Minggu, 23 September 2018 12:40 WIB
pmk

Nasional

Wawasan Arbitrase Wajib Dimiliki Para Pelaku Usaha Konstruksi

Redaktur: Redjo Prahananda

Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) bekerjasama dengan Institut Arbiter Indonesia (IARBI) menyelenggarakan Ujian Kompetensi Arbiter di sebuah hotel di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (5/9/2018). 

INDOPOS.CO.ID - Pengurus Institut Arbiter Indonesia (IARBI), Bambang Hariyanto menyatakan bahwa wawasan arbitrase wajib dimiliki oleh para pelaku usaha konstruksi dan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK). Alasannya, karena dalam pasal 88 UU No. 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi, disebutkan bahwa tahapan penyelesaian sengketa jasa konstruksi melalui tahapan; mediasi, konsiliasi dan arbitrase. 

"Pelaku jasa konstruksi (disebutkan) wajib memiliki wawasan mengenai arbitrase, karena kontrak konstruksi kebanyakan sudah mencantumkan klausula arbitrase," papar Bambang melalui pesan digital kepada INDOPOS, Minggu (9/9/2018). 

Bambang menambahkan bahwa saat ini Indonesia merupakan pasar infrastruktur sangat besar, sehingga memaksa semua organisasi konstruksi dan pelaku usaha jasa konstruksi perlu memahami tentang kontrak konstruksi. 

"Pemahaman atas kontrak konstruksi yang baik termasuk mengantisipasi kemungkinan jika terjadi sengketa, bagaimana menyelesaikannya secara cepat dan tepat serta terhormat dengan tetap memperhatikan aspek keadilan serta kepastian hukum," ujar dia.

Sebelumnya, LPJK bekerjasama dengan IARBI menyelenggarakan Ujian Kompetensi Arbiter di sebuah hotel di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (5/9/2018). Sebanyak 50 peserta mengikuti ujian yang berasal dari pengurus LPJK pusat serta daerah. Pelaksanaan ujian dihadiri Ketua IARBI, Agus Kartasasmita. Pengurus Pusat LPJK yang ikut ujian antara lain, Jhon Pantouw dan Hedrik Purnomo. Pengawas ujian antara lain, Bambang Hariyanto, Ahmad Rizal, Saptarini dan Arief Sempurno.

Di sela-sela acara tersebut, Bambang menjelaskan bahwa ujian tersebut bertujuan untuk meningkatkan kompetensi para anggota LPJK. “Tujuan pelaksanaan ujian ini adalah untuk meningkatkan kompentensi para pelaku usaha jasa konstruksi. Pelaku usaha jasa konstruksi dituntut untuk memiliki wawasan dan memahami proses penyelesaian sengketa jasa konstruksi melalui mekanisme arbitrase," tutur Arbiter dan Anggota Tim Ahli pada Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) itu. 

Sebagai informasi, untuk dapat mengikuti ujian kompetensi, peserta harus terlebih dulu mengikuti pendidikan tingkat dasar arbitrase, pendidikan tingkat lanjutan arbitrase dan membuat karya tulis dibidang arbitrase. Materi ujian terdiri dari teori arbitrase selama 120 menit dan praktik arbitrase selama 180 menit dengan menghasilkan rumusan putusan lengkap arbitrase. Peserta yang lulus akan diberikan Sertifikat Kompetensi dan berhak untuk menjadi anggota IARBI.

Bambang berharap para peserta yang lulus pada waktunya kelak dapat menjadi arbiter yang profesional. “Bagi yang tidak lulus dapat mengikuti ujian gelombang berikutnya.  Sementara bagi yang lulus saya berharap kelak mereka pada waktunya juga dapat menjadi arbiter-arbiter di bidang konstruksi yang profesional," ungkap Bambang. (ydh)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #institut-arbiter-indonesia-iarbi #bambang-hariyanto #wawasan-arbitrase #pelaku-usaha-konstruksi 

Berita Terkait

IKLAN