Kamis, 13 Desember 2018 06:16 WIB

Jakarta Raya

Moms, Picky Eater Berisiko Stunting Lho

Redaktur: Sicilia

KREASI-Setiap anak wajib dicukupi kebutuhan gizinya dengan variasi makanan agar cerdas dan terhindar dari stunting. Foto: BRIGITA SICILLIA/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Anak-anak memang pemilih. Terutama pemilih dalam hal makanan. Sukanya nyemil yang manis. Atau makanan ringan lain.

Jika banyak nyemil, anak jadi mudah kenyang. Sehingga seringkali menolak makanan disaat jam makan.
Ada juga anak yang sering rewel dan memilih bermain saat orangtua menyuapi makanan. Anak akan mengalami kesulitan makan jika tidak segera diatasi.

Proses pembelajaran makan yang baik sangat penting bagi anak di fase usia prasekolah. Agar dia tumbuh sehat dan cerdas.

Angka kejadian masalah kesulitan makan di beberapa negara cukup tinggi. Sebuah penelitian oleh The Gateshead Millenium Baby Study pada tahun 2006 di Inggris menyebutkan, 20 persen orangtua mengaku anaknya mengalami masalah makan.

Prevalensi tertinggi soal anak hanya mau makan makanan tertentu. Survei lain di Amerika Serikat tahun 2004 menyebutkan, 19-50 persen orangtua mengeluhkan anaknya sangat pemilih dalam makan. Sehingga terjadi defisiensi zat gizi tertentu.

Sudibyo Supardi, selaku peneliti di National Institute of Health Research and Development melakukan penelitian terhadap anak prasekolah di Jakarta tahun 2015. Hasilnya menunjukkan, prevalensi kesulitan makan sebesar 33,6 persen.

Adapun 44,5 persen diantaranya menderita malnutrisi ringan sampai sedang. Sedangkan 79,2 persen dari subjek penelitian telah mengalami kesulitan makan lebih dari tiga bulan.

Kelompok usia terbanyak mengalami kesulitan makan adalah usia 1 sampai 5 tahun (58 persen). Sebanyak 43 persen anak yang mengalami kesulitan makan mengalami gizi buruk.

Sementara itu, masih merujuk studi Sudibyo, kebanyakan kasus sulit makan berupa menghabiskan makanan kurang dari sepertiga porsi (27,5 persen), menolak makan (24,8 persen), anak rewel dan merasa tidak senang atau marah (22,9 persen), hanya menyukai satu jenis makanan (7,3 persen), hanya mau minum susu (18,3 persen), memerlukan waktu lebih dari 1 jam untuk makan (19,3 persen), dan mengemut (15,6 persen).

Adapun sebanyak 50 persen anak yang mengalami susah makan memiliki keluhan gangguan kenaikan berat badan, 22 persen rewel, 12 persen nyeri epigastrium, 10 persen back arching, dan 6 persen nyeri menelan, serta sering muntah.

Kondisi anak pilih-pilih makanan seperti itu dikenal dengan istilah picky eater. Picky eater bisa menjadi gejala yang merugikan kesehatan anak apabila tidak segera diatasi.
Picky eater bisa membuat anak kekurangan asupan gizi. Selanjutnya, menyebabkan anak mengalami gizi buruk.

Menurut sensus yang dilakukan World Health Organization (WHO) (2012, dalam Rohmasari, 2013) diketahui bahwa 42 persen dari 15,7 juta kematian anak di bawah 5 tahun terjadi di negara berkembang. Sebagian besar disebabkan gizi buruk.

Dari data tersebut, sebanyak 84 persen kasus kekurangan gizi anak usia di bawah lima tahun (balita) terjadi di Asia dan Afrika. Sedangkan di Indonesia, tahun 2012, terdapat sekitar 53 persen anak di bawah usia 5 tahun menderita gizi buruk yang disebabkan oleh kurangnya makanan untuk mencukupi kebutuhan gizi sehari-hari (Depkes, 2012).

Kondisi ini menyebabkan banyak anak Indonesia mengalami stunting. Stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama.
Sehingga, anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir.

Pemantauan Status Gizi (PSG) 2017 menunjukkan, prevalensi balita stunting di Indonesia masih tinggi. Yakni sebesar 29,6 persen diatas batasan yang ditetapkan WHO (20 persen).

Penelitian Ricardo dalam Bhutta tahun 2013 menyebutkan, balita stunting berkontribusi terhadap 1,5 juta (15 persen) kematian anak balita di dunia. Sekaligus menyebabkan 55 juta anak kehilangan masa hidup sehat setiap tahun.

Kekurangan gizi dalam waktu lama itu terjadi sejak janin dalam kandungan sampai awal kehidupan anak (1000 Hari Pertama Kelahiran). Penyebabnya karena rendahnya akses terhadap makanan bergizi, rendahnya asupan vitamin dan mineral, buruknya keragaman pangan dan sumber protein hewani, dan diperparah dengan gelaja picky eater.

Sayangnya, Indonesia berada di peringkat ke-5 negara dengan angka stunting tertinggi di dunia. Pemerintah pun gusar dengan kondisi ini.
Beberapa program dan kampanye digelar. Salah satunya "Isi Piringku" yang diluncurkan pada Hari kesehatan Nasional (Harkesnas) tahun lalu.

Menurut Prof Dr Rini Sekartini, SpA, picky eater merupakan gangguan perilaku makan pada anak yang berhubungan dengan perkembangan psikologis tumbuh kembangnya. Ditandai dengan keengganan anak mencoba jenis makanan baru (neofobia), pembatasan terhadap jenis makanan tertentu. Terutama sayur dan buah.

Bahkan, dalam tahap ekstrim, anak tidak tertarik terhadap makanan dengan berbagai cara yang dilakukan. Misalnya, menampik makanan yang tidak dia sukai, mengemut makanan, dan menutup mulut dengan rapat pada saat menghadapi makanan yang tidak dia sukai.

''Sebagian besar ibu mungkin anaknya pernah mengalaminya. Anak biasanya hanya mau makan makanan tertentu. Sering tutup mulut menolak makanan yang diberikan. Bahkan sampai nangis terus-menerus,'' ujar sebutnya.

Picky eater ditandai dengan pertumbuhan tubuh terhenti, perubahan perilaku, lesu, kehilangan selera makan, dan kekurangan berat badan. Kondisi ini bisa mengganggu kesehatan anak.

Namun sayangnya, banyak orangtua yang salah kaprah menyiasati picky eater dengan memberikan susu sebagai solusi. Padahal, susu sebetulnya hanya sebagai pelengkap.

Susu, lanjut dia, merupakan salah satu asupan makanan untuk anak pada masa bayi. Terutama 6 bulan pertama ASI merupakan makanan utama bayi. ''Setelah 6 bulan, ditambahkan MP ASI (Makanan Pendamping ASI) sebagai pelengkap karena kebutuhan anak meningkat. Setelah 1 tahun anak dapat diberikan makanan keluarga. Berupa nasi lauk pauk, sayur dan buah, plus susu sebagai pelengkap,'' tuturnya.

Perlu diketahui, bahwa susu memang kaya gizi. Tapi kandungan zat besi di dalamnya biasanya kurang optimal.
Dalam 1.000 cc susu hanya mengandung 0,5-2 mg zat besi. Sedangkan bayi 1 tahun saja butuh 6 g zat besi setiap hari.

Itulah mengapa sebaiknya orangtua tidak hanya mengandalkan susu untuk memenuhi kecukupan gizi anak. Berikan makanan seimbang yang kaya nutrisi, termasuk kecukupan zat besi di setiap usia.
''Pada usia balita kebutuhan susu sekitar 500-600 cc per hari. Selebihnya, anak harus makan. Jadi, susu tidak dapat menggantikan makanan yg harus dikonsumsi anak,'' tegasnya.

Dia juga melanjutkan, biasanya kondisi picky eater disebabkan kurangnya variasi makanan anak. Anak tidak boleh memilih makanan yang disukai, suasana di rumah tidak menyenangkan, kurang perhatian orangtua, atau contoh yang kurang baik dari orangtua.

Sedangkan Psikolog Anak Tari Sanjojo menyarankan orangtua untuk tidak panik menghadapi gejala picky eater. Namun juga tidak boleh menganggap sepele gejala picky eater.

Picky eater bila tidak diatasi dengan tepat dapat menyebabkan anak menjadi malas makan. Selanjutnya, menyebabkan anak menjadi cepat lesu, tidak bersemangat, kurang konsentrasi, bahkan sakit.
Kondisi ini sangat mengganggu aktivitas fisik anak. Seharusnya anak bersemangat mengeksplorasi banyak hal agar tumbuh sehat dan cerdas.

Picky eater juga bisa menyebabkan anak terasingkan dari pergaulannya karena dia pilih-pilih makan. ''Pergaulan kan sering melibatkan makanan atau aktivitas makan bersama. Kan sayang kalau anak susah makan. Nanti dia jadi malas bergaul dengan teman-temannya hanya karena tidak suka makanan yang disajikan,'' ungkap Tari. (dew)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kesehatan #gizi-buruk #anak-anak 

Berita Terkait

Ini Penyebab Anda Mudah Marah saat Kurang Tidur

Kesehatan

Ini Standar ASI untuk Bayi Prematur

Jakarta Raya

Caleg Fogging Ratusan Rumah Warga

Politik

Suka Sulit Bernafas, Waspada PPOK

Jakarta Raya

Perangi ”Helikopter” dengan WC Komunal

Megapolitan

Jangan "Coba-Coba" Sebelum Menikah

Jakarta Raya

IKLAN