perubahan nilai tukar (imported inflation).  Kita melihat kepada ketiga komponen tersebut dan apa-apa  yang perlu kita waspadai dan kita lakukan dan penyesuaian kebijakan," pungkasnya.  (dai) 

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #inflasi-mengintai #pelemahan-rupiah-terhadap-dollar-amerika 

Berita Terkait

IKLAN