Sabtu, 17 November 2018 11:04 WIB
pmk

Nasional

Diterpa Isu Buku Merah, DPR Semangati Kapolri

Redaktur: Nurhayat

Foto : Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID - Tudingan terhadap Kapolri Jenderal Tito Karnavian terkait isu tentang hilangnya barang bukti catatan pengeluaran dana pengusaha Basuki Hariman milik Serang Noer IR mendapat respon dari kalangan politisi di Senayan. Dalam tudingan tersebut, buku merah itu diduga dirobek oleh dua perwira Polri yang jadi penyidik KPK.

Anggota Komisi III Ahmad Sahroni meminta Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk tetap fokus pada tugasnya untuk menciptakan keamanan ketertiban masyarakat dan tak terganggu dengan isu pengrusakan barang bukti seperti yang dihembuskan oleh sejumlah pihak. Sahroni mengingatkan saat ini Kapolri mengemban tugas berat terkait keamanan negara. Paskapengamanan Asian Games, Asian Para Games dan Pertemuan IMF di Bali, Polri memiliki tugas berat pengamanan Pemilu Serentak 2019 mendatang.

”Kapolri harus tetap fokus bekerja mengamankan Indonesia, jangan terganggu fokusnya dengan berbagai isu yang muncul di media massa. Salah satu agenda terbesar yang akan dihadapi Indonesia adalah Pemilu serentak 2019 mendatang. Polri harus mampu mengamankan pesta demokrasi tersebut,” terang Sahroni, di Jakarta, Rabu (10/10) malam.

Sahroni menambahkan, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah mempertegas tak ada kaitannya Kapolri dalam berita acara pemeriksaan (BAP) pelaku suap impor daging Basuki Hariman seperti yang diungkapkan oleh Indonesia Leaks. ”Terlebih Ketua KPK Agus Rahardjo telah menegaskan tidak ada kaitannya atau tak disebutnya Jenderal Tito Karnavian dalam berita acara pemeriksaan (BAP) pelaku suap impor daging Basuki Hariman. Saya selaku anggota Komisi III DPR mengingatkan Kapolri untuk tetap fokus pada tugasnya mengamankan negara. Jangan terpecah konsentrasi akibat berbagai isu,” beber politisi NasDem ini.

Sahroni menambahkan, kembali beredarnya isu pengrusakan barang bukti tak membuat sinergitas antara Polri dan KPK yang saat ini telah terjalin baik menjadi rusak. ”Jangan sampai hubungan baik antara Polri dan KPK yang telah baik menjadi rusak karena adanya isu ini. Masing-masing pihak harus meyakini prosedur penyelidikan yang dilakukan oleh institusi lainnya telah dilakukan dengan baik,” pesan Sahroni.

Sementara, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono menduga, isu tentang catatan yang teruang dalam buku merah milik Serang Noer IR, yang diduga disobek dua oknum penyidik KPK itu sebagai keanehan. ”Ada keanehan yang jadi sasaran tembak hanyalah Tito Karnavian. Ini sebuah bentuk ketidakadilan terhadap Tito Karnavian yang sepertinya ada operasi terstruktur untuk mencopot Tito Karnavian dari posisi Kapolri,” katanya dalam keterangan tertulisnya, Kamis (11/10).

Pasalnya menurut dia, bukti-bukti yang berupa catatan aliran dana tidak serta-merta bisa dijadikan sebagai sebuah pembenaran akan adanya aliran dana ke Tito Karnavian. Sebab harus ditekankannya bukti itu juga harus disokong bukti lainnya yang mampu menjelaskan tentang kapan dana itu diterima dan siapa yang memberikan kepada Tito. ”Kasian juga Tito Karnavian kalau di bully dan dihabisi di media dengan cara-cara yang tidak bermartabat dan tidak sesuai fakta hukum yang sebenarnya,” imbuhnya.

Karena itu, anak buah Prabowo Subianto ini berharap semua pihak untuk bertindak bijak dengan tidak mempercayai suatu tudingan tanpa adanya bukti yang kuat. ”Jangan sampai dokumen yang belum tentu kebenarannya itu menghancurkan karir seseorang. Jangan dong kasihan,” tukasnya.

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo juga turut menyemangati Kapolri Jenderal Tito Karnavian agar tak terpengaruh desas-desus tentang dugaan mantan Kapolda Metro Jaya itu menerima uang dari pengusaha dagung Basuki Hariman. Bambang yang juga kolega Tito mengharapkan Kapolri ke-23 itu fokus bekerja karena kinerja Korps Bhayangkara makin positif.

Bamsoet, panggilan beken Bambang mengatakan, Polri sudah menelusuri dugaan Tito menerima dana dengan memeriksa Basuki Hariman. Sebagaimana pernyataan Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto ke media, Basuki tak pernah memberikan uang ke Tito semasa menjabat Kapolda Metro Jaya. ”Jadi Pak Tito Karnavian agar tetap fokus bekerja sesuai tupoksi (tugas pokok dan fungsi, Red) Kapolri,” ujar Bamsoet, Kamis (11/10).

Sebelumnya Ketua KPK meminta tulisan-tulisan yang beredar di media massa mengenai Kapolri perlu diklarifikasi. Ia menekankan, pembuktian keterlibatan Tito saat menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya sulit apabila tak ada bukti dokumen. Sebagai gambaran Agus mencontohkan ketika mantan Bendahara Partai Demokrat M Nazaruddin menyebutkan keterlibatan anggota DPR dalam berbagai kasus korupsi. Di sisi lain, Agus yakin mencuatnya kasus ini tak mengganggu sinergi dan hubungan baik antara KPK dan Polri. Kedua lembaga tak tetap pada fokus pemberantasan korupsi dan tetap solid.

Pernyataan tegas juga disampaikan Kadiv Humas Polri Irjen (Pol) Setyo Wasisto mengatakan hal tersebut merupakan isu lama yang telah selesai penyelidikannya. Hasil Pemeriksaan internal telah menyatakan pengrusakan barang bukti berupa catatan keuangan untuk menghindari adanya nama Jenderal Tito Karnavian tak terbukti. (aen)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #isu-buku-merah #dpr-semangati-kapolri 

Berita Terkait

Presiden Diminta Bertindak

Nasional

IKLAN