Selasa, 25 September 2018 08:14 WIB
pmk

Nasional

Panen Melimpah, Petani Nikmati Manisnya Garam

Redaktur:

Dirjen Pengelolaan Ruang Laut (PRL) KKP Brahmantya Satya Moerty (Dua dari kiri) dan Direktur Jasa Kelautan, Moh Abduh Nurhidajat (pakai topi koboy) ketika panen garam di Indramayu belum lama ini. (Humas PRL for indopos)

INDOPOS.CO.ID - Periode Januari-Agustus 2018 cuaca sangat bersahabat untuk petani garam. Suhu panas membuat evaporasi cepat dan kualitas panen pun lebih baik dari biasanya. Hingga per 31 Agustus, produksi garam 572.808 ton hasil dari garam rakyat 431.155, sisanya 141.653 ton hasil produksi PT. Garam.

“Target produksi tahun ini 1,5 ton. Melihat kondisi cuaca kali ini bukan saja segi kuantitas yang tercapai tapi kualitas pun mengalami peningkatan,” terang Direktur Jasa Kelautan Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Moh Abduh Nurhidajat, Kamis (6/9/2018).

Hanya saja, integrasi lahan disatukan dalam management produksi masih menjadi tantangan petani. Selain itu, KKP masih terus menciptakan metode dan mencoba mengurangi ketergantungan produksi garam pada matahari. Sehingga ketika musim penghujan pun produksi garam tetap berjalan. Yang menjadi pekerjaan rumah (PR) lainnya adalah ketika produksi membaik, lalu bagaimana serapannya.

“Perlu duduk bareng lintas kementerian, mungkin dipimpin Menko perekonomian atau Menko Maritim untuk menentukan harga batas bawah dan batas atas agar petani garam tidak dirugikan ketika panen raya begini,” harap Abduh.

Sehingga ada harga yang wajar ketika sudah ada kesepakatan dengan industri. “Serapan garam lokal itu, ada acuan dalam besaran rekomendasi import, sehingga industri harus menyerap garam rakyat dan ada bukti serap. Besaran yang pernah kita sepakati minimal 950 ribu ton,” ungkap Abduh.

Sementara itu, Agus dan Septi Ariyani dua tokoh petani yang sudah jadi bos garam di Cirebon mengakui saat ini tengah menikmati hasil panen. Garam yang diproduksi memiliki kualitas baik sehingga petani puas. “Momentum seperti ini petani bisa merasakan manisnya garam. Akan tetapi petani garam harus terus diberikan edukasi agar memiliki hasil produksi yang berkualitas. Kalau dari segi kuantitas petani gak perlu diajari,” kata Septi.

Selain menjual garam ke industri Septi juga sudah membuat garam hasil produksinya sebagai usaha spa yang lebih dikenal dengan bath saltuntuk perawatan kulit, di Desa Grogol, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Usaha yang dibangunnya empat tahun terakhir sudah merambah ke pasar nasional dan memiliki omzet sampai jutaan rupiah tiap bulan.

"Saat ini produksi kami sudah masuk ke Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Padang, Bali, Palembang, dan beberapa daerah lainnya. Bahkan permintaan dari Maladewa untuk produksi garam spa. Kami tinggal menunggu izin BP POM,” katanya. (nel)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #kementerian-kelautan-dan-perikanan #moh-abduh-nurhidajat #petani-garam 

Berita Terkait

Ciptakan Single Identity, KKP Luncurkan Kartu Ini

Nasional

Petani Garam NTT Terima KUR

Nusantara

IKLAN