Rabu, 17 Oktober 2018 09:43 WIB
pmk

Headline

Lima Ribu Korban Dibiarkan Tertimbun di Balaroa

Redaktur: eko satiya hushada

INDOPOS.CO.ID – Dua hari menjelang berakhirnya masa tanggap darurat, tim evakuasi gabungan memutuskan untuk menghentikan pencarian korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng), khususnya di Sigi, Balaroa, Petobo dan Jono Oge. Hal ini disebabkan oleh faktor luasnya wilayah dan kondisi rumah yang tertimbun lumpur.

“Kondisi jenazah korban yang dievakuasi sudah melepuh, tidak dikenali. Jadi, pemakanan dilakukan cepat. Ini sangat berpotensi menimbulkan penyakit,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, Selasa (9/10/2018).

Selanjutnya di lokasi BTN Balaroa, Petobo, dan Jono Oge, menurut Sutopo, akan ditutup permanen, untuk kemudian dijadikan ruang terbuka hijau (RTH). Juga akan dijadikan memori park atau tempat bersejarah, yang selanjutnya akan dibangun monumen.

Dikatakan, proses evakuasi di Jono Oge belum dapat dilakukan. Ini karena lumpur masih basah, berbentuk rawa, medan berat, dan belum ada askavator amphibi. Sementara pertimbangan lain, dikatakan Sutopo karena para tokoh agama dan tokoh masyarakat menginginkan lokasi di tiga wilayah tersebut diusulkan menjadi tempat penguburan massal.

“ Masyarakat sudah trauma menempatinya kembali. Mereka minta direlokasi dan dibangunkan permukiman baru,” kata Sutopo.

Sutopo menuturkan, pada evakuasi di wilayah Balaroa menggunakan lima unit alat berat. Dengan menggunakan citra satelit resolusi tinggi, dan data kependudukan di area wilayah terdapat 1.471 unit rumah di Balaroa dengan luas area terdampak 47,8 hektar (Ha).

“Dugaan sementara dari kepala desa di wilayah Balaroa masih ada 5 ribu jiwa yang belum ditemukan. Tapi aslinya berapa, belum bisa kita pastikan, karena ada yang sebagian keluar wilayah Palu,” terangnya.

Demikian juga di wilayah Petobo, mengalami kerusakan yang parah. Hampir sebagian wilayah rata dengan tanah dan sulit dievakuasi. Sama halnya dengan kompleks BTN Petobo yang mengalami likuifikasi. Dari citra satelit 2.050 unit rumah terdampak likuifikasi.

“ Total area yang terdampak 180 hektar. Luas sekali. Kemudian dalam proses evakuasi 7 unit alat berat dikerahkan. Kondisi rumah sudah tidak terlihat dari permukaan, karena sudah tertutup lumpur dengan kedalaman mencapai 3 meter,” terangnya.

Sementara, masih ujar Sutopo, untuk wilayah Jono Oge Kabupaten Sigi proses evakuasi terkendala medan lumpur yang basah. Sehingga, proses evakuasi belum bisa dilakukan. Luas wilayah Sigi yang terdampak 202 hektar. Dari hasil citra satelit terdapat 366 unit rumah yang kondisi rumahnya tertimbun dan 168 unit rumah rusak.

“ Proses evakuasi belum bisa dilakukan. Kalau dari wilayah, Sigi lebih luas, tapi jumlah pemukimannya lebih sedikit,” ucapnya.

Sutopo menegaskan, untuk tanggap darurat akan diputuskan diperpanjang hingga 14 hari berikutnya. Sementara, Kementerian PUPR akan membangun hunian sementara (Huntara) di lokasi yang ditetapkan oleh Bupati dan Walikota. Selanjutnya, Bupati dan Walikota juga akan menyiapkan lokasi untuk hunian tetap (Huntap).

Sutopo menyebutkan, hingga Selasa (9/10/2018), masih terjadi gempa susulan sebanyak 508 dengan gempa yang dirasakan sebanyak 16 kali. Untuk jumlah pengungsi sebanyak 82.775 jiwa yang tersebar di 112 titik di Sulteng sebanyak 74.044 orang dan 8.731 orang di luar Sulteng.

“ Untuk sebaran dapur umum lapangan (Dumlap) dari data Kemensos terdapat di 16 titik,” katanya.
Kerusakan rumah terdampak sebanyak 67.310 unit, rumah peribadatan 99 unit dan fasilitas kesehatan berupa rumah sakit satu unit, puskesmas 10 unit, empat unit pustu dan lima unit poskesdes. Sementara, untuk warga yang berhasil dievakuasi dari Palu sebanyak 8.276 orang.

“ Evakuasi dari udara sebanyak 6.157 orang ke Makassar 4.631 orang, Balikpapan 1.173 orang, Jakarta 182 orang dan Manado sebanyak 171 orang. Evakuasi dari jalur laut sebanyak 1.908 orang ke Makassar sebanyak 1.853 orang dan Nunukan 55 orang, sementara evakuasi mandiri ke Maros sebanyak 211 orang,” bebernya.
Pada penanganan medis bagi para korban, menurut Sutopo dilayani di 15 rumah sakit, 50 unit puskesmas dan 11 apotek. Pengerahan helikopter untuk distribusi logistik sebanyak 12 unit dan 51 unit alat berat untuk proses evakuasi.

“Untuk percepatan pemulihan infrastruktur listrik 101,2 MW dengan 7 gardu induk beroperasi. Secara total 90 persen pelayanan listrik sudah berjalan. Untuk BBM 27 SPBU di 4 kota terdampak sudah beroperasi, sementara air bersih sudah disuplai oleh 30 unit mobil tangki,” ujarnya.

Sutopo menyebutkan, percepatan pemulihan infrastruktur juga menyasar sekolah rusak. Sedikitnya 186 ribu peserta didik di 1.724 satuan pendidikan dari Paud hingga SMA terganggu. Jumlah guru meninggal sebanyak 22 orang, 22 orang siswa meninggal dan 422 unit fasilitas pendidikan rusak. “ Kami sudah siapkan 333 unit sekolah darurat di tenda pengungsian,” ucapnya. (nas)


TOPIK BERITA TERKAIT: #evakuasi-sulteng-dihentikan #gempa-palu 

Berita Terkait

M Fadli Sumbang Korban Gempa di Palu

Total Sport

Likuifaksi di Palu Sudah Dipetakan Sejak 2012

Headline

Terbesar di Indonesia

Headline

IKLAN