Rabu, 19 September 2018 08:13 WIB
pmk

Internasional

Ketika Presiden AS Donald Trump Tak Percaya Isu Pemanasan Global

Redaktur:

TERANCAM - Pulau Tangier, di Negara Bagian Virginia, AS, seratus persen penduduknya memilih Donald Trump dalam Pilpres 2016. MARINAS.COM

INDOPOS.CO.ID - PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump tidak percaya pada pemanasan global. Demikian pula penduduk Pulau Tangier, Negara Bagian Virginia, AS. Di pulau mungil itu, Trump adalah patron. Suara mereka dalam Pilpres 2016 juga hanya untuk Trump. Apa pun yang meluncur dari mulut Trump merupakan kebenaran bagi masyarakat Tangier.

Namun, kepercayaan mereka terhadap Trump dan prinsip kelingkungannya kini diuji. Dampak perubahan iklim menghampiri mereka dengan cepat. Luas daratan di pulau yang dihuni sekitar 460 penduduk itu menyempit. Sebab, permukaan air laut yang terus naik mengakibatkan daratan terendam. Permukaan air laut yang terus meningkat itu berasal dari lapisan es di kutub yang mencair gara-gara pemanasan global.

’’Mereka bisa melihat tanda-tandanya secara langsung,’’ ujar Earl Swift, penulis Chesapeake Requiem, kepada National Geographic kemarin (8/9). Ironisnya, penduduk Tangier tetap tidak percaya bahwa air laut yang merendam sebagian pulaunya itu bersifat permanen. Genangan tersebut tidak akan surut, tetapi malah berpotensi meningkat.

Masyarakat Tangier berkeyakinan bahwa genangan itu disebabkan erosi yang terbawa angin. Swift menyayangkan pemahaman tersebut. Bersama para ilmuwan lain, dia memprediksi Tangier tenggelam dalam waktu lima dekade mendatang. Artinya, Tangier tidak akan bisa dihuni lagi.

Sebenarnya, dampak perubahan iklim sudah dirasakan warga Tangier dalam berbagai rupa. Selain genangan akibat meningkatnya permukaan air laut, pulau itu selalu langganan banjir ketika musim angin tiba. Badai berskala kecil saja bisa membuat jalanan dan rawa-rawa dipenuhi air. Gelombang tinggi menyulap halaman rumah warga menjadi kolam.

Sejak 1950 Tangier kehilangan 32,3 meter persegi wilayahnya setiap tahun. Belakangan daratan di pulau itu semakin cepat tergerus. Namun, otoritas setempat tidak kunjung berbuat sesuatu. Tangier adalah pulau seafood. Di sana masyarakat membudidayakan kepiting biru dan kepiting cangkang lunak. Keduanya menjadi daya tarik utama wisatawan. Karena itu, sebagian besar warga memilih jadi nelayan atau pemilik rumah makan. Namun, pemanasan global membuat reputasi yang kadung melekat pada Tangier luntur.

Sebab, pemanasan global membuat suhu laut hangat dan ikan-ikan berpindah dari Tangier. Hasil laut penduduk pun turun drastis. Pulau tersebut tidak lagi kaya ikan, kepiting, dan tiram. Jika terus terjadi, penduduk Tangier akan kehilangan mata pencahariannya.

Ancaman yang sudah di depan mata tersebut tidak membuat warga Tangier berubah pikiran. Mereka tetap tidak percaya pada pemanasan global. Mereka malah mendesak pemerintah membangun tembok untuk mencegah erosi berkelanjutan. Mereka yakin tembok akan menghalau lebih banyak air dari pulaunya.

Pulau yang pada 2016 menjadi salah satu basis Trump itu sebentar lagi lenyap. Pesta kemenangan dan berbagai suvenir berbau Trump yang pernah menghiasi pulau tersebut tinggal cerita. (sha/c15/hep/jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #donald-trump #pemanasan-global 

Berita Terkait

Dikritik Keras Obama, Trump Ngantuk

Internasional

Trump Ganti Furnitur Pilihan First Lady

Internasional

IKLAN