Sabtu, 17 November 2018 06:20 WIB
pmk

Internasional

Rusia Tolak Kebijakan Pensiun

Redaktur:

UNJUK RASA - Peserta aksi demonstrasi menentang kebijkan program pensiun terbaru dari pemerintah Rusia di Pushkin Square, Moskow. SPUTNIKNEWS.COM

INDOPOS.CO.ID – Lebih dari 80 kota di Rusia bergolak sejak Minggu (9/9). Massa turun ke jalan untuk memprotes kebijakan pensiun terbaru yang kini mulai disosialisasikan. Aparat terpaksa mengamankan ribuan demonstran.

Reuters melaporkan bahwa aksi massa itu digerakkan pemimpin oposisi Alexei Navalny. Kabarnya, dia sendiri yang meminta rakyat turun ke jalan pada tanggal cantik kemarin. Masyarakat Rusia mereaksi positif ajakan Navalny. Di ibu kota saja, lebih dari dua ribu orang tidak gentar berhadapan dengan aparat. Mereka mengusung tulisan-tulisan anti pemerintah. Salah satunya, ’’Putin adalah pencuri’’.

’’Saya datang ke sini untuk melawan reformasi pensiun. Saya ingin menikmati masa tua saya di negara ini,’’ ujar Nikolai Borodin, 22, salah seorang pendemo. Karena dianggap meresahkan, polisi pun berusaha membubarkan massa. Tapi, karena jumlahnya sangat banyak dan tersebar di berbagai kota, aparat lantas berusaha mengakhiri paksa unjuk rasa tersebut dengan menangkapi para pentolan aksi. Yang kali pertama ditangkap adalah anak buah Navalny yang tersebar di 33 kota.

Media lokal melaporkan bahwa aparat tak segan menangkap para lansia dan anak-anak yang ikut turun ke jalan. Sebagian besar demonstran yang ditangkap adalah remaja dan pemuda. OVD-Info, organisasi HAM di Rusia, melaporkan bahwa aparat menangkap ribuan warga dalam aksi sehari itu. Selanjutnya, CNN mencatat jumlah warga yang diamankan sekitar 1.018 orang. Penangkapan terbesar terjadi di Kota St Petersburg dengan jumlah total 452 orang. Sampai kemarin, penangkapan masih berlangsung.

Presiden Rusia Vladimir Putin baru saja menaikkan batas usia pensiun. Untuk pria, batas pensiun dinaikkan dari 60 tahun menjadi 65 tahun. Selanjutnya, batas pensiun perempuan dinaikkan dari 55 tahun menjadi 60 tahun. Hal tersebut hanya berbeda sedikit dengan angka harapan hidup di Rusia yang mencapai 66 tahun untuk pria dan 77 tahun untuk perempuan.

’’Anggapan bahwa pemerintah Rusia adalah bapak rakyat sudah berangsur hilang dan aturan baru itu menguatkan kebencian rakyat,’’ ujar analis politik Ekaterina Schulmann kepada The Independent. (bil/c22/hep/jpg)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #rusia #demonstrasi 

Berita Terkait

Guru Honorer Mogok Mengajar

Megapolitan

Ribuan Pegawai Honorer Tuntut Keadilan

Jakarta Raya

IKLAN