Senin, 24 September 2018 05:08 WIB
pmk

Nasional

Sedih Lihat Masyarakat Jadi Pembantu Tiga Pintu, yang Penting Ganti Presiden

Redaktur:

Tri Erniyati.

Di tengah hiruk pikuk politi tanah air jelang pemilihan presiden (pilpres) 2019, ada sekelompok perempuan setengah baya hingga tua, yang menamakan dirinya Barisan Emak-emak Militan (BEM). Mereka bahkan menggelar aksi unjukrasa minta agar Presiden Joko Widodo mundur. Apa yang melatarbelakangi emak-emak ini lantang bersuara menentang kebijakan pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla? 

Dilianto, JAKARTA

INDOPOS.CO.ID – "Wah Mas,  parah sudah perekonomian negeri ini. Kami para emak-emak,  yang notabene adalah ibu tumah tangga merasakan imbasnya. Akibat naiknya harga kebutuhan pokok. Sedangkan gaji suami tidak naik-naik," kata Tri Erniyati, Koordinator Nasional BEM mengawali  bincang-bincangnya kepada INDOPOS di Jakarta,  Selasa (4/9/2018).

Ia menjelaskan, sejak dipimpin oleh Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla,  semua kebutuhan rumah tangga merangkak naik.

"Sembako iya naik,  listrik naik,  gas naik,  apa-apa semua naik. Bahkan bensin untuk kendaraan suami bekerja juga ikut naik. Kalau cuma mengandalkan UMR aja gak mencukupi hidup. Harus pintar mengirit dan mengencangkan ikat pinggang, Mas," ujar emak-emak yang saat diwawancara INDOPOS sedang ber-ulang tahun ke-53.

Karena situasi ekonomi semakin sulit, Tri mengatakan, tahun ini ia pun tak membuat syukuran ulangtahunnya.

"Hehe.. Saya hari ini 53 tahun. Ya cukup berdoa sama Allah SWT saja. Gak perlu ada perayaan. Kita saat ini lagi prihatin. Mending buat beli Sembako," imbuhnya saat INDOPOS memberikan ucapan selamat.

Dia menjelaskan, kondisi perekonomian yang dirasakan oleh dirinya hampir rata dirasakan oleh emak-emak di Indonesia. "Dulu sebelum Jokowi jadi Presiden,  kita masih bisa mudah beli telur,  daging, beras dan lainnya. Tapi sekarang, mahal banget," terangnya.

Dia menceritakan bahwa daging Sapi sebelum Jokowi masih di kisaran Rp 80.000 per kilogram. "Tapi sekarang udah dua tahun terakhir tak pernah turun dari Rp 120 ribu per kilo. Itu pun kalau pas lebaran bisa naik gila-gilaan. Terus juga telur yang kemarin sempat Rp 30 ribu. Sedangkan di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, masih di angka Rp 15 ribu per kilo,"  cetusnya.

Untuk menutupi kebutuhan rumah tangga,  Tri menuturkan, banyak dari emak-emak yang akhirnya mengubah pola kebiasaan dalam pekerjaannya.

"Kami menemukan banyak emak-emak yang kerja sebagai pembantu rumah tangga,  yang tadinya cuma satu pintu,  kini mereka harus banting tulang sampai tiga pintu. Demi mencukupi kebutuhan rumah tangganya karena suaminya cuma sebagai tukang ojek online," ujarnya.

Selain itu, dirinya mengaku banyak kaum emak yang harus mengubah pola makan untuk keluarganya. "Tadinya pakai daging. Sekarang udah jarang.  Tadinya satu lauk untuk satu piring,  kini harus dibagi tiga piring. Wah, masih banyak cerita lainnya.  Bisa sampai nangis. Sedih banget dah saya kadang mendengar keluhan Emak-emak,"  ucapnya yang terlihat matanya berkaca-kaca.

Akibat dari perekonomian yang morat-marit ini, wanita paruh baya itu mengungkapkan,  dirinya dan sejumlah emak-emak sepakat membentuk wadah barisan emak-emak.

"Karena satu keprihatinan dan nasib yang sama sebagai Emak-emak yang sedang kesusahan,  saya dan sejumlah emak-emak lainnya membentuk wadah. Dan ini sudah terbentuk sejak dua tahun lalu," ujarnya.

Dia menjelaskan,  sejak terbentuk,  aktivitas Barisan Emak-emak lebih banyak kepada program sosial. "Yakni mengadakan sembako murah,  serta pelatihan keterampilan untuk wanita agar memiliki skill. Seperti membuat kerajinan tangan atau menjahit. Ada juga belajar masak biar bisa bekerja di rumah membantu mencari penghasilan tambahan," ungkapnya.

Tapi hal itu,  kata Tri, ternyata tidak juga memberi hasil signifikan buat para emak. Karena perekonomian rakyat tidak banyak berputar. "Para masyarakat pemilik uang juga banyak yang lebih memilih menyimpan uangnya dibanding harus berbelanja lebih," ucap Tri.

Wadah BEM ini pun,  kata Tri,  ternyata banyak mendapat dukungan. Sehingga akhirnya menjadi kekuatan politik rakyat untuk menekan pemerintah.

"Kami pun pernah setahun lalu melakukan unjuk rasa meminta harga-harga sembako diturunkan,  batalkan tarif dasar listrik dan lain-lain. Bahkan saya pernah berkirim surat ke Pak Jokowi agar memperhatikan nasib emak-emak di Indonesia yang saat ini sedang kesusahan. Tapi sayang tuntutan kami ini tidak didengar. Bahkan harga makin menyekik kami," kesalnya.

Atas dasar itu,  ucap Tri,  sejak muncul gerakan #2019GantiPresiden yang digagas oleh Neno Warisman dan Mardani Ali Sera,  ucap Tri,  kini wadah BEM sudah memiliki satu tujuan,  yakni ganti presiden di Pemilu 2019.

"Kami kira satu-satunya solusi adalah ganti presiden. Dan kami tidak berafiliasi dengan partai manapun. Kami lintas profesi, suku dan agama. Cuma kami terkumpul karena  ingin memperjuangkan nasib emak-emak agar tidak lagi kesusahan yang banyak bergantung pada suami," tegasnya. (bersambung) 


TOPIK BERITA TERKAIT: #boks #feature 

Berita Terkait

IKLAN