Explore Gunungkidul, ’The Next Bali’ di selatan Pulau Jawa

INDOPOS.CO.ID – Jogjakarta memang ngangenin!!. Tak salah kiranya celotehan para traveler yang pernah singgah di sana. Selain warganya yang ramah, banyak tempat kongkow asik plus kuliner yang pas di lidah tapi harganya gak bikin kantong jebol. Terpenting, banyak tempat wisata yang terkenal sejak dulu di sana.

Sebut saja, Malioboro. Siapa yang tak kenal tempat wisata di sepanjang Malioboro seperti Kraton Jogjakarta, Tugu Jogjakarta,  Titik Nol KM Jogja, Museum Benteng Vredenburg, Pasar Bringhajo dan banyak lagi. Tapi kini, ada satu daerah Provinsi Daerah Istimewa (DI) Jogjakarta yang tengah hits, yakni Kabupaten Gunungkidul.

Kabupaten yang letaknya sekitar 60 kilometer (km) dari Kota Jogjakarta itu kini tengah berbenah menata infrastruktur untuk mendukung pariwisata alam di sana. Saat ini, di wilayah seluas 1.485,36 km itu terdapat 34 public beach dengan keunikannya batuan masing-masing pantai yang berbeda-beda.

Tapi dari semua pantai itu ada kesamaan memiliki ombak besar khas Pantai Selatan yang sangat mirip dengan lokasi wisata di Pulau Bali. Dari puluhan pantai itu, ada beberapa pantai yang cukup terkenal, yakni Pantai Indrayanti dengan pasir putihnya dan suasananya yang romantis.

Lalu ada Pantai Timang dengan akses jalannya yang berliku dan harus menggunakan mobil jeef dan ala-ala off road bila hendak menuju ke sana. Ada juga Pantai Pok Tunggal yang sangat cantik bila menyaksikan sunset tenggelam sambil menikmati kelapa muda.

Selain wisata pantai, ada juga wisata alam yang paling sering dikunjungi, Goa Pindul di  Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo. Yang tengah hits adalah Terrace Kaca di Kampung Bolang, Desa Girikarto, Kecamatan Panggang. Di sana, pengunjung bisa berswafoto di atas laut dengan deburan ombak besar Pantai Nguluran.

Padahal, Kabupaten Gunungkidul beberapa tahun yang lalu dikenal sebagai wilayah kering dan miskin paling tinggi di Jogjakarta. Bahkan, dulu banyak ditemukan kasus busung lapar di wilayah tersebut. Tapi itu dulu, kini Gunungkidul terus berbenah mengembangkan pariwisata daerahnya.

Pengamat Ekonomi Cyrillus Harinowo menyebut

Kabupaten Gunungkidul sebagai mutiara terpendam di kawasan Pulau Jawa bagian selatan. Kekayaan alam dan budaya juga kuliner Gunungkidul potensial untuk bisa dikembangkan seperti Bali.

Dia menyebut, Gunungkidul merupakan deretan pegunungan karst yang menyimpan banyak goa alam, air terjun, pantai berpasir putih, dan berbagai keindahan lainnya, bisa menjadi magnet pariwisata yang kuat. Dia juga menyebut, wilayah Gunungkidul bisa menjadi ’The Next Bali’.

Harinowo juga mengatakan, lokasi Gunungkidul sangat mirip dengan sejumlah destinasi wisata di Pulau Dewata dengan deburan ombak dan bukit-bukit karang. ”Dulu Bali sebelum dikelola dengan baik yah seperti Gunungkidul ini. Kawasan Bali juga banyak jalan-jalan berkelok-kelok seperti di Gunungkidul ini,” terangnya juga.

Selain Goa Pindul, katanya lagi, ada juga wisata air terjun Sri Getuk, Gunung Api Purba. ”Lalu ada puluhan pantai public di Gunungkidul, yang terkenal seperti Pantai Wediombo dan lainnya. Ini membuktikan, Gunungkidul sebagai satu daerah yang indah,” terangnya dalam perbincangan dengan sejumlah wartawan termasuk INDOPOS akhir pekan lalu dalam kegiatan media & blogger engagement yang digelar PT Bank Central Asia (BCA) Tbk, salah satu perusahaan yang berkontribusi aktif mengembangkan pariwisata di Gunungkidul.

Tak hanya wisata alam, sejumlah wisata buatan juga ada di kabupaten yang dipimpin Bupati Badingah tersebut. Yakni, embung penampung air yang dibuat di beberapa titik di Gunungkidul, seperti Embung Nglanggeran dan Embung Batara Sriten, Terrace Kaca, Wisata Bunga Celosia dan lainnya (selengkapnya lihat grafis).

Pemkab Gunungkidul memiliki perencanaan pembangunan kawasan wisata secara tematik. Misalnya, memfokuskan pantai di sepanjang Kecamatan Tanjungsari sebagai sentra olahraga bola voli pantai.

”Terbukti, pada 2011 lalu baru 600 ribu wisatawan yang berkunjung ke Gunungkidul. Tapi enam tahun kemudian tepatnya 2017, jumlah wisatawan yang berkunjung sudah 3 juta orang lebih,” terang juga Komisaris Bank BCA tersebut.

Harinowo juga mengatakan, dalam hitungan bulan, New Yogyakarta Airport akan segera beroperasi. Bandara ini memiliki landasan yang mampu didarati pesawat berukuran besar. Sehingga, memungkinkan  penerbangan langsung dari berbagai belahan dunia menuju Jogjakarta.

”New Yogyakarta Airport yang ada di Kulonprogo itu jaraknya lebih dekat ke Gunungkidul, hanya 1 jam 15 menit. Sedangkan ke Kota Jogja lebih jauh. Jadi beroperasinya bandara baru itu bisa jadi peluang meningkatkan wisatawan ke Gunungkidul,” paparnya juga.

Saat ini juga tengah dikerjakan Jalur Lintas Selatan (JLS) Jawa yang menghubungkan Merak, Provinsi Banten hingga Banyuwangi, Jawa Timur, yang melewati wilayah Gunungkidul. Selain perkembangan infrastruktur terus berjalan beberapa tahun ini guna mewujudkan ’Bali Baru’ di Gunungkidul, juga sudah berdiri sejumlah rumah makan dan penginapan di tepi jalan menuju kawasan pantai.

Seiring potensi wisata daerah yang mulai terangkat sekitar lima tahun terakhir, mata pencaharian penduduk di Gunungkidul pun perlahan mengalami pergeseran. Masyarakat yang sebelumnya mayoritas berprofesi sebagai petani atau nelayan, saat ini banyak yang menggantungkan hidupnya pada sektor pariwisata.

Sistem pertanian tadah hujan karena Gunungkidul terkenal daerah yang kering, membuat panen hanya terjadi satu kali dalam satu tahun. Sementara ikan yang didapat dari tangkapan melaut pun tak dapat dipastikan hasilnya karena tingginya ombak Pantai Selatan.

Akibatnya, pemda setempat menggerakkan masyarakat untuk melirik pariwisata yang dinilai lebih memiliki nilai ekonomis. Beberapa aktivitas warga untuk mendukung pariwisata seperti penyedia mobil jeep atau jasa offroad, mengelola taman bunga yang diubah dari lokasi pertanian dan membuat tempat wisata Terrace Kaca dan lainnya.

”Banyaknya wisatawan yang datang ke Gunungkidul membuat saya membuka usaha kebun bunga celosia seperti yang ada di Belanda. Setiap wisatawan yang mau berfoto kami kenakan tarif Rp 5.000,” terang  Bariyanto, pemilik kebun bunga celosia di Kukup Mentari kepada INDOPOS.

Dia mengaku bisa meraup keuntungan lumayan dari kedatangan ratusan wisatawan setiap harinya ke kebun bunga milik yang menggunakan lahan sewa tersebut. ”Keuntungannya lumayan. Kalau hari biasa bisa 200 orang mengunjungi kebun saya ini. Kalau hari libur bisa 700 orang lebih,” ungkapnya juga. (din)

Komentar telah ditutup.