Rabu, 21 November 2018 01:15 WIB
pmk

Internasional

Ungkap Kebenaran Berbuah Tujuh Tahun Kurungan, Demokrasi Myanmar Dianggap Mati

Redaktur:

TAK ADIL - Chit Su Win, istri terdakwa jurnalis Reuters Kyaw Soe Oo, menangis bersama putrinya di luar pengadilan di Yangon, Myanmar. VOANOUVEL.COM

INDOPOS.CO.ID – Chit Su Win cemas. Sebentar-sebentar dia beranjak dari bangku panjang di teras Pengadilan Distrik Utara Yangon, Myanmar. Putri kecilnya hanya bisa memandangi sang ibu. Sementara itu, kerabat Chit Su Win berusaha menenangkan perempuan berperawakan mungil tersebut. Tapi, istri Kyaw Soe Oo itu tetap gundah.

Kemarin (3/9) adalah hari yang dinantikan Chit Su Win. Sebab, sang suami menghadapi sidang vonis. Sejak beberapa hari sebelumnya, ibu satu anak tersebut tak bisa tidur. Dia berharap Kyaw Soe Oo bebas. Tapi, jika mengingat lagi bahwa yang dihadapi suaminya adalah junta militer, hatinya mencelos.

Ketakutan Chit Su Win terbukti. Pengadilan menjatuhkan vonis bersalah kepada suaminya. ’’Terdakwa telah melanggar Undang-Undang Rahasia Negara pasal 31 C,’’ kata hakim Ye Lwin, hakim ketua pengadilan, sebagaimana dilansir Reuters. Atas kesalahan itu, Kyaw Soe Oo diganjar hukuman tujuh tahun penjara.

Bukan hanya Kyaw Soe Oo yang dinyatakan bersalah oleh pengadilan. Kemarin pengadilan juga menjatuhkan vonis dan hukuman yang sama kepada Wa Lone. Dua warga Myanmar yang tercatat sebagai jurnalis Reuters tersebut dianggap melanggar UU tentang rahasia negara.

Kemarin Ye Lwin membacakan vonis di hadapan sekitar 80 pengunjung sidang. Seharusnya, putusan itu dibacakan pekan lalu. Namun, saat itu Ye Lwin sakit. Maka, pembacaan vonis ditunda.

Mendengar vonis yang sebenarnya sudah diantisipasinya tersebut, Chit Su Win langsung lemas. Dia menangis sejadinya. Namun, dua pria yang baru saja dijatuhi hukuman itu tetap tegar. Wa Lone terus mengacungkan dua jempol, gestur khas yang selalu ditunjukkannya setiap menghadiri sidang. Sementara itu, Kyaw Soe Oo terus tersenyum sambil mengangkat kedua tangannya yang terborgol.

”Pemerintah boleh saja menjebloskan kami ke penjara. Tapi, jangan tutup mata dan telinga rakyat,’’ ujar Kyaw Soe Oo setelah pembacaan vonis kemarin. Di bawah pengawalan ketat petugas, Wa Lone dan Kyaw Soe Oo menuju mobil tahanan. Dari pengadilan, mereka dibawa kembali ke penjara. Kali ini bukan sebagai tahanan, melainkan narapidana. Kerusuhan kecil sempat terjadi saat mobil tahanan melewati simpatisan dua jurnalis tersebut.

Belasan orang nekat menghadang mobil yang ditumpangi Wa Lone dan Kyaw Soe Oo. Mereka memprotes vonis yang diklaim tak demokratis itu. Berbagai organisasi HAM menyebut demokrasi telah mati di Myanmar. Kebebasan pers juga diberangus.

”Hari yang menyedihkan bagi Myanmar, Wa Lone, Kyaw Soe Oo, dan media,’’ ujar Pemimpin Redaksi Reuters Stephen J. Adler. Dubes Inggris untuk Myanmar Dan Chugg juga mengecam vonis tersebut. Kemarin dia datang ke pengadilan sebagai utusan Uni Eropa (UE). Setelah sidang, dia menyerukan pembebasan Wa Lone dan Kyaw Soe Oo. “”Ini adalah pukulan berat bagi hukum di Myanmar,” ungkapnya sebagaimana dikutip Associated Press.

Sebagian besar hadirin dalam sidang kemarin adalah aktivis HAM dan diplomat negara-negara asing. Hampir semua berpendapat bahwa Wa Lone dan Kyaw Soe Oo tidak pernah mendapatkan keadilan dalam proses hukum. Apalagi, undang-undang junta militer yang dipakai untuk menjerat keduanya adalah legislasi era kolonial.

’’Ini adalah keputusan bermuatan politik. Sebuah sensor terhadap media yang dilakukan secara intimidatif,’’ ujar Direktur Respons Krisis Amnesty International Tirana Hassan kepada Al Jazeera. Banyak kejanggalan dalam proses hukum Wa Lone dan Kyaw Soe Oo. Dalam sidang, dua jurnalis itu mengaku bertemu dengan dua polisi yang baru ditemui sesaat sebelum penangkapan pada 12 Desember 2017. Petugas tersebut menyerahkan dokumen saat bertemu di sebuah restoran di Yangon. Tak lama kemudian, polisi berpakaian preman menangkap mereka berdua. (bil/c22/hep/jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #militer-myanmar 

Berita Terkait

Solidaritas ”Arrest Me Too” Meluas

Internasional

Militer Myanmar Palsukan Foto di Buku

Internasional

Facebook Bekukan AkunPendukung Genosida

Internasional

Junta Militer Myanmar Lakukan Genosida

IKLAN