Nasional

Atasi Ancaman Pandemi, Indonesia Tekankan Kerja Sama Lintas Sektoral

Editor: Redjo Prahananda

INDOPOS.CO.ID - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menekankan pentingnya kerja sama lintas sektoral untuk antisipasi ancaman pandemi. “Seperti halnya negara-negara lain yang rentan terhadap pandemi, Indonesia akan terus waspada melalui pemantauan dan kesiapsiagaan menghadapi wabah penyakit menular antar negara yang dapat muncul di masa mendatang. Langkah ini dilakukan untuk melindungi hilangnya potensi sumberdaya manusia dan dampak-dampak lain yang ditimbulkan hingga meliputi ke aspek ekonomi dan ketahanan negara,” tutur Deputi Peningkatan Kesehatan Kemenko PMK dr Sigit Priohutomo dalam Pertemuan Koordinasi dan Penyusunan Rencana Kerja Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Berpotensi Pandemi, di Jakarta, Rabu (5/8/2018).

Sigit menegaskan bahwa koordinasi lintas sektoral dilaksanakan untuk mewujudkan sinergi pelaksanaan kebijakan dan sumberdaya tersedia. “Ancaman wabah harus dihadapi bersama-sama, tidak bisa hanya mengandalkan satu sektor saja,” jelas Sigit.
Ia menambahkan, Kemenko PMK telah menjalin kerja sama lintas kementerian/lembaga, perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah daerah, badan-badan internasional seperti WHO dan FAO, serta hubungan bilateral dan multilateral melalui kerja sama kemitraan dengan USAID, DFAT-Australia dan aktif dalam gerakan Global Health Security Agenda serta pemangku kepentingan lainnya untuk pencegahan, pendeteksian dan respon terhadap penyakit baru berpotensi pandemi.

Sementara itu, USAID Deputy Mission Director Ryan Washburn menyebutkan, Indonesia telah membuat langkah yang luar biasa dalam mengembangkan integrasi sistem untuk mendeteksi, mencegah dan merespon ancaman pandemi. Namun diperlukan komitmen lebih lanjut, guna memastikan sistem tersebut dapat terus berjalan dengan baik.

“Untuk memastikan sistem yang telah dikembangkan tersebut berfungsi dengan baik, penting untuk mengenali dan mengakui peran penting kementerian dan lembaga terkait, dan mendukung mereka dalam menjalankan tugas penting untuk keamanan kesehatan ini,” jelasnya.

“Untuk bisa secara bersama-sama menurunkan risiko maupun dampak yang bisa dihadapi Indonesia dari ancaman pandemi ini, dibutuhkan koordinasi lintas sektoral dan perlu dukungan dari para pengambil keputusan. Mari kita duduk bersama-sama untuk menyusun rencana kerja yang sejalan dengan sasaran pembangunan pemerintah Indonesia,” tambah Washburn.

Seperti yang diketahui, Indonesia termasuk salah satu hotspot munculnya penyakit infeksi baru di Asia. Penyakit infeksi baru tersebut maupun penyakit yang pernah ada dan kemudian muncul kembali, 70% diantaranya dapat bersumber (ditularkan) dari satwa liar dan ternak (zoonotik), seperti flu burung. Di Indonesia sendiri, selama 11 tahun terakhir tercatat sebanyak 168 orang meninggal dunia akibat flu burung serta kerugian ekonomi yang tidak sedikit nilainya.

Selain ancaman flu burung, kemunculan kembali virus Ebola dan Sindrom Pernafasan Timur Tengah Coronavirus masing-masing di Afrika dan Timur Tengah, serta deteksi virus Nipah, West Nile, dan Zika di Indonesia, menekankan pentingnya memperkuat kapasitas untuk mencegah, mendeteksi dan merespons ancaman kesehatan hewan baru dan yang muncul kembali, dan peristiwa tumpahan (spill over) secara terus menerus dan berlanjut. (adl)

 

Berita Lainnya

Banner

Facebook

Twitter