Rabu, 26 September 2018 10:07 WIB
pmk

Headline

Upaya Tekan Pelemahan Rupiah, BI Beli SBN Rp 11 Triliun

Redaktur:

Foto : Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID - Rupiah mulai menunjukan pergerakan yang cukup stabil. Bahkan cenderung menguat. Berdasarkan data  Jakarta interbank spot dollar rate (Jisdor), kurs tengah rupiah pada Senin (10/9) berada pada posisi 14.835 per dollar Amerika. Menguat dibanding Jumat lalu (7/9) diposisi 14.884 per dollar Amerika. Upaya Bank Indonesia (BI) dan  pemerintah, dianggap efektif menekan pelemahan rupiah hingga tidak sampai ke level yang dikhawatirkan ke Rp 16 ribu.

Selain itu, banyak juga pemilik valuta asing (valas) yang menukar dolarnya ke rupiah. Pengamat Ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef)  Bhima Yudhistira mengatakan, tren stabilnya nilai tukar karena intervensi Bank Indonesia di pasar sekunder. "Bank Indonesia membeli surat utang Negara atau SBN lebih dari Rp 11 triliun. Ini kompensasi atas keluarnya dana asing dari pasar surat utang. Intervensi BI ini mampu meredam gejolak sehingga rupiah kembali menguat," jelas Bhima, Selasa (11/9).

Ia menambahkan, sepanjang Agustus 2018, BI sudah menguras sekitar USD 400 juta  dari cadangan devisa untk stabilisasi rupiah. "Cuma hati-hati karena sifatnya temporer. Tanggal 26 September ada rapat The Fed yang rencananya akan menaikan suku bunga acuan dua kali lagi tahun ini," pungkasnya.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi dari Center of Reform on Economy (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan, pergerakan rupiah yang stabil karena faktor dalam negeri. "Ada upaya stabilisasi dari BI dan juga dari pemerintah," jelasnya. Sementara itu, Ekonom dari UGM Tony Prasetiantono mengatakan, perekonomian Indonesia sehat, tidak layak berada di level Rp 16 ribu. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi 5,27 persen pada quartal pertama 2018. Kemudian inflasi dapat dijaga di level yang cukup rendah 3,2 persen. Suku bunga acuan Bank Indonesia 5,5 persen dan cadangan devisa hampir USD 118 miliar. "Itu adalah bukti perekonomian yang masih sehat. CAR perbankan 22 persen juga sangat sehat. Satu-satunya masalah adalah current account deficit yang mencapai 3 persen terhadap PDB," jelas Tony, Selasa (11/9).

Selain itu, upaya intervensi BI juga dianggap efektif meredam pelemahan rupiah. Sehingga cadev saat ini sedikit dibawah USD 118 miliar. "Selain itu banyak juga pemilik valas yang melepas valasnya karena merasa sudah untung. Rupiah sudah undervalued," jelas Tony.

Kemudian,  terkait rencana kenaikan suku bunga oleh The Fed, menurutnya, BI juga perlu siap-siap menempuh kebijakan yang searah. "Yakni menaikan suku bunga acuan dari posisi sekarang 5,5 persen ke 5,75 persen. Suku bunga yang sekarang patut diduga belum cukup untuk menahan orang agar memegang rupiah," pungkasnya.

Sementara itu,  Direktur Lembaga Management  Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI)  Toto Pranoto mengatakan, nilai tukar rupiah bisa disebabkan faktor fundamental Ekonomi. Seperti tingkat inflasi, neraca transaksi berjalan, tingkat bunga dan sebagainya. "Bahkan  juga faktor non ekonomi, terutama kepercayaan terhadap kredibilitas Pemerintah. Faktor Ekonomi secara sederhana terjadi karena defisit transaksi berjalan Indonesia yang besar serta kenaikan tingkat suku bunga AS yang menarik dana dari hampir seluruh emerging market , sehingga Indonesia “kering” likuiditas dollar," jelasnya Selasa (11/9).

Lebih lanjut Toto mengatakan, kebijakan bank sentral dengan mengguyur dolar di domestik mungkin punya pengaruh menahan pelemahan rupiah. Serta beberapa kebijakan pemerintah untuk membatasi atau menghentikan sementara  proyek infrastruktur mungkin sudah punya dampak.

"Solusi jangka panjang, secara  fundamental memperkuat posisi neraca perdagangan dalam jangka panjang sangat urgent dilakukan. Eksport bukan saja didorong oleh produk komoditas, tapi juga produk lain yang punya nilai tambah. Sehingga saat harga komoditas jatuh nilai eksport Indonesia tidak terlalu diguncang hebat. Di samping itu, perkuatan Tingkat Komponen Dalam Negeri  mutlak dilaksanakan. Dimana compliance industri dalam negri harus betul-betul diawasi negara," pungkasnya.

Terapkan Tiga Bauran Kebijakan

Sementara itu, Kepala Departemen Internasional Bank Indonesia (BI)  Doddy Zulverdi saat  Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9  "Bersatu untuk Rupiah", di  Jakarta, Senin (10/9)  mengatakan, menghadapi situasi ketidakpastian ekonomi dunia ini, BI telah menerapkan tiga bauran kebijakan. Yakni  kebijakan moneter, kebijakan mitigasi, dan kebijakan menaikkan suku bunga. "Hal itu dimaksudkan untuk menstabilitaskan situasi ekonomi dalam negeri. Situasi yang kita hadapi memang situasi yang belum pasti. Kita harus selalu waspada. Yang perlu dilihat bahwa otoritas terkait, baik pemerintah, BI, dan OJK  terus berkoordinasi sehingga stabilisasi terus berjalan," ujarnya. Pihaknya menyarankan  masyarakat tetap tenang. Serta ikut mengkonversikan uang kita ke valas, menggunakan produk dalam negeri. "Lalu untuk liburan keluar negeri kurangi dahulu. Intinya, tolong berbagai pihak masyarakat membantu mencoba mengurangi dominasi dolar," jelas  Doddy. Sementara itu, terkait nilai tukar rupiah  yang mendekati  Rp 15.000 perdollar Amerika, menurutnya, kondisi itu sangat berbeda dengan nilai tukar yang sama yang terjadi pada krisis tahun 1998. Maka itu, kedua hal tersebut tidak bisa disamakan secara serta merta. Menurutnya, nilai tukar itu adalah salah satu indikator ekonomi yang namanya relative price, yaitu harga relatif. Dia tidak bisa dilihat sebagai angka absolut.

"Angka 15 ribu sekarang beda dengan 15 ribu 20 tahun lalu, jelas beda. Jadi jangan serta merta disamakan. Ini salah satu pemahanan yang harus kita tanamkan ke berbagai pihak," tegasnya. Menurut Doddy, berbagai pihak saat ini  melihat nilai tukar mata uang sebagai angka psikologis. Padahal, kata dia, nilai tukar mata uang seharusnya yang dilihat pergerakan angkanya. Di Australia, Korea, Malaysia, Thailand, nilai tukar bergerak nyaris tidak pernah jadi berita besar. Kecuali perubahannya sangat cepat.

"Orang tidak melihatnya sebagai angka psikologis, tapi seberapa cepat bergeraknya. Jika angka bergerak hanya 8 persen seperti saat ini dibandingkan semisal naik dari level 2.500 sampai ke 15 ribu, ya jelas berbeda, itu sangat jauh kenaikannya. Ini harus terus kita tanamkan ke masyarakat. Nilai tukar jangan dilihat dari levelnya, tapi lihat pergerakannya," ujarnya.

Doddy juga menegaskan, kondisi ekonomi makro saat ini sangat berbeda dengan yang terjadi saat krisis tahun 1998. Pada tahun 98 inflasinya 78,2 persen. Sementara saat ini sekarang hanya 3,2 persen.

"Tahun 98 berapa cadangan devisanya? USD 23,62 miliar  sementara sekarang 118,3 miliar USD. Tahun 98 berapa tingkat kredit macet? Lebih dari 30 persen. Sekarang hanya 2,7 persen dan trennya terus turun, dan lain sebagainya. Yang jelas, tahun ini lebih baik daripada tahun 98. Jadi, ironis jika ada yang bilang tahun ini kita krisis seperti tahun 98," pungkasnya.

Sementara, Juru Bicara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sekar Putih Djarot mengatakan, dari sisi penghimpunan dana,  tumbuh sebesar 6,8 persen. Dari hal itu pihaknya melihat bahwa kondisi masih terjaga dalam manageble. Pihaknya mendukung pemerintah dalam sejumlah program ekonomi yang sedang dijalankan.

Sedangkan Staf Ahli Bidang Kebijakan Penerimaan Negara Kemenkeu Robert Leonard Marbun menambahkan, pihaknya dari Kemenkeu bersinergi dengan OJK, BI, Kemennko Pereknomian mengendalikan, menjaga stabilitas dan kepercayaan pasar.

"Dengan demikian kami berupaya mengurangi dampak negatif dari faktor eksternal. Intinya, kami dari masing-masing K/L bersinergi dan melihat mengapa ini terjadi. Sehingga bagaimana ekonomi Indonesia bisa bertumbuh dan pertumbuhan ekonomi menguat,"  ujarnya.

Robert menambahkan, jika dilihat semua negara mayoritas tumbuh, kuenya diperebutkan semua negara. Ekonomi Tiongkok dan India sedang tumbuh. Berarti sebaran ekonomi dunia sedang bertumbuh pula.

"Semua negara masih positif, di tahun 2019 juga masih postif, semua negara juga masih positif. Berarti kita masih akan tetap panjang nafas perekonomiannya. Bagaimana kita mengeluarkan porsi yang respontif dan antisipatif," bebernya. Lebih lanjut Robert mengatakan, jika dilihat nilai tukar kita masih landai. Pergerakan rupiah lebih landai. Sementara negara lain seperti Argentina dan Turki lebih tinggi. Selain itu, inflasi juga masih di bawah, suku bunga juga landai.

"Jika landai, artinya masih dipercaya investor. Tingkat suku bunga yang diberikan juga turun, bukan naik. Jika dilihat kepercayaan konsumen Indonesia sangat tinggi. Jadi kami berbicara data, ini data yang terpublikasi luas. Sehingga orang luar juga percaya pada kita," tegasnya.

Selain itu lanjut Robert,  ekspor indonesia itu masih primer.Pertumbuhan ekonomi juga masih tinggi, kontribusi pertumbuhan   artinya masih bagus. Pertumbuhan ekonomi sektor penyumbang terbesar adalah sektor primer yaitu pertanian. Lalu juga dari logistik e-commerce (perdagangan online) ecommerce. 

"Berikutnya dari pertumbuhan tadi, kalau pengeluaran ekspor bertumbuh 7,7 persen. Hanya kecepatannya diambil-alih oleh impor tadi, kebanyakan itu investasi maupun barang-barang modal yang masuk ke kita," pungkasnya. (dai)


TOPIK BERITA TERKAIT: #rupiah-melemah #nilai-tukar-dolar #bank-indonesia #nilai-tukar-rupiah 

Berita Terkait

IKLAN