Rabu, 19 September 2018 10:05 WIB
pmk

News in Depth

Pertamina Pastikan Berjalan Optimal

Redaktur:

Grafis GIMBAL/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Pertamina memastikan penerapan B20 berjalan optimal. Bahkan saat ini sudah mencapai 95 persen di seluruh Indonesia. Hal itu diungkapkan Direktur Utama PT Pertamina Nicke  Widyawati, saat meninjau SPBU COCO Kuningan, pekan lalu. ”Implementasinya sudah 95 persen penerapannya di seluruh SPBU. Tinggal sisanya 5 persen itu di Indonesia Timur, seperti Papua. Harus mampir dulu suplainya ke BBM utama baru ke sana. Itu perlu waktu. Yang penting komitmen. Semua komit. Kapan dilakukan? Segera mungkin,” terang Nicke. 

Ia menambahkan, suplai bahan Fame (Fatty Acid Methyl Esters) untuk campuran bahan bakar nabati tersebut kepada 52 titik terminal juga sudah tidak ada masalah. ”Kita sudah sepakat dengan suplier fame, itu khususnya di Indonesia timur,” jelas Nicke. 

Lebih lanjut ia mengatakan, pihaknya saat ini fokus penerapan B20. Adapun harga solar B20 di SPBU itu sama seperti sebelumnya yakni Rp 5.150. ”Kami akan terus mengedukasikan mengenai manfaat B20.  Ternyata dengan B20 lebih baik dan lebih irit. Tadi saya juga sudah bertanya ke pelanggan,” jelas Nicke.

Ia menambahkan, B20 diimplementasikan adalah untuk lingkungan lebih baik untuk jangka panjangnya. Karena karbon emisinya lebih rendah. ”Kalau dulu diberlakukan untuk PSO,  sekarang seluruhnya. Termasuk industri,” jelas Nicke.

Ia menambahkan, adanya kekhawatiran sebelumnya bagaimana mesinnya. Tadi ia mendengar langsung pelanggan di SPBU Kuningan, Jakarta Selatan, yang sudah cukup lama menerapkan biodiesel. ”Tadi katanya lebih baik untuk kendaraan. Harga sama, kualitas lebih baik, buat lingkungan. Untuk mengurangi impor juga. Bagus buat devisa negara,” ujarnya. 

Lebih lanjut Nicke menambahkan, pihaknya tidak memproduksi B20. Kilang tetap memproduksi solar. Saat ini prinsipnya mengoptimalkan yang ada dulu. Dan tidak menambah tangkinya. ”Pertamina hanya mencampur,  yang tadinya B0 jadi B20,” jelasnya. Namun ke depannya, Pertamina memang berencana  membangun kilang Green Fuel. Ada kilang untuk memproduksi green fuel, untuk CPO. ”Tapi itu nanti. Sekarang kita mencampur dan memproduksi saja.  
Tapi itu rencana, untuk CPO di Dumai dan Plaju. Itu kan suplainya banyak. Tahapan masih akan dilakukan,” tandasnya.

Sementara, program ini disambut positif Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) karena tujuan kebijakan ini untuk mendorong industri usaha sawit dan penggunaan energi terbarukan. Ketua Kebijakan Publik Apindo, Sutrisno Iwantono mengatakan, kebijakan ini juga bisa mengurangi impor dalam rangka menyehatkan neraca pembayaran dan mengurangi defisit transaksi berjalan. Selain itu mendukung terciptanya stabilisasi harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO).

Biodisel (B20) merupakan bahan bakar minyak jenis solar yang dicampur 20 persen komponen minyak kelapa sawit. Mandatori penggunaannya sudah tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) nomor 24 tahun 2016 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden nomor 61 Tahun 2015 tentang Penghimpunan dan Penggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit. ”Kebijakan ini bagus ya, karena bisa mengurangi impor. Apindo akan terus mengawasi bagaimana perkembanganya. Dan ini membantu industri usaha kelapa sawit, karena dengan penggunaan kelapa sawitnya banyak maka permintaannya akan cukup tinggi,” ujar Ketua Kebijakan Publik Apindo Sutrisno Iwantono, kepada INDOPOS melalui sambungan telepon, Jakarta, belum lama ini.

Adapun hal yang harus diperhatikan pengguna menurut Sutrisno, gantilah filternya dan bersihkan tankinya karena CPO ini bersifat sabun, membersihkan tanki dan filter tapi kalau awalnya kotor akan masuk ke mesin. ”Tapi harus perhatikan sifat dari B20, yang jelas aman untuk mesin,” jelas Sutrisno.

Sutrisno optimisme kenaikan ekspor CPO didorong dengan bakal tumbuhnya sejumlah pasar ekspor baru yang menjadi alternatif pasar ekspor yang selama ini sudah digarap. Akan tetapi, ia menyarankan pemerintah terus melalukan inovasi dalam menciptakan bahan bakar. Sehingga ada alternatif lain dari bahan bakar nabati. Meksi produk itu masih dinilai sebagai minyak nabati terbaik yang tidak tergantikan. ”Seharusnya ada alternatif lain tidak hanya CPO saja, bisa juga bila digunakan terus menurus akan habis,” tutur Sutrisno.

Pada 15 Agustus 2018, diterbitkan Perpres Nomor 66 Tahun 2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2015 Tentang Penghimpunan dan Penggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit. Dalam Perpres ini sebagai payung hukum dilakukannya perluasan penerapan B20 baik untuk sektor Publik Service Obligation (PSO) maupun non-PSO. (dai/cr-2)


TOPIK BERITA TERKAIT: #news-in-depth 

Berita Terkait

IKLAN