Senin, 10 Desember 2018 06:11 WIB

Headline

Mentan Bilang Surplus, Mendag kok Tetap Impor

Redaktur:

Ilustrasi.

INDOPOS.CO.ID - Kebijakan impor, khususnya impor pangan harus disertai data yang valid. Presiden Joko Widodo (Jokowi) harus mendapatkan data yang akurat terkait produksi pangan. Sehingga Presiden dapat mengambil kebijkan yang benar, berdasarkan data.

"Itu supaya tidak mudahnya membuka keran impor. Seperti impor beras, garam dan gula. Apalagi kita inikan negara agraris. Ironislah kalau sampai impor terus," kata Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis, Uchok Sky Khadafi kepada INDOPOS, Rabu (19/9).

Menurutnya, persetujuan impor juga harusnya mendapatkan rekomendasi dari kementerian terkait. Misalnya untuk beras. "Tapi itukan sepertinya tidak. Tau-tau impor. Padahal Kementrian Pertanian sudah bilang surplus. Inikan berarti ada yang tidak sinkron antar kementerian," jelas Uchok.

Karena itu menurutnya, keputusan impor beras, yang katanya diputuskan melalui rakor harus ditelusuri, apa alasan dan dasarnya. "KPK juga bisa menyelidiki benar tidak itu karena hasil rapat," bebernya.

Karena itu lanjut Uchok, pihaknya mendukung penuh langkah Bulog yang akan membeberkan data terkait alasan mengapa tidak perlu impor. "Sebab yang tau soal beras, ya Bulog dan juga tentunya Kementerian Pertanian," tegasnya.

Sementara, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso dengan tegas menyampaikan, sampai Juni 2019 tidak diperlukan impor beras. Hal itu menurutnya berdasarkan perhitungan para ahli.  Seperti dari Kementan, Bulog, akademisi dan sebagainya.

"Mereka bilang tidak perlu impor. Tim Independen itu, banyak juga yang doktor. Saya belum bisa sampaikan karena belum laporan ke Presiden. Data (perhitungan tim independen)  ini akan disampaikan ke Presiden dan kementerian terkait. Apakah perlu impor atau tidak. Kalau impor berapa banyak," ujar Budi Waseso di kantornya Rabu (19/9).

Mantan Kepala BNN itu menambahkan,  perhitungan beras yang dilakukan tim independen tidak berdasarkan asumsi.  Dulu memang berpikir begitu. Sekarang tidak lagi. Hasil produksi yang diangkat, hasil produksi di wilayah, di Desa, Kecamatan, Kabupaten dan tingkat Provinsi. "Walaupun tidak seratus persen pasti, tapi sudah mendekati. Paling tidak 80 persen betul. Itu bukan asal-asalan. Saya mengikuti soalnya prosesnya. Jadi bukan berasumsi," bebernya.

Pria yang akrab disapa Buwas itu menambahkan, kenyataannya  secara riil, beras yang impor tidak bergerak signifikan. Bahkan, ia pernah datang dan  menawarkan ke pedagang-pedagang beras di Pasar Induk Cipinang.

"Mau beli beras nggak, kita supply? Semua mengatakan belum perlu, pak. Kan dengar sendiri, bukan rekayasa. Kalau saya dibilang menahan beras, apa untungnya? Justru rugi saya menahan-nahan beras. Karena itu tadi, biayanya besar. Kualitas menurun kalau lama ditahan. Kalau bisa cepat-cepat laku. Itu lebih aman bagi saya," jelas Buwas. Jadi perhitungan Bulog dengan Tim independen ternyata benar. "Bahwa stok kita sampai Desember 2018 itu hampir 3 juta ton. Karena waktu kemarin saat masa panen, kita bisa produksi 10 ribu bahkan sampai 15  ribu perhari produksinya," bebernya. Melimpahnya pasokan beras dalam negeri, ternyata tidak membuat serta merta diapresiasi. Bahkan menurut Buwas, Bulog dicari-cari kesalahannya. Misalnya disebut ada gudang yang kosong. 

"Itu memang sengaja ada gudang yang saya kosongkan, yang tidak bisa dipakai. Karena rusak, bocor dan juga ada yang kebanjiran. Masa harus diisi beras.  Jadi yang diliat jangan yang kosong. Kalau mau melihat minta data ke kita. Mana saja, cek. Kalau gudangnya bocor, ada yang kena banjir, masa gudangnya saya isi. Yah saya perbaiki dululah, supaya bisa diisi. Bisa ditimbun beras," beber Buwas.

Ia menambahkan, harusnya kita bangga produksi beras melimpah. Bahkan di Sulawesi Selatan bisa menghasilkan beras kualitas bagus. "Kita harus menunjukan keberpihakan kepada petani. Saya setuju dengan  Wapres dan Menkeu tentang pengendalian impor," ujarnya. (dai)


TOPIK BERITA TERKAIT: #impor-beras #bulog 

Berita Terkait

Bulog Harus Optimal Serap Beras Petani

Nasional

Pangan Stabil, Jangan Dibawa ke Ranah Politik

Nasional

Bulog Siap Penuhi Permintaan Pasar

Nasional

Stok Pangan Aman, Tidak Ada Alasan Harga Beras Naik

Nasional

Satgas Pangan Siap Awasi Spesifikasi Beras

Nasional

IKLAN