Ekonomi

Rupiah Melemah, Perbanas Optimistis Tak Pengaruhi Investasi

Redaktur: Heryanto
Rupiah Melemah, Perbanas Optimistis Tak Pengaruhi Investasi - Ekonomi

Perbanas Optimistis investasi tidak terpengaruh Pelemahan Rupiah

INDOPOS.CO.ID - Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) memastikan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang menembus Rp 15 ribu per dolar, per Rabu (3/10), tidak akan berpengaruh kepada iklim investasi dalam negeri.

Ketua Perbanas Kartika Wirjoatmojo menilai, pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi saat ini akibat dampak eksternal. Namun demikian persoalan tersebut tidak akan berdampak sistemik terhadap perekonomian nasional.

“Kita melihat di Indonesia sebenarnya ada sisi positif dari penjualan komoditas CPO (Crude Palm Oil), Batubara meningkat harganya. Sisi yang harus kita mitigasi adalah open position. Nah, kita di Perbanas berusaha untuk menjaga usaha kredit perbankan tidak terpengaruh dengan peningkatan kurs dollar ini, dengan cara kita memastikan nasabah kita yang memiliki kredit dengan valuta asing, harus memiliki nasional head atau internal hedging,” ujar Kartika Wirjoatmojo, di Jakarta, Kamis (4/10/2018).

Selain itu, lanjut dia, Perbanas sendiri selalu meyakinkan kepada nasabah maupun anggotanya yang bergerak di usaha ekspor mempunyai nasional head. “Sehingga pelemahan dari sisi garansi ini tidak mempunyai dampak kepada kredit di perbankan,” jelas Tiko, sapaan akrabnya.

Direktur utama Bank Mandiri ini menambahkan, untuk meyakinkan para investor agar tidak menarik investasinya di Indonesia, Perbanas berharap kabiven defisit di akhir tahun ini akan menyempit tidak melebar atau naik.

“Indonesia termasuk yang kabiven defisitnya masuk di angka 2 sampai 2,5 persen. Jadi memang ada peningkatan di bulan Juni. Tapi di akhir tahun ini diharapkan menurun. Selain itu, viskal defisit kita kondisinya baik. Tahun ini pendapatan pemerintah meningkat yang diharapkan dari neraca pemerintah devisit viskalnya menurun dibawah 2%," ujarnya.

Dari sisi perbankan NPL-nya menuju 2,7 persen dan pertumbuhan kreditnya meningkat ke level 13 persen momentum pertumbuhannya ada. Ia juga memastikan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tidak akan berdampak terhadap ekonomi secara signifikan. Hal itu terlihat dengan geliat perusahaan yang mempunyai income di dollar.

"Seperti eksportir sawit, ekspor batubara, minyak sekarang malah provitnya naik karena mereka jualnya di dolar sehingga mereka padahal biayanya dirupiah, jadi banyak juga perusahaan yang mendapatkan benefit,” katanya.

“Yang perlu kita jaga adalah impor yang menggunakan dolar tapi dia jual dalam bentuk rupiah seperti perusahaan di FMCJ. Perusahaan farmasi ini harus melakukan hedging. Nah, ini yang kita bersama-sama dengan BI memfasilitasi supaya nanti perusahaaan ini jika mempunyai eksposur yang harus dibayar di masa depan harus masuk hedging," imbuhnya.

Untuk itu Perbanas bersama BI mendukung sekali adanya non-delivery forward. Sehingga instrumen-instrumen hedging oleh investor dapat digunakan bila membutuhkan dolar ke depannya.

Di sisi domestik seharusnya pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat. Pihaknya juga meminta pelaku usaha dan pemangku kebijakan mewaspadai eksposur di open posision dolar, sehingga tidak terjadi efek kulitas kredit tersebut.

“Kita melihat dalam hal ini perbankan dalam kondisi yang baik. Perbankan diharapkan memiliki kekuatan untuk menahan kondisi ini, sehingga tidak menurun kualitasnya di tahun 2019,” katanya.

Ketika ditanya upaya apa yang akan dilakukan Perbanas dalam meningkatkan investasi nasional, ia pun meyakinkan bahwa investor saat ini dalam kondisi aman. Selain itu dari sisi FDI (Foreign Direct Investment) dilihat dari portopolio sekarang, kondisi perusahaan-perusahaan di Indomesia dalam kondisi sehat.

PT Bank Negara Indonesia BNI sebagai bank BUMN mendukung penuh langkah BI dalam menjaga pergerakan nilai tukar. Berbagai instrumen moneter telah diterbitkan BI untuk menjaga stabilitas di pasar uang rupiah maupun valuta asing (valas) salah satunya adalah menurunkan batas pengajuan minimum transaksi FX Swap Lindung Nilai kepada Bank Indonesia.

Ketentuan yang diatur melalui Peraturan Anggota Dewan Gubernur (PADG) No.20/18/PADG/2018 itu menurunkan batas pengajuan minimum transaksi FX Swap Lindung Nilai dari USD 10 juta menjadi USD 2 juta. Aturan ini merupakan upaya BI dalam memberikan relaksasi bagi nasabah eksportir.

Ketentuan baru ini terus disosialisasikan oleh BI bersama Perbankan untuk menjangkau para pelaku usaha. Kali ini BI bekerjasama dengan BNI mensosialisasikan peraturan baru tersebut kepada nasabah eksportir BNI. Sosialisasi dimaksud, dilakukan di Jakarta, beberapa baru-baru ini.

Acara tersebut dihadiri oleh lebih dari 50 eksportir dan pelaku usaha lainnya. Sementara itu Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia, Pribadi Santoso mengungkapkan, penyediaan swap lindung nilai (hedging) bagi pelaku pasar domestik oleh BI ini merupakan upaya untuk memperdalam pasar valas domestik dimana instrumen swap jangka menengah-panjang masih terbatas. (dai)

 

Berita Terkait

Headline / Rupiah Akhir Pekan Melemah

Headline / Saham Gabungan Dibuka Stabil

Headline / IHSG Rabu Dibuka Menguat

Headline / IHSG Menguat Tipis, Tetap Waspada USD


Baca Juga !.