Jumat, 19 Oktober 2018 03:58 WIB
pmk

Nusantara

Harus Diantisipasi agar Tidak Terjadi Penumpukan di Satu Kota

Redaktur: eko satiya hushada

ESKSODUS - Masyarakat korban gempa tsunami Palu antre untuk menunggu giliran naik Hercules milik TNI AU di Bandara Mutiara Sis Al Jufri Palu pekan lalu. Salah satu tujuannya adalah Balikpapan, Kaltim. Foto: BOY SLAMET/JAWA POS

INDOPOS.CO.ID - BENCANA tsunami, di Palu-Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng) mendorong banyak warga memilih ekosodus ke daerah lain. Pengungsian besar-besaran itu dikhawatirkan akan tertumpuk di satu lokasi dan akan membebankan pemerintah daerah yang dituju. Kalimantan Timur (Kaltim) dinilai wilayah yang banyak dituju karena aman dan mapan ekonominya.

"Kalau eksodus itu menyebar, dan tidak menumpuk di satu lokasi, tidak akan membenankan pemerintah setempat. Yang ditakutkan seluruh warga Palu malah pindah ke satu daerah seperti Balikpapan, Kaltim," kata pengamat sosial, Imam Prastedjo, kepada INDOPOS, Senin (8/10/2018).

Sejauh ini, kata Imam, pilihan warga korban tsunami Sulteng adalah wilayah Balikpapan, Kaltim. Sebab, daerah tersebut dinilai aman dari bencana yang dianggapnya bakal terulang kembali. "Mereka mencari tempat yang aman. Pilihan terhadap Kaltim adalah yang tepat. Karena tidak ada potensi bencana seperti yang mereka alami sebelumnya. Termasuk daerah itu mapan soal ekonomi," ujarnya.

Sisi positif dari eksodus ini kata Imam, ada perbaikan mental bagi korban bencana Tsunami. Mereka lebih tenang dan jauh dari bayangan traumatik. Apalagi, saat tiba di lokasi tujuan, ternyata bertemu dengan sanak keluarga. Di Kaltim, warga yang berasal dari Sulawesi memang dikenal cukup banyak selama ini.

"Mereka jadi mampu menghapus bencana yang sudah merekam di ingatannya. Itu sangat positif," katanya.
Imam berharap, eksodus itu juga bisa menjaga keseimbangan etnik. Seperti yang terjadi di daerah Buton dan Ambon. Kedua daerah itu memiliki jarigan etnik. Salah satunya kedua daerah itu memiliki kebudayaan yang sama. "Sehingga, warga dari dua daerah tersebut cepat beradaptasi dengan budaya yang ada," paparnya.

Menurut dia, ekosodus ini sifatnya hanya sementara. Sebab, mereka akan kembali ke kampung halamannya begitu kondisinya sudah aman. Karena dia menilai, pengungsian besar-besaran ini tidak terlibat konflik, melainkan hanya musibah. "Jadi saya melihat ini sifatnya hanya temporer, tidak permanen. Setelah tertangani dengan baik mereka akan kembali lagi ke kampung halaman," ucapnya.

Untuk itu, kata Imam, guna mengatasi masalah ini, maka pemerintah pusat setidaknya sudah bisa melakukan pemetaan. Pemetaan yang dimaksud adalah pendataan jumlah pengungsi, lokasi pengungsi, sampai ke biodata masing-masing pengungsi. "Jadi semuanya bisa bergerak secara komprehensif," ujarnya.

Kemudian, terkait penjagaan pihak keamanan. Tiga pilar negara seperti TNI, Polri, dan masyarakat harus mampu terintegrasi. Dia menilai, tiga kekuatan itu cukup mampu menjaga stabilitas keamanan yang kuat.

"Jangan sampai ada penjarahan lagi seperti yang sudah pernah terjadi di awal bencana," katanya.
Menurut dia, penjarahan itu terjadi karena masalah kebutuhan. Warga yang resah atas terlambatnya bantuan saat itu mereka terdesak mendapatkan pasokan makanan. Sehingga, pilihannya adalah mendatangi toko-toko untuk mengambilnya secara paksa. "Anehnya banyak ditunggangin oknum, sehingga penjarahan mengarah ke situasi pencurian. Karena bukan hanya makanan yang digondol, melainkan elektronik juga ikut diambil," paparnya.

Hal senada juga dikatakan Sosiolog lainnya, Muzzaki. Guru besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Jawa Timur ini mengatakan, fenomena eksodus ini dampak dari kondisi darurat usai musibah tsunami. Peristiwa ini biasa terjadi di sejumlah negara manapun bila terjadi bencana besar yang menimpa suatu daerah. "Mereka akan mencari lokasi aman," ujarnya.

Menurut dia, kejadian ini disebut fenomena kemanusiaan. Daerah yang dituju harus mendapat solusi bagi seluruh pengungsi. Sehingga, jangan sampai kepala daerah di tempat pengungsian malah bersikap cuek.
Sejauh ini, kata dia, bencana yang terjadi di Sulawei Tengah dengan Lombok, jauh berbeda. Sehingga, pemberian bantuannya pun lebih mudah dilakukan di bencana Lombok. Sebab, wilayah itu hanya terjadi gempa, tidak berikut tsunami. "Makanya akses bantuan yang datang ke Sulawesi Tengah tidak mudah dilalui," jelasnya.

Dia berharap, adanya informasi yang lebih intensif untuk memberitahukan warga terkait bencana. Termasuk pentingnya memberikan pendidikan kebencanaan kepada masyarakat di daerah-daerah rawan bencana.

"Saya yakin terkait eksodus ada keinginan warga untuk bisa kembali ke kampung halamannya masing-masing," tandasnya.

Dari Balikpapan dilaporkan, warga di Kota Minyak itu banyak yang menjadi relawan, untuk melayani warga Sulteng yang eksodus di kota mereka. Dengan senang hati, bahkan dibentuk relawan yang melayani untuk tiga shift. Mulai urusan makanan hingga petugas kebersihan.

"Kami siapkan Asrama Haji Batakan, Asrama Dodikjur di Manggar, dan Asrama SPN Brimob Staal Kuda," kata Asisten I Sekretaris Kota Balikpapan Bidang Tata Pemerintahan Syaiful beberapa waktu lalu.

Pemkot juga menyiapkan tiga rumah sakit, yaitu RS Kanujoso Djatiwibowo, RS Tentara dr Hardjanto, dan RS Bhayangkara. Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Balikpapan Suseno, persiapan asrama dan rumah sakit itu bagi pengungsi yang datang.

"Semua akan di data dan kalau ada pengungsi yang mau pulang kita antisipasi korban yang eksodus dari daerah bencana tersebut," katanya.

Pemkot juga akan terus membantu seandainya dari para pengungsi atau korban tersebut masih ingin meneruskan perjalanan, misalnya ke pulau Jawa. "Ya, kami fasilitasi," lanjut Syaiful.

Asrama Depo Pendidikan Kejuruan (Dodikjur) di Manggar adalah asrama militer dan dikelola TNI Angkatan Darat. Asrama ini tempat tinggal sementara para prajurit yang menjalani pendidikan kejuruan.

Sedangkan Asrama Haji di Batakan mampu menampung hingga 500 orang. Asrama Brimob di Staal Kuda adalah yang terdekat dengan pusat kota dan fasilitas kesehatan terbaik. Balikpapan juga mengirim obat-obatan dan 26 tim kesehatan kecuali dokter spesialis orthopedi dan ahli bedah.

"Kami tidak kirim dokter spesialis dan ahli bedah karena tidak mungkin melakukan operasi di sana. Perlengkapannya tak memadai. Jadi, korban yang harus dioperasi nanti bisa dirujuk ke rumah sakit di Balikpapan," kata Suseno. (dny/esa)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #gempa-palu #balikpapan #boks 

Berita Terkait

IKLAN