Ekonomi

Ekspektasi Pasar Tak Sesuai Harapan, Rupiah Kembali Bergolak

Redaktur:
Ekspektasi Pasar Tak Sesuai Harapan, Rupiah Kembali Bergolak - Ekonomi

KEOK-Nilai tukar rupiah kembali melepuh atas dolar Amerika Serikat (USD). Berdasar kurs tengah Bank Indonesia (BI) Senin (17/9), rupiah ditransaksikan di kisaran Rp 14.859 per USD. Itu terjadi setelah ekspektasi pelaku pasar terhadap neraca perdagangan Indonesia tidak sesuai harapan. TONI SUHARTONO/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Nilai tukar rupiah kembali tidak berdaya dihdapan dolar Amerika Serikat (USD). Berdasar kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada perdagangan Senin (17/9), rupiah ditransaksikan di kisaran Rp 14.859 per USD.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengungkapkan depresiasi itu terjadi menyusul ekspektasi pasar terhadap defisit neraca perdagangan Indonesia Agustus 2018 terlalu tinggi. Faktanya, defisit neraca perdagangan fase Agustus 2018 malah tekor USD 1,02 miliar. Betul, sedikit mengalami perbaikan dibanding Juli USD 2,03 miliar. Namun, ekspetasi pasar melebihi dosis perbaikan itu. Efeknya, rupiah di pasar spot tertekan sepanjang perdagangan. ”Harapan pasar mungkin lebih dari itu. Kita lihat prosesnya ada progres bagaimana defisit itu dari neraca perdagangan lebih kecil,” tutur Dody di Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (17/9).

Dody bilang kondisi itu harus disikapi dengan tetap menjaga aliran dana asing masuk ke dalam negeri. Tujuannya, pasokan USD tetap tersedia untuk membiayai defisit. ”Yang penting berikutnya bagaimana menjaga capital inflow. Karena bagaimanapun defisit itu perlu pembiayaan, dan itu tentu nanti akan tertutup kalau misalnya aliran modal masuk,” tegasnya.

Nah, supaya dana asing bisa tetap masuk, bank sentral akan menjaga suku bunga acuan untuk tetap sesuai koridor. Saat ini, BI sudah menaikkan suku bunga acuan hingga 5,5 persen. ”Itu fungsi kita salah satu tujuannya menaikkan suku bunga, menjaga suku bunga atraktif dari negara-negara lain untuk menarik modal masuk,” imbuhnya.

Selanjutnya, BI akan kembali melakukan langkah hati-hati untuk menjaga kenaikan suku bunga. Itu dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian terkini. ”Kami tidak segera seperti itu ya, kita punya banyak faktor data yang kita lihat, bagaimana perkembangan di domestik, perkembangan di luar negeri. Jadi, kita menggunakan sejumlah data pada saat nanti akan mengubah stance policy daripada suku bunga,” ulasnya.

Dody optimistis ke depan akan terjadi penguatan. Itu dipicu perkiraan perbaikan defisit transaksi berjalan pada kuartal tiga 2018. "Yang penting kita lihat sekarang sisi tekanan ke rupiah dari neraca perdagangan seharusnya membaik karena kita membandingkan dengan bulan lalu, kecuali estimasi pasar lebih rendah defisitnya," ucapnya.

Dia menambahkan pemerintah saat ini juga terus melakukan upaya dalam mendorong peningkatan ekspor dan mengurangi impor. Harapannya, defisit neraca perdagangan bisa lebih baik dan peningkatan ekspor terjadi. "Kita masih punya upaya agar ekspor lebih tumbuh, khusuanya ekpsor manufaktur. Harusnya dengan dorongan rupiah yang sudah terdepresiasi bisa jadi faktor untuk lebih kompetitif dari sisi ekspor,” tegasnya.

Agustus neraca perdagangan Indonesia kembali mengalami defisit USD 1,02 miliar. Defisit itu dipicu sektor migas USD 1,66 miliar, meski sektor nonmigas surplus USD 0,64 miliar. Defisit Agustus 2018, lebih rendah dibanding Juli 2018 hanya defisit USD 2,03 miliar. Adapun nilai ekspor Indonesia pada Agustus 2018 mencapai USD 15,82 miliar, turun 2,90 persen dibanding ekspor Juli 2018. ”Dibanding Agustus tahun lalu meningkat 4,15 persen,” Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto.

Sedangkan Nilai impor Indonesia Agustus 2018 mencapai USD 16,84 miliar atau turun 7,97 persen dibanding Juli 2018. Sebaliknya dibanding Agustus 2017 meningkat 24,65 persen. Adapun Neraca Perdagangan Januari-Agustus 2018 defisit USD 4,09 miliar. Itu juga terjadi karena adanya defisit migas USD 8,355 miliar. Walau Non migas surplus USD 4,269 miliar. (dai/hap/jpc)

Berita Terkait

Ekonomi / Rupiah Loyo, Market Khawatir The Fed Kerek Suku Bunga

Ekonomi / BI Garansi Kecukupan Likuiditas

Ekonomi / Peluang Rupiah Menguat Terbuka

Ekonomi / BI Kebut Standarisasi Kode QR


Baca Juga !.