Senin, 24 September 2018 12:48 WIB
pmk

News in Depth

Harus Aman dan Terintegrasi

Redaktur:

Grafis GIMBAL/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Dua hari jelang berakhirnya masa uji coba Light Rail Transit (LRT), sejumlah evaluasi telah dipetakan oleh PT LRT Jakarta. Direktur PT LRT Jakarta Allan Tandiono mengatakan, ujicoba terbatas dilakukan sejak 15 Agustus lalu. ”Hingga hari ini (kemarin, Red), tidak hal-hal yang negatif. Tapi ada beberapa catatan,” ujar Allan Tandiono kepada INDOPOS di Jakarta, Kamis (13/9).

Salah satu catatan tersebut, menurut Allan, adalah jarak peron dengan LRT. Hal ini untuk mendukung akses bagi penyandang disabilitas. ”Ada usul dari Pak Gubernur, gap antara peron dan LRT jangan terlalu lebar, agar ramah bagi penyandang disabilitas,” katanya.

Selain itu, sistem pengereman yang harus disempurnakan. Pasalnya, dari hasil evaluasi pengereman LRT kerap menemukan pintu LRT tidak tepat dengan Pintu Screen Door (PSD), sehingga cukup merepotkan penumpang untuk masuk ke LRT. Selain itu juga ada beberapa penyempurnaan pada fasilitas layanan LRT Jakarta. ”Dari karyawan kami ada masukan agar sistem sound system LRT dikeraskan. Karena yang ada suaranya agak lemah,” ungkapnya.

Sementara, masih ujar Allan, masukan dari penumpang pada uji coba, salah satunya soal kurang maksimalnya penyejuk udara (AC) dalam LRT Jakarta. Sehingga tidak sedikit penumpang mengeluhkan kepanasan. ”Ini sebenarnya karena pada pengangkutan penumpang sebelumnya jumlahnya tidak terlalu banyak, jadi AC kita turunkan. Pas jam berikutnya penumpang banyak, kita lupa naikkan suhu AC,” terangnya.

Ia menyebutkan, antusias masyarakat untuk naik LRT pada ujicoba sangat tinggi. Bahkan, pada Sabtu (8/9) lalu jumlahnya mencapai 1.018 penumpang dalam tiga jam. ”Itu luar biasa, ramai banget masyarakat yang datang ingin mencoba naik LRT,” katanya.

Allan menuturkan, belum akan membahas soal harga tiket LRT Jakarta. Hal ini sesuai instruksi dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat ujicoba LRT Rabu (12/9) lalu. ”Kami sesuai instruksi Pak Gubernur saja, masih fokus pada penyelesaian safety aman bagi penumpang, jadi administrasi kita kejar pararel,” ungkapnya.

Ia menegaskan, menjadi moda transportasi massal metropolitan maka LRT Jakarta akan terintegrasi dengan angkutan umum lain di Jakarta. Nantinya, LRT Jakarta akan diintegrasikan dengan bus Transjakarta. Tentu selanjutnya pada fase kedua dan ketiga LRT Jakarta juga berintegrasi dengan kereta commuterline, kereta bandara dan MRT. ”Untuk stasiun Velodrome akan kita integrasikan dengan halte busway yang hanya berjarak 150 meter,” ucapnya.

Allan yakin pada akhir tahun 2018 LRT Jakarta bisa beroperasi. Karena, diperkirakan semua konstruksi selesai dan proses penetapan tarif pun selesai. ”Target Pak Gubernur awal tahun 2019 LRT Jakarta sudah beroperasi,” katanya.

Untuk saat ini, menurut Allan, progres pengerjaan proyek LRT hingga sudah mencapai 85 persen atau dalam tahap finishing. Seperti peasangan plafon, tangga dan beberapa fasilitas untuk penumpang di stasiun.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menginginkan, tahap konstruksi pembangunan LRT di Stasiun Velodrome bisa selesai tepat waktu. Karena setiap pembangunan harus memenuhi tiga kriteria, yakni on schedule on budget on quality. ”Kami ingin PT LRT fokus dulu dalam menyelesaikan kontruksinya,” ujar Anies Baswedan.

Ia menyebutkan, memberikan catatan kepada PT LRT Jakarta dalam proses finalisasi kontruksi. Pada fase selanjutnya, menurut Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan LRT harus terintegrasi dengan moda transportasi massal lain di Jakarta. ”Kalau untuk kenyamanan, LRT tentu lebih baik. Sangat nyaman,” ungkapnya.

Lebih jauh Anies menyebutkan, untuk stasiun Velodrome dipastikan tersambung dengan BRT yang lokasinya tidak jauh dari sini. Ini akan memberikan kemudahan bagi setiap warga Jakarta yang menginginkan kendaraan umum. Mereka hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

Disinggung soal tarif LRT Jakarta, Anies mengaku hingga saat ini belum ada keputusan. Karena, penentuan tarif akan dilakukan setelah proses pembangunan LRT selesai. Saat ini, menurutnya, pembangunan LRT lebih difokuskan pada aspek keselamatan LRT bagi penggunanya. ”Safety itu yang paling utama, kita ingin memastikan semua pengguna LRT bisa menggunakan tanpa harus mendapatkan risiko apapun begitu juga dengan lingkungan sekitarnya,” tuturnya.

Salah satu catatan yang diberikan kepada PT LRT Jakarta, menurutnya adalah jarak antara gerbong dan peron yang masih cukup jauh. Oleh karena itu, pihak LRT harus segera melakukan perbaikan dan solusi yang tepat. ”Begitu juga dengan lingkungan sekitarnya. Jadi risikonya harus nol. Karena itu semua potensi risiko diminimalisasi dan disiapkan langkah-langkah konkritnya termasuk tadi ketika melihat ada jeda antara gerbong dengan peron,” ungkapnya. (nas)


TOPIK BERITA TERKAIT: #news-in-depth 

Berita Terkait

IKLAN