Jumat, 19 Oktober 2018 03:50 WIB
pmk

Hukum

Ini Aliran Uang e-KTP yang Jadi Bancakan

Redaktur:

Foto : Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID - Terdakwa kasus e-KTP, Setya Novanto memberikan keterangan dalam sidang kasus e-KTP, Selasa,(18/9). Dia bersaksi untuk terdakwa Oka Mas Agung dan Irvanto Hendra Pambudi Cahyo.

Dalam sidang tersebut, muncul pertanyaan dari Hakim Emilia Djaya Subagya kepada mantan Ketua DPR RI itu terkait aliran dana dalam kasus ini. 

“Apakah saksi menerima aliran dana dari Oka  di kasus e-KTP?,” tanya Emilia kepada saksi yang juga mantan Ketua Umum Partai Golkar tersebut. “Betul, Yang Mulia,” jawab Saksi Setya Novanto. 

Selanjutnya Saksi Setya Novanto kemudian menjelaskan, uang sebesar USD 3,8 juta tersebut sudah didistribusikan. 

Setya Novanto juga menjelaskan, dana sebesar USD 2 juta  sudah  diserahkan mantan Dirut PT Quadra Solution, Anang Sugiana Sudihardjo, ke Delta Energi PTE. LTD milik Oka melalui transfer antarrekening. Anang dan Oka membenarkan kesaksian Setnov.

Menurut Setya Novanto dalam sidang itu, uang tersebut untuk investasi saham Neuraltus Pharmaceuticals Inc. di California, Amerika Serikat. Namun, Oka mengembalikan uang tersebut ke PT Quadra sebesar USD 1,85 juta. Sisa dana  sebesar USD 150 ribu menjadi utang piutang.

Bersama Irvanto, ponakan Setnov, Oka kemudian mengantarkan uang sebesar USD 1,8 juta ke Hotel Mulia. Oka lalu menyerahkan uang tersebu kepada anggota DPR dari Fraksi Golkar, Chairuman Harahap sebesar USD 500 ribu kepada anggota fraksi Golkar lain, Agun Gunanjar. Irvanto membenarkan kesaksian ini.

Hakim juga bertanya apakah  Oka dalam keadaan sehat karena selalu menjawab lupa kalau mendapat pertanyaan tentang aliran dana ini.  Saksi menjelaskan sehat.

Saksi Setya Novanto mendapat pertanyaan dari Hakim dan Jaksa Penuntut umum apakah saksi tahu dan menerima aliran dana dari money changer Iwan Barala  sebesar USD 3,5 juta dari Irvanto? Saksi Setya Novanto menjawab tidak pernah. 

Dia cuma tahu dari sidang saat menjadi terdakwa. Setnov  pada saat itu pernah dikonfrontir dengan Irvanto di depan penyidik. Irvanto menyampaikaan hal itu diperintah Andi. 

Sedangkan Melchias Mekeng bertindak sebagai kurir dan menyerahkan uang ke ruangan ketua fraksi Golkar waktu itu, Setya Novanto di lantai 12 Gedung Nusantara DPR, Jakarta. Uang kemudian juga diserahkan Irvanto disaksikan oleh Markus Nari.

Kemudian uang sebesar USD 10O ribu untuk Jafar Hamzah diserahkan di ruangan Ketua fraksi Demokrat. Sementara uang untuk Ade Komarudin sebesar USD 700 ribu, diserahkan di rumah, Chairuman Harahap USD 500 ribu. Sedangkan, Agun Gunanjar mendapat USD 1 juta.  Komisi 2  total sebesar USD 3,2 juta.  

Hakim kemudian mengkonfirmasi ke Irvanto,  sebagai terdakwa, dia juga menjelaskan dan membenarkan serta mengaku telah menyampaikan uang sesuai perintah Andi dengan total mencapai USD 4,5 juta. 

Selain itu uang juga masih diserahkan untuk Olly Dondokambe, Mirwan Amir, Tamsil Linrung  masing-masing sebesar USD 500 ribu. 

Ketua Hakim kemudian menyesalkan sikap Setya Novanto karena baru jujur sekarang. Sebelum menutup sidang Hakim Yanto sempat berujar: “Kalau saudara saksi menjelaskan jujur seperti sekarang tentu putusan berbeda. Tidak seperti pada waktu itu,” kata Yanto. (cr-1)


TOPIK BERITA TERKAIT: #e-ktp #setya-novanto #aliran-uang-e-ktp-yang-jadi-bancakan 

Berita Terkait

Ratusan Ribu Warga Belum Perekaman e-KTP

Banten Raya

Cicil Uang Pengganti, Setnov Jual Harta

Nasional

Istri Setnov Sambangi KPK, Koordinasi Uang Pengganti

Nasional

Kemendagri Blokir 6 Juta Penduduk Belum Rekam e-KTP

Headline

Jangan Tafsirkan Terlalu Jauh Temuan e-KTP di Serang

Banten Raya

Kasus PLTU Riau-1, Setnov Akui Perintah Eni

Headline

IKLAN