Kamis, 15 November 2018 06:07 WIB
pmk

Hukum

KPK Didesak Usut Dugaan Korupsi Proyek Ancol Beach City dan Gedung Musik Stadium

Redaktur: Redjo Prahananda

Ratusan massa dari Komite Angkatan Muda Pendobrak dan Pemberantasan Korupsi (KAMPAK) mendatangi Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta Selatan, Rabu (12/9/2018). Yudha Krastawan

INDOPOS.CO.ID - Ratusan massa dari Komite Angkatan Muda Pendobrak dan Pemberantasan Korupsi (KAMPAK) mendatangi Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta Selatan, Rabu (12/9/2018). Mereka mengadukan dugaan terjadinya korupsi dalam proyek Ancol Beach City dan pembangunan Gedung Musik Stadium senilai Rp 118 miliar.

"Bersama ini kami sampaikan pengaduan dugaan tindak pidana korupsi, yang merugikan keuangan negara yang terjadi dilingkungan PT Pembangunan Jaya Ancol (PJA)," kata Koordinator KAMPAK, Gunawan.

Dalam pengaduannya itu, pihaknya juga menuntut lembaga anti rasuah segera menangkap Dirut Wahana Agung Indonesia Propertindo (WAIP), Fredie Tan dan Direktur Keuangan PT PJA, Budi Karya Sumadi yang sekarang menjabat Menteri Perhubungan. Ia menduga keduanya sama-sama diduga terlibat dalam kasus proyek tersebut.

Kasus ini sendiri bermula pada akhir tahun 2003. Pada saat itu, Dirut PT Putra Teguh Perkasa (PTP), Ali Yoga menawarkan proyek Ancol Beach City dan Gedung Music Stadium kepada Fredie Tan alias Awi.

"Namun dalam perjalanannya, Fredie Tan, dengan memakai PT Paramitha Bangun Cipta Sarana (PBCS), berhasil mengambil-alih proyek tersebut," ungkap Gunawan.

Pada tanggal 10 Agustus 2004, lanjut dia, PBCS membuat perjanjian kejasama BTO (Build, Transfer, Operation) proyek Ancol Beach City dan Gedung Musik Stadium dengan PT PJA, di atas lahan seluas 39.000 M2, yang ditandatangani oleh Fredie Tan alias Awi selaku Dirut, dan pada saat itu Budi Karya Sumadi menjabat sebagai Direktur Keuangan PJA (2001-2004). PBCS memiliki hak pengelolaan atas proyek tersebut selama 25 tahun yang akan berakhir pada 10 Agustus 2019. Setelah masa perjanjian berakhir, PBCS akan mengembalikan tanah dan bangunan serta sarana penunjang kepada PJA.

"Bahwa Fredie Tan, yang berkantor di Jl Pantai Indah Barat Kompleks Toho PIK Blok E No. 12 Kamal Muara Jakarta Utara itu merupakan karib Budi Karya Sumadi. Kiprah korupsi Fredie Tan, seperti mengikuti jejak karir Budi Karya Sumadi di pemerintahan," beber Gunawan.

Pada tahun 2012, saat Budi Karya Sumadi menjadi Dirut PT Jakarta Propertindo (2004-2013), Fredie Tan ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik pidana khusus Kejakasaan Agung atas dugaan korupsi penjualan 5000 m2 lahan PT Jakarta Propertindo (Jakpro) di Pluit, yang merugikan negara sebesar Rp 68 miliar. Ia ditetapkan tersangka bersama 2 orang lainnya yakni Komisaris PT. Delta Jakarta, Oky Sukasah, dan mantan Dirut Jakpro (BUMD), I Gusti Ketut Gede.

"Penetapan tersangka diduga dilokalisir oleh penyidik pidsus Kejagung RI, sehingga mengakibatkan Budi Karya Sumadi lolos dari jeratan hukum. Namun di ujung perjalanan kasus ini di SP3 oleh Pidsus Kejagung RI," ungkap Gunawan.

Sementara dalam perjanjian pembangunan proyek Ancol Beach City dan Gedung Music Stadium, perusahaan milik Fredie Tan, PBCS wan prestasi, karena pembangunan tidak kunjung dilakukan sehingga berujung pada terjadinya pemutusan perjanjian.

Pada tanggal 26 April 2007, melalui Akte Notaris No. 208 yang diterbitkan kantor Notaris Sutjipto, SH, di Jakarta, perjanjian dialihkan kepada WAI. Berdasarkan perjanjian tersebut, jangka waktu WAI untuk membangun selambat-lambatnya tanggal 31 Agustus 2010. Sedangkan jangka waktu pengoperasian 25 tahun
terhitung sejak tanggal Berita Acara Serah Terima Proyek/Pengalihan Proyek. "Lagi-lagi wan prestasi, pelaksanaannya mengalami keterlambatan. Lalu pada tanggal 28 Agustus tahun 2010 beralih lagi ke PT. WAIP, yang Direktur Utamanya adalah Fredie Tan," ungkapnya lagi.

Pada 20 Desember 2012, Gunawan juga menjelaskan, telah dilakukan serah terima proyek Ancol Beach City oleh WAIP kepada PJA, berdasarkan Berita Acara Serah Terima Bangunan Music Stadium Tahap I Nomor: 021/DIR-PJA/XII/2012, dan Berita Acara Serah Terima Pengalihan Bangunan Music Stadium Tahap II
Nomor: 003/DIR-PJANII/2013 tanggal 31 Juli 2013.

Bahwa ditengah jalan pada 21 Maret 2012, WAIP mengikat perjanjian BTO (Bulid, Transfer, Operation) proyek Ancol Beach City (ABC) dan Gedung Music Stadium disewakan WAIP selama 25 tahun kepada pihak ketiga yakni PT Elang International Stadium (MEIS), direkayasa seolah-olah tanpa sepengetahuan PJA dan DPRD.

"Bahwa, Fredie Tan menipu MEIS dengan mengaku bangunan proyek Ancol Beach City dan Gedung Music Stadium yang dikerjasamakan dengan MEIS diakui sebagai miliknya. Padahal sudah menjadi asset PJA, setelah dilakukan serah terima, berdasarkan Fredie Tan hanya pengelola," jelas dia Dalam perjanjian WAIP- MEIS selama 25 tahun, Fredie Tan membuat konstruksi nilai per meter perseginya Rp 6,7 juta/M2/25 tahun, dari seharusnya Rp. 21,5 juta /M2/25 tahun. "Hal ini diduga bertujuan sekadar menipu MEIS agar secepatnya dapat menggelontorkan dana kepada Fredie Tan. Setelah dana digelontorkan MEIS kepada Fredie Tan sebanyak Rp 250 miliar MEIS direkayasa oleh Fredie Tan agar wan prestasi, sehingga bisa kembali lagi kepada dirinya. Dana hasil penipuan sebesar Rp 250 miliar ini diduga dibagi-bagi antara lain kepada pejabat PJA sebagai upah praktek pembiaran dan pengabaian yang dilakukan pihak Pengguna Barang dalam hal ini Budi Karya Sumadi dan kawan-kawan, yang nyata-nyata membiarkan atas berbagai pelanggaran hukum yang dilakukan Fredie Tan," pungkas Gunawan.(ydh)


TOPIK BERITA TERKAIT: #dugaan-korupsi-proyek-ancol-beach-city-dan-gedung-musik-stadium #kpk #kampak 

Berita Terkait

IKLAN