Kamis, 22 November 2018 02:03 WIB
pmk

Nasional

Gandeng PBNU di Lampung, Mentan Optimistis 2019 Indonesia Surplus Jagung

Redaktur:

INDOPOS.CO.ID - Kementerian Pertanian (Kementan) menggandeng Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) Sumatera dalam meningkatkan produksi jagung di tanah air. Alasannya, tanaman pangan ini sangat cocok tumbuh di beberapa wilayah. Bahkan diprediksi 2019 surplus jagung akan meningkat dibandingkan 2018.

Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman mengatakan, penggandengan PBNU pada masa tanam jagung serentak ini merupakan kerjasama yang telah lama dilakukan. Mengingat jumlah masa tanam di seluruh Indonesia sangat luas. Yakni mencakup seluas 73.051 hektar yang berada di Provinsi Lampung, Bengkulu, Kalimantan Timur, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Jawa Timur.

“Ini untuk meningkatkan surplus jagung di tanah air ditahun depan. Makanya kami gandeng PBNU agar dapat ikut meningkatkan panen jagung dan ini dapat diekspor ke luar negeri. Agar petani juga sejahtara,” katanya saat melaksanakan tanam perdana kagung di Kabupaten Pringsewu, Lampung, Selasa (04/09).

Menurutnya, tanam perdana jagung ini merupakan realisasi dari kerja sama Kementan dengan PBNU di tahun 2018 yang totalnya 100 ribu hektar. Pengandengan organisasi keagamaan ini dimaksudkan guna mendongkrak peningkatan produksi jagung nasional. Dengan tujuan ekspor jagung meningkat dan berdampak langsung pada perekonomian petani.

“Ini sejalan dengan apa yang diinginkan Pak Presiden Jokowi. Salah satunya mengentaskan kemiskinan. Pemerintah sangat menyanyangi masyarakat dan petani,” ujar Amran.

Data kementan pada angka ramalan (ARAM) I produksi tanaman pangan 2018 produksi jagung mencapai 30,05 juta ton. Jumlah itu naik 7,34 persen dari 2017. Salah satu sentra produksi jagung nasional di tanah air berasal dari Lampung yang mencapai 8,6 persen. Target tanam jagung yang akan dicapai diakhir 2018 mencapai 5,73 juta hektat. Untuk Provinsi Lampung luas panen jagung mencapai 486.313 hektar dengan produktivitas 5,3 ton/hektar. Sehingga total produksi mencapai 2,58 juta ton.

Amran menambahkan, dalam empat tahun terakhir, produksi jagung telah meningkat secara signifikan. Dimana, sambung dia, dari data BPS 2014 produksi jagung di Indonesia sebesar 19,0 juta ton. Peningkatan produksi mulai terjadi di 2015 menjadi 19,6 juta ton. Untuk 2016 produksi jagung masih melanjutkan tren peningkatan dengan capaian produksi 23,6 juta ton. Puncaknya, pada tahun 2017 produksi jagung sudah mencapai 28,94 juta ton.

“Produksi ini meningkat 22,4 persen dibanding tahun sebelumnya. Alhasil, Indonesia tidak mengimpor jagung pada tahun 2017, bahkan telah ekspor ke berbagai negara. Tak hanya jagung, ekspor komoditas pertanian tahun 2017 naik 24 persen,” paparnya.

Amran menilai,pada 2015 Indonesia dapat impor jagung 3,5 juta ton. Akan tetapi dengan digenjot program jagungisasi impor 2016 turun 62 persen dan 2017 impor jagung pakan ternak nihil. Sedangkan di 2018 Indonesia telah ekspor jagung ratusan ribu ton.

“Jika tidak ada Program Upaya Khusus, Indonesia akan impor 4 sampai 5 juta ton. Baru-baru ini, keberhasilan jagung kita diapresiasi Presiden Namibia, Hage Gottfried Geingob. Indonesia kini mampu swasembada pangan dan mengekspor jagung dengan sistem pengairan di area persawahan yang baik tanpa terpengaruh musim,” pungkanya.

Dari pantauan INDOPOS Kementan RI juga memberikan bantuan bagi PBNU dari kerja sama yang dilaksanakan. Seperti, bantuan benih jagung di Kabupaten Pringsewu sebanyak 45 ton untuk 3.006 hektar lahan yang mencapai Rp1,9 miliar. Selanjutnya benih padi gogo untuk 1.050 hektar lahan, 10 unit traktor 2 roda, 10 unit mesin pompa air, dan 5 unit cultivator. Selain itu juga memberikan bantuan berupa 830.000 batang bibit kopi robusta untuk 830 hektar lahan. Kemudian 270.000 batang bibit kakao untuk 270 hektar lahan, bantuan bibit rehabilitasi lada 900.000 batang untuk ditanam 1.125 hektar, dan rehabilitasi pala 200 ha bantuan bibitnya 12.000 batang.(cok)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kementan 

Berita Terkait

IKLAN