Sabtu, 22 September 2018 02:58 WIB
pmk

Ekonomi

Indonesia Teken Kerjasama Pembangunan Pembangkit Listrik Batubara

Redaktur: Redjo Prahananda

Presiden Direktur PT. Indo Raya Tenaga (IRT) Sapto Aji Nugroho (tengah), Direktur bisnis Indo Raya Tenaga Peter Wijaya (kiri), Seokwon Yun, CEO EPC Business Group - Doosan Heavy Industries and construction co ltd, menandatangani MoU untuk konstruksi pembangkit listrik Suralaya 9 dan 10 dalam Forum Kerjasama Industri Korea-Indonesia yang diadakan di Lotte Hotel di Jung-gu, Seoul, Korea Selatan, Senin (10/9/2018). Foto: PT Indo Raya Tenaga untuk INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Doosan Heavy Industries and Construction dan Indo Raya Tenaga (IRT), memastikan kerjasama pembangunan pembangkit listrik tenaga batubara di Indonesia.

Kerjasama ini dimulai dengan penandatanganan Nota Kesepakatan (Memorandum of Understanding/MoU) untuk pembangunan pembangkit listrik di Jawa, Suralaya, 9 dan 10.

Kedua belah pihak berharap kesepakatan ini memperlancar proses pembangunan, agar sesuai rencana dan mendapat perhatian dari kedua negara.

“MoU ini jelas sangat berarti. Kami berharap proses pembangunan proyek Suralaya 9 dan 10 ini akan lebih lancar ke depannya,” kata Presiden Direktur PT. Indo Raya Tenaga (IRT) Sapto Aji Nugroho.

Presiden Joko Widodo, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Badan Koordinasi Pengelolaan Investasi Thomas Lembong, Menteri Perdagangan dan Industri Korea Selatan, Baek Woon Gyu dan Yun Seok Won selaku pucuk pimpinan EPC Business Group Doosan Heavy Industries and Construction turut menyaksikan kesepakatan ini.

MoU ini merupakan bentuk komitmen Indonesia dalam Forum Kerjasama Industri Korea-Indonesia di Lotte Hotel di Jung-gu, Seoul, Korea Selatan, Senin (10/9/2018).

Penandatanganan MoU ini untuk memperkuat kerja sama Indonesia - Korsel bidang industri. Lebih lanjut Sapto menjelaskan, Doosan terpilih sebagai “preferred bidder” dalam proses pengadaan Engineering/Procurment/ construction untuk proyek IPP Jawa 9 dan 10.

Doosan dalam proposal tendernya, menyertakan opsi dukungan oleh K-exim dan K-Sure yang adalah export credit agency dari Kor-Sel.

Sementara itu, Yun mengatakan total biaya konstruksi diperkirakan mencapai 1,9 triliun won.  Sedang untuk penerimaan pesanan Doosan Heavy Industries and Construction diperkirakan mencapai sekitar 1,5 triliun won. 

Doosan Heavy Industries and Construction mengaku senang berpartisipasi dalam penawaran kompetitif internasional untuk pembangkit listrik tersebut.

Pada  Juni lalu, Doosan Heavy Industries & Construction terpilih sebagai ‘preferred bidder’ dan menerima letter of intent.

"Dengan MOU ini, kami akan dapat lebih memperkuat kemitraan kami dengan pemerintah Indonesia dan klien," kata Yun.

Dia menjelaskan, melalui keberhasilan pelaksanaan proyek ini, Korsel memiliki komitmen  dalam upaya mengurangi kekurangan daya listrik di Indonesia.

“Kami berencana memperluas kerjasama ini. Kami akan memulai pembangunan pada kuartal pertama tahun depan karena kami harus mengumpulkan dana.”

Pembangkit listrik tenaga batubara Jawa ke-9 dan ke-10 bakal berdiri dengan skala dua kelas; USC 1000 MW (Ultra Critical Pressure) sekitar 120 kilometer  dari Jakarta. Tekanan uap memasuki turbin di pembangkit ini lebih dari 246kg/cm2 dan suhu uap lebih dari 600 derajat.

Semakin tinggi tekanan dan suhu uap, semakin tinggi efisiensi pembangkitan listrik,  dianggap sebagai teknologi pembangkit listrik  ramah lingkungan dan sangat efisien sehingga dapat mengurangi konsumsi bahan bakar. (dai)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kerjasama-pembangunan 

Berita Terkait

IKLAN