Jumat, 21 September 2018 11:20 WIB
pmk

Nasional

Sistem Rujukan Online BPJS Kesehatan akan Seperti Transaksi Tiket Pesawat

Redaktur:

ZAMAN NOW-Deputi Direksi Bidang Pelayanan Peserta BPJS Kesehatan Arief Syaifuddin (kedua kiri).

INDOPOS.CO.ID - Implementasi uji coba digitalisasi rujukan atau rujukan online BPJS Kesehatan siap memasuki fase ketiga yakni 16 - 30 September 2018.
Uji coba sejak 15 Agustus ini terus dievaluasi sampai siap diberlakukan secara umum pada 1 Oktober 2018.

"Implementasi rujukan online diharapkan dapat memberikan kontribusi besar dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan di Indonesia," ujar Deputi Direksi Bidang Pelayanan Peserta BPJS Kesehatan Arief Syaifuddin, di Jakarta (14/09/2018). Menurut Arief penerapan rujukan online dilakukan secara berjenjang. Pihaknya terus menyempurnakan sistem.

"Nanti ke depannya pasien ingin datang di dokter spesialis yang dirujuk di hari apa, jam berapa? Oh misalnya di hari itu penuh maka bisa datang di hari lain. Seperti beli tiket pesawat saja kalau di jam itu penuh ya pindah pesawat," cetus Arief.

Bahkan ke depan, surat rujukan tanpa menggunakan kertas atau paperless. Sebagai penggantinya, surat rujukan akan terpampang pada JKN mobile atau via pesan elektronik. "Seperti tiket paperless, bisa ditunjukkan dengan HP," ungkap Arief.

Tujuan rujukan online adalah memberikan kepastian secara administratif kepada pasien. Sehingga pasien tidak bolak balik. Dampak yang diharapkan, tidak akan terjadi lagi penumpukan pasien di rumah sakit (RS) rujukan tertentu atau kelengangan di RS yang lain.

Untuk tujuan itu, pihaknya terus mendorong peserta untuk memiliki JKN Mobile. "Setidaknya 10 juta pengguna sudah lumayan, kalau sekarang masih sekitar 2 jutaan," paparnya.

Menurut Arief kini yang menjadi tantangan adalah bagaimana peserta memahami dan meyakini. Bahwa pasien akan mendapatkan pelayanan kesehatan berdasarkan pada kapasitas dan kompetensi dari pemberi pelayanan kesehatan, misalnya dokter atau rumah sakit. Upaya edukasi kepada peserta ini memang menjadi tantangan bersama dan diharapkan kontribusi semua pihak.

"Saat ini masih ada mindset di peserta, misalnya hanya cocok mendapat pelayanan di rumah sakit X atau dokter X. Padahal kapasitas atau kompetensi pemberi pelayanan kesehatan lain rumah sakit Y atau dokter Y bisa dikatakan sama. Bisa juga mungkin jaraknya lebih dekat dengan rumah atau tidak ada antrean," ujar Arief.

Fasilitas kesehatan juga diharapkan senantiasa melengkapi dan memperbarui data kompetensi dan sarana. Yakni melalui aplikasi Health Facilities Information System (HFIS). Serta terus mengedukasi konsep rujukan online bagi peserta.

Arief berharap melalui edukasi yang sistemis ini diharapkan dalam fase ke-3 ini pelaksanaan sistem rujukan online akan semakin baik dan dirasakan manfaatnya oleh peserta. Pada jangka panjang, digitalisasi rujukan ini akan mendekatkan peserta JKN-KIS dengan fasilitas kesehatan dan mengurangi antrean dalam pelayanan kesehatan.

Hasil evaluasi pada fase kedua menunjukkan dampak bagi FKTP yaitu bertambahnya pilihan FKTP dalam merujuk peserta ke RS penerima rujukan sesuai kondisi seperti kompetensi, jarak, sarana/prasarana dan kebutuhan medis. Bagi FKRTL dalam fase ini semakin lengkapnya data HFIS (dokter spesialis/sub spesialis, sarana/prasarana dan jadwal praktek) dan bagi peserta semakin mudahnya peserta dalam mengakses pelayanan kesehatan sesuai kondisi medis.

Masuk ke fase ketiga akan dilakukan penyempurnaan khususnya di aplikasi P-Care di FKTP dan V-Claim di FKRTL. Di aplikasi P-Care akan dioptimalkan mekanisme pencarian FKRTL menggunakan kapasitas sesuai kompetensi, rujukan kondisi khusus menampilkan riwayat pelayanan di FKRTL sebelumnya dan penambahan informasi masa berlaku surat rujukan. Untuk aplikasi V-Claim akan Penambahan informasi masa berlaku surat rujukan di SEP (Surat Eligibilitas Peserta).(dni)


TOPIK BERITA TERKAIT: #bpjs-kesehatan 

Berita Terkait

Saat Dua Saudara Kembar Klaim Paling Penting

News in Depth

Jajaki Pendirian Faskes di Masjid-Masjid

Nasional

IKLAN