Rabu, 21 November 2018 05:13 WIB
pmk

Headline

Hobi Gonta-ganti Direksi BUMN

Redaktur:

INDOPOS.CO.ID - Pergantian direksi perusahaan di bawah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi sorotan. Apalagi ada beberapa perusahaan BUMN yang dalam rentang tidak lama mengganti sejumah direksinya. Anggota DPR RI  Bambang Haryo melihat, bongkar pasang jajaran direksi dianggap mengecewakan. Sebab, hasilnya tidak maksimal mendongkrak keuntungan.

 "Sejumlah pergantian direksi di BUMN, kalau dilihat dari laba atau keuntungan  tidak terlalu siginifikan. Misalnya seperti pergantian direksi Garuda dan Pertamina," ujar Bambang Haryo di Jakarta, Kamis (13/9).

Lebih lanjut anggota Komisi V DPR RI itu mengatakan, setidaknya ada tiga perusahaan BUMN yang sangat berkarakter. Yakni Pertamina, Garuda, dan Pelindo. "Direktur utamanya harus betul-betul orang yang mengerti masalah teknis.  Seperti soal transportasi untuk Garuda dan Pelindo. Juga energi atau migas untuk Pertamina," jelas Bambang.

Untuk Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra   yang menggantikan Pahala N. Mansury, dewan masih berharap Garuda bisa untung."Sebelumnya  pernah di Garuda. Ini saya pikir masih bisa survive. Garuda itu, Rp 2,8 triliun  kerugiannya. Kami harap bisa untung nantinya," jelas Bambang.

Namun begitu, pihaknya juga menanyakan kenapa Garuda tidak dikembalikan ke direksi yang lama. Sebelumnya saat dipimpin  Arief Wibowo, pernah untung.

"Beliau tahu masalah teknis. Serta bisa membawa Garuda untung. Tapi malah diganti," jelas Bambang.

Menurutnya, wajar saja rakyat menanyakan, keuntungan perusahaan BUMN. Sebab itu perusahaan milik negara. "Karena ini perusahaan BUMN ditargetkan, mendapatkan keuntungan. Supaya hasilnya juga bisa dirasakan rakyat banyak," jelas Bambang.

Selain itu, Pertamina juga pernah dipimpin Dwi Sutjipto yang mampu membawa keuntungan 300 persen. Padahal saat itu pendapatan Pertamina sedang turun."Tapi lagi-lagi malah diganti. Direksi perusahaan BUMN yang berkarakter itu tidak bisa sembarang gonta-ganti. Dampaknya nanti kepada rakyat, rakyat akan terbebani, harga dinaikkan untuk menutup kerugian," beber Bambang.

Sekadar diketahui, sebelum diisi oleh Nicke Widyawati, pada tahun 2017 posisi direktur utama Pertamina diisi oleh Elia Massa Manik. Elia menjalani masa jabatannya kurang lebih selama 13 bulan sejak diangkat pada 16 Maret 2017.

Selain itu kata dia, pada semester I 2018,  PLN juga rugi, sekitar Rp 5 triliun. Pada 2019  diusulkan mendapatkan penyertaan modal negara (PMN). 

"Bu Rini menempatkan direksi-direksi BUMN strategis tidak boleh asal-asalan.

Apalagi kalau sampai dipolitisasi. Pergantian direksi itu tujuannya untuk meningkatkan kinerja BUMN itu. Namun BUMN kita jadi terpuruk. Padahal BUMN milik seluruh rakyat. Deviden yang disetorkan juga tidak banyak. Padahal PMN pernah digelontorkan ke BUMN pada 2015.

Sekarang utang BUMN saja sekitar Rp  4.800 triliun. Sudah mendekati Rp 5 ribu triliun. Itu utang BUMN doang. Belum utang pemerintah," pungkasnya.

Terpisah, Ketua Ikatan Pascasarjana Konstruki Universitas Indonesia (UI)  Sahat Saragih mengatakan pergantian direksi BUMN merupakan kewenangan Menteri BUMN. "Namun  jangan sampai yang dipilih karena pertimbangan subjektif, hingga membuat BUMN terpuruk," ujarnya Kamis (13/9).

Sahat juga mengatakan, pergantian direksi BUMN Karya, juga tidak terlalu signifikan. "Itu lebih banyak tukar posisi. Yang tadinya di BUMN Karya A, pindah ke B. Muter itu-itu saja sepertinya," jelasnya. 

Sedangkan Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia Yusri Usman mengatakan, memang sangat disesalkan proses bongkar pasang direksi dan struktur organisasi BUMN paling strategis. Hal itu menurutnya,  tentu akan berdampak luas terhadap kinerjanya. Mungkin mencatat rekor paling tinggi dalam sejarah Pertamina berdiri.

"Apalagi Pertamina mengurus kebutuhan hidup hajat orang banyak BBM dan LPG. Kalau katanya dulu perubahan struktur organisasi dan menyebabkan bongkar pasang direksi tentu dipertanyakan uang yang sudah dibayarkan kepada konsultan menjadi sia-sia," ujarnya Kamis (13/9).

Lebih lanjut Yusri mengatakan,  hasil laporan kinerja keuangan Pertamina semester I tahun 2018 anjlok 73 persen. "Sampai dengan  semester 2 bisa jadi Pertamina tidak bisa mencetak laba apabila pemerintah tidak menyesuaikan harga jual BBM penugasan premium dan BBM subsidi solar," terangnya.

Sebelumnya, Menteri BUMN Rini M. Soemarno, saat ditanya wartawan Rabu (12/9) mengatakan  perombakan direksi BUMN merupakan hal yang biasa. Pertimbangan kecocokan dan kinerja juga menjadi perhatian. Ia juga menegaskan  perombakan direksi tidak asal dilakukan.

"Kementerian BUMN melakukan analisis secara menyeluruh sebelum menempatkan orang di posisi direksi BUMN," jelasnya.

Misalnya untuk direksi Garuda dibutuhkan expertise yang bagaimana, menjadi perhatian." Jadi itu semua kita analisa secara total. Tujuannya untuk meningkatkan kinerja BUMN," pungkasnya. (dai)

Pergantian Sejumlah Direksi BUMN Tahun Ini

-PT PN III: Dolly P Pulungan (Wakil Direktur Utama), Seger Budiarjo (Direktur SDM dan Umum), Nurhidayat (Direktur Tanaman Tahunan),
M Cholidi (Direktur Tanaman Semusim), I Kadek Kertha Laksana (Direktur Pemasaran), Jatmiko Krisna Santoso (Direktur Keuangan)

- PT Waskita Karya Direktur Utama I Gusti Ngurah Putra, Direktur Human Capital Management: Hadjar Seti Adji, Direktur Keuangan: Haris Gunawan, Direktur Operasi I: Didit Oemar Prihadi, Direktur Operasi II: Bambang Rianto, Direktur Operasi III: Fery Hendriyanto , Direktur Quality, Health, Safety & Environment: Wahyu Utama Putra

-PT Bukit Asam:  Direktur Keuangan Mega Satria

-Perum Bulog  Dirut  Budi Waseso

-PT Krakatau Steel: Direktur Utama Silmy Karim,  Direktur Keuangan: Tardi, Direktur SDM: Rahmad Hidayat, Direktur Logistik dan Pengembangan Usaha: Ogi Rulino,  Direktur Produksi dan Teknologi: Wisnu Kuncoro, Direktur Pemasaran: Purwono Widodo 

-PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) Gigih Prakoso Soewarto

-PT Garuda Indonesia Direktur Utama I Gusti Ngurah Askhara

-PT Danareksa (Persero): Direktur Utama Arief Budiman

-PT Pertamina:  Direktur Utama: Nicke Widyawati, Direktur Keuangan Pahala N Mansury, Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia  Ignatius Tallulembang

 

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #pergantian-direksi-bumn #bumn 

Berita Terkait

Ini Cara BUMN Memperingati Hari Pahlawan

Headline

BUMN Realisasikan 1.500 Huntara di NTB

Ekonomi

BUMN Kebanjiran Pelamar Kerja

Ekonomi

BUMN Teken Investasi Bernilai Rp 200 Triliun

Ekonomi

IKLAN