Sabtu, 17 November 2018 06:22 WIB
pmk

Headline

Erick Thohir Dipasang untuk Garap Pemilih Milenial

Redaktur:

Bakal Calon Presiden Joko Widodo resmi menunjuk pengusaha kondang, Erick Thohir sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) bakal paslon capres-cawapres Jokowi - Ma'ruf Amin di Posko Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (7/9/2018). Foto: Jaa Rizka Pradana/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Kubu Jokowi-Ma'ruf sudah selesai menyusun tim pemenangan serta menunjuk Erick Thohir sebagai ketua tim sukses.  Sedangkan kubu Prabowo-Sandi,  meski belum meresmikan timses, namun ketua timses mengarah pada nama Jenderal TNI (pur) Djoko Santoso.

Bagi pengamat politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Pangi Syarwi Chaniago,  kehadiran ketua tim sukses tidak dipungkiri ikut menjadi penentu kemenangan dari pasangan capres-cawapres.

"Selain karena ketokohan capres-cawapres,  kebesaran nama ketua tim sukses juga ikut berpengaruh. Dan pastinya juga diperlukan kepintaran ketua tim dalam mengatur strategi pemenangan. Ibarat kanpten dalam tim sepakbola," kata Pangi kepada INDOPOS di Jakarta,  Jumat (7/9/2018).

Selaku pengatur strategi dan pengatur ritme pertandingan, maka seorang ketua tim sukses harus menguasai manajemen isu yang positif terhadap kandidat, jurus meng-counter, men-downgrade lawan. "Ibarat perang, mengerti cara membunuh mental dan karakter lawan,"  terangnya.

Kemudian,  peran ketua timses,  kata Pangi,  juga harus mampu mengatur peran juru bicara (jubir) dalam rangka memainkan opini publik, memainkan isu dan memainkan sintemen.

"Pertarungan dalam pilpres adalah adu gagasan, opini, counter isu, program dan kemampuan memainkan sintemen dalam rangka memenangkan hati rakyat sehingga lahir pemilih strong voter yang mantap memilih capres dan cawapresnya," jelasnya.

Ketua tim pemenangan, lanjut Pangi, harus yang mampu membaca mapping elektoral secara mendalam dan punya banyak strategi.

"Minimal ketua tim pemenangan harus paham dan tahu betul terkait dengan membaca fenomena trend perilaku pemilih, piawai dan mahir memainkan sintemen, paham manajemen isu yang bakal dimainkan termasuk mengcounternya, mengerti betul soal program yang sedang dibutuhkan pemilih, memahami personal branding dan paham akan kelemahan capresnya dan capres lawan politiknya. Serta mampu meng-counter dan down grade elektoral kontestan," ujarnya.

Lebih lanjut,  Direktur Voxpol Center ini menambahkan, untuk level ketua tim pemenangan ada beberapa poin  atau kriteria yang juga menjadi pertimbangan untuk dipilih oleh capres. "Yakni leadership, representasi,  akseptabilitas,  kapasitas, jam terbang,  jaringan,  kepercayaan diri,  kreatif dan menguasai mapping elektoral,"  pungkasnya.

Sementara,  Mufti Mubarok,  Direktur LeSuRe dan PUKAT turut  membagi beberapa kelebihan dan kekurangan dari kedua ketua tim sukses.

"Mengapa Djoko Santoso dipilih tentu pertimbangannya adalah senior di militer dan punya kedekatan dengan Prabowo yang sama sama militer. Pengalaman komunikasi pak Joko Santoso cukup baik dan punya banyak relasi. Khususnya dianggap menjadi pemersatu di partai koalisi," ucap Mufti.

Kemudian bagaimana Erick Thohir?  Dirinya menegaskan, sebagai pengusaha muda yang sukses dan namanya mencuat seiring pelaksanaan Asian Games 2018.  "Dan tampaknya Jokowi-Ma'ruf  tahu dengan Erick akan mampu mengambil suara milenial yang jumlahnya cukup besar," jelasnya.

Ia pun menilai,  sosok militer dan pengusaha hampir memiliki kesamaan yakni  punya disiplin dan etos kerja yang tinggi. "Cermat dalam bertindak serta berani mengambil risiko,"  tuturnya.

Maka apakah strategi militer atau pengusaha? lanjut Mufti, sejatinya Timses hanyalah organ menejerial yang tetap paslon menjadi penentu. "Militer atau pengusaha sama sama saja. Yang utama jualan paslonnya," tandasnya.

Lalu,  pengamat politik Andrianto mengaku nama Erick Thohir tidak lebih hanya sebagai simbol mentoknya pasangan capres-cawapres Jokowi-Ma'ruf dalam mencari sosok ketua timses.

"Saya melihat terpilihnya Erick Thobir hanya sebagai bentuk pemaksaan karena tidak ada lagi nama tokoh yang mau menjadi ketua timses. Sebut saja nama Mahfud MD dan Jimly Ashiddiqie yang menolak menjadi ketua timses," kata Andri kepada INDOPOS.

Presidium Pergerakan Persatuan ini juga menilai sosok Erick Thohir juga tidak selalu sukses dalam memimpin sebuah organisasi.

"Lihat saja dia memimpin klub sepak bola Inter Milan,  tapi gagal tuh memenangi liga seri A Italia," selorohnya.

Lalu bagaimana dengan nama Djoko Santoso?  Dirinya melanjutkan, mantan Panglima TNI itu sejauh ini masih belum banyak menunjukkan jam terbang dalam memimpin organisasi di luar militer.

"Tapi setidaknya Djoko itu senior dan dihormati oleh koalisi Prabowo Subianto-Sandi. Sedangkan Erick Thohir hanya seorang pengusaha muda yang memimpin elit parpol kubu Jokowi-Ma'ruf yang notabene adalah para senior dan politisi,  bukan karyawan ataupun pengusaha yang bisa diatur," pungkasnya.  (dil)


TOPIK BERITA TERKAIT: #tim-kampanye-nasional #ketua-tkn-jokowi-maruf #erick-thohir #capres-jokowi #cawapres-maruf-amin 

Berita Terkait

IKLAN