Rabu, 21 November 2018 05:12 WIB
pmk

Nasional

Karinding, Suaranya Bisa Bikin Merinding

Redaktur:

TRADISIONAL-Babah (kanan) dengan alat musiknya. Foto. NASUHA/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - DAHULU karinding dikenal sebagai alat permainan saja. Tapi kini karinding menjadi alat musik yang bisa dikolaborasikan dengan alat musik modern.  Seperti ini kisahnya

NASUHA, BOGOR

ADA  yang menarik pengunjung di Kemah Seni Humaland di Bogor, Jawa Barat. Rasa ingin tahu pun mengerakkan kaki ini ke sekelompok seniman yang tengah duduk beralaskan tikar, di bawah pohon mungur yang usianya diperkirakan sudah puluhan tahun itu.

Sejenak mengamati, pengunjung kagum dengan alunan musik yang dimainkan seniman-seniman itu. Bagi masyarakat awam, ada yang unik dari beberapa alat musik yang dimainkan. Terbuat dari bahan dasar bambu, alat musik yang mengiringi gitar tersebut hanya dimainkan dengan dipukul. Hasil getaran dari alat musik tersebut menciptakan suara yang merdu dari rongga mulut pemainnya. Pengunjung pun sangat menikmati. Seakan-akan sedang berada lingkungan alam yang teduh dan asri.

Mukhlis Ponco (40 tahun), yang akrab disapa “Babah”, pemilik Workshop Karinding Nusantara kepada media ini menjelaskan bahwa alat yang dimainkannya bernama Karinding . Pria kelahiran Jakarta, 14 September 1978 ini menerangkan, bagi generasi milenial saat ini alat musik karinding mungkin kurang populer dan terdengar asing. Walaupun alat musik tradisional ini tidak sedikit ditemukan di tiap wilayah di Indonesia.

“ Pada awalnya karinding bukan alat musik. Tapi hanya alat permainan yang pernah trend pada zamannya dulu. Alat ini kerap dimainkan oleh anak-anak remaja, menimbulkan irama-irama musik,” ujar Babah kepada INDOPOS saat Kemah Seni yang digelar Yayasan Tiara Humaland di Pondok Ranggon, Kelurahan Sasak Panjang, Kecamatan Tajur Halang, Kecamatan Bogor, Sabtu (8/9) lalu.

Suami dari Rita Safitri (43 tahun) ini menyebutkan, karinding tidak hanya ada di wilayah Sunda, Jawa Barat, namun di berbagai wilayah seluruh dunia karinding memiliki nama dan cara memainkan yang berbeda-beda.

Karinding dari Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) bernama Slober, cara memainkkannya dengan ditowel. Karinding yang ditarik ada di Jawa dengan nama Rinding. Di Bali bernama Genggong, di Papua bernama Pikon, dan beberapa daerah lain dengan berbeda.

Satu-satunya karinding yang dipukul, berasal dari wilayah Sunda. Sementara karinding dari luar negeri rata-rata ditowel dan terbuat dari besi. “ Di beberapa wilayah, karinding menjadi daya tarik, karena ada mantra-mantra tertentu saat memainkannya,” terangnya.

Anak keenam dari tujuh bersaudara pasangan (alm) Hambadi dan Muini (75 tahun) ini menuturkan, di beberapa daerah, karinding dimainkan untuk ritual-ritual tertentu seperti penanaman padi, penanaman pohon, atau upacara adat lainnya. Seperti salah satunya di wilayah Cisungsang, Banten. Karinding masih dipakai untuk ritual sebelum penanaman padi. Sementara itu, di wilayah Rangkas ada empat mantra karinding yang menjadi daya tarik lawan jenis. Suaranya bisa bikin merinding.

“Makanya orang dahulu bilang saat mau ngapel, ceweknya yang sedang tidur dibangunkan dari luar rumah dengan suara karinding. Padahal suaranya pelan, tapi bisa membangunkan. Itulah daya pikat karinding,” ungkap Babah.

Lebih jauh Babah mengatakan, permainan karinding ternyata sangat bermanfaat bagi kesehatan. Karena kita menggemakan suara getaran dari lidah Karinding ini ke seluruh bagian dalam tubuh. Jadi ruang rongga nafas dari hidung sampai ke bawah perut menggemakan suara karinding, sehingga melancarkan aliran darah.

Saat berbincang dengan INDOPOS, Babah memperagakan filosofi cara memainkan karinding yaitu yakin, sabar dan sadar. Tanpa memakai filosofi tersebut, siapapun tidak bisa memaikan karinding dengan sempurna. Filosofi pertama adalah pegangan, yang bermakna sebagai keyakinan yang kuat, sebab getaran itu harus ada tempat statis agar lama bergetar.

Filosofi kedua, masih ujar Babah, adalah pukulan yang menghasilkan getaran, bermakna kesabaran yang akan terasa di dalam rongga tubuh. Saat dipadukan dengan alat music modern, menurut Babah, karinding berperan sebagai rhytm dan perkusi. Untuk pemula, satu karinding akan menimbulkan satu nada. Bagi yang sudah mahir, satu karinding bisa menimbulkan tiga nada, karena saat memainkannya melibatkan tiga ruang dalam tubuh yaitu rongga mulut, tenggorokan, dan rongga perut.

“ Untuk membuat karinding, jenis bambu yang bagus digunakan jenis bambu betung kering. Standar ukurannya, jarak antara pemukul dengan bunyi, 3 banding 2. Biasanya ukurannya bisa menggunakan tiga jari dan dua jari. Untuk panjang pegangannya bebas dan bisa disesuaikan,” terangnya.

Sebagai bentuk gerakan pelestarian budaya, Babah bersama empat rekannya mendirikan Workshop Karinding Nusantara. Selama lima tahun berjalan, mereka sudah melakukan workshop di berbagai wilayah di Indonesia. Seperti di Jakarta, Banten, Yogyakarta, Semarang, Palu, Bali, dan Malang. Bahkan wilayah-wilayah tersebut kini didaulat sebagai wilayah gerakan dengan mendirikan sanggar karinding. Seperti Barak Karinding, Sekar Gelok, Karinding Ujung Kulon, Karang taruna di Gunung kidul, dan lain-lain.“Kami merambah ke ruang-ruang kelas sekolahan mulai dari SD, SMA hingga kampus,” bebernya. (*)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kesenian-tradisional 

Berita Terkait

IKLAN