Selasa, 25 September 2018 02:52 WIB
pmk

Internasional

Akademi Polisi Thailand Tak Rekrut Perempuan

Redaktur:

BARIS - Siswa calon polisi wanita di Akademi Polisi Thailand. Tahun depan akademi tersebut tidak akan membuka pendaftaran bagi perempuan. THEPATTAYANEWS.COM

INDOPOS.CO.ID – Royal Police Cadet Academy (RPCA) Thailand mengebiri peluang perempuan untuk menjadi penegak hukum. Tahun depan akademi tersebut tidak akan membuka pendaftaran bagi perempuan. Masyarakat Thailand pun berontak. Tapi, tekad RPCA sudah bulat. Mereka juga tidak mau memaparkan alasan di balik kebijakan itu.

’’Ini adalah sebuah kemunduran. Seluruh hak perempuan di negeri ini harus tetap dijamin,” protes Direktur Lembaga HAM Women and Men Progressive Movement Jadet Chaowilai sebagaimana dikutip Reuters.

Tanpa kadet perempuan yang lantas akan menjadi polisi wanita alias polwan, hukum Thailand akan sulit ditegakkan. Untuk kasus-kasus pelecehan seksual dan pemerkosaan, korban harus didampingi polwan. Sebab, biasanya para korban adalah perempuan. Mereka lebih nyaman berkomunikasi dengan polwan.

Jika jumlah polwan tak bertambah, para korban pelecehan seksual juga bakal takut dan malas untuk melapor. ’’Korban mungkin akan malu dan enggan berbicara kepada polisi pria,’’ ujar Jadet. Akibatnya, kasus-kasus tersebut akan jalan di tempat.

RPCA memang bukan satu-satunya akademi polisi di Thailand. Kaum hawa yang ingin menjadi polwan masih bisa mendaftar ke akademi lain. Tapi, tetap saja kebijakan RPCA itu diskriminatif. Apalagi, sejak 2009, ada sekitar 300 perempuan yang menjadi kadet. Sejauh ini, RPCA sudah meluluskan 700 kadet yang lantas menjadi polwan.

Keputusan RPCA itu diduga merujuk pada kebijakan Royal Thai Police Office (RTPO). Rencananya, kepolisian nasional Thailand tersebut tidak lagi menerima perempuan. The Guardian melaporkan bahwa RTPO mengambil kebijakan itu karena banyak polwan yang mengundurkan diri gara-gara mengurus keluarga.

Jika itu terjadi, kebijakan RTPO akan bertentangan dengan hasil riset lembaga nonprofit Friedrich-Ebert-Stiftung. Lembaga tersebut malah merekomendasikan Thailand punya lebih banyak polwan. Dengan begitu, akan ada cukup banyak polwan untuk menangani kasus pelecehan seksual dan kekerasan terhadap perempuan.

Di Thailand, kasus pelecehan seksual tidak tergarap maksimal. Dari sekitar 20–30 ribu kasus per tahun yang dilaporkan, hanya sebagian kecil yang diproses. (sha/c7/hep/jpg)

Kejahatan Seksual terhadap Perempuan Thailand

–             Setiap hari terdapat 86 perempuan yang menjadi korban pemerkosaan. Itu berarti pemerkosaan terjadi setiap 17 menit. (Hasil penelitian The National Research Institute 2009–2013)

–             Per tahun sekitar 30 ribu kasus pemerkosaan di Thailand yang dilaporkan ke polisi.

–             Kisaran usia korban adalah 1 tahun 8 bulan hingga 81 tahun.

–             Sebanyak 60 persen responden Women and Men Progressive Movement Foundation (WMP) mengalami pelecehan seksual pada Festival Songkran. Mulai payudaranya diremas, dicium paksa, hingga diperkosa.

–             Pemerkosa bisa dihukum mati. Tapi, mulai 1999, pelaku bisa lepas dari hukuman mati jika mengakui perbuatannya.

Sumber: Coconuts, VoA, BBC, Bangkok Post


TOPIK BERITA TERKAIT: #thailand 

Berita Terkait

IKLAN