Jakarta Raya

Petugas Lakukan Water Bombing di Lokasi Likuifaksi Sulteng

Redaktur: Dani Tri Wahyudi
Petugas Lakukan Water Bombing di Lokasi Likuifaksi Sulteng - Jakarta Raya

JAUH BERGESER – Ribuan rumah di kawasan Balaroa dan Petobo Palu hancur dan tenggelam akibat gempa dan likuifaksi. SAIPUL ANWAR/KALTIM POST

INDOPOS.CO.ID - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai melakukan penindakan kesehatan di bekas lokasi yang terdampak likuifaksi di Sulawesi Tengah. Petugas melakukan upaya antisipasi penyebaran penyakit melalui vektor seperti lalat, kecoa, atau tikus lantaran banyaknya korban meninggal yang diperkirakan masih tertimbun bangunan maupun tanah.

Helikopter MI-8 mulai melakukan water bombing atau pengemboman material disinfektan di wilayah terdampak likuifaksi, seperti Petobo, Balaroa, dan Jono Oge, Sulawesi Tengah. Pengeboman menjadi langkah yang efektif karena cakupan wilayah yang luas dan kondisi lapangan yang berpotensi terjadi amblesan.

BNPB mengirimkan helikopter untuk membantu operasi water-bombing yang dikoordinasikan oleh Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), Kementerian Kesehatan dan Kesehatan TNI. Pengisian material disinfektan diisi ke dalam ember yang telah dipersiapkan personel TNI melalui mobil tanki.

"Saat ini tengah berlangsung pengeboman disinfektan di wilayah Petobo, Kota Palu, Sulawesi Tengah," ujar Kapusdatin BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulisnya, Kamis (18/10/2018). Sutopo menjelaskan, penanganan wilayah terdampak likuifaksi tidak hanya melalui pengemboman udara, tetapi juga fogging atau penyemprotan oleh para personel di darat. Langkah tersebut telah dilakukan di wilayah-wilayah yang dapat dijangkau di Petobo dan Balaroa.

Penyemprotan juga dilakukan di halaman rumah sakit yang digunakan untuk mengumpulkan jenazah yang berhasil dievakuasi, seperti RS Undata, RS Madani, dan RS Bhayangkara. Tindakan ini merupakan upaya untuk membasmi vektor yang dapat mengancam kesehatan lingkungan.

"Untuk solusi jangka panjang, penimbunan wilayah terdampak likuifaksi harus segera dilakukan," tandas Sutopo.Ia menegaskan, pengeboman maupun penyemprotan disinfektan ini merupakan upaya antisipasi penyebaran penyakit melalui vektor seperti lalat, kecoa, atau tikus.

Sementara itu, Kepala Pusat Krisis Kementerian Kesehatan Ahmad Yurianto merekomendasikan penimbunan di wilayah terdampak likuifaksi; seperti di wilayah Petobo yang lapisan tanahnya terangkat akan ditimbun.

Cara terbaik adalah menimbun dengan tanah seperti selayaknya memakamkan jenazah dalam kehidupan masyarakat sehari hari. "Pertimbangan terbaik dalam penanganan jenazah yang belum diketemukan setelah hari ke-7 adalah dengan tetap memakamkan di lokasi yang diduga jenazah itu berada," ujar Yurianto.

 "Ini adalah bentuk penghormatan terhadap jenazah tersebut, di samping kemungkinan untuk bisa menemukan jenazah dalam keadaan utuh sangat kecil kemungkinannya, penggalian jenazah juga sangat berisiko terhadap penyebaran dan penularan bakteri-bakteri berbahaya bagi kesehatan lingkungan sekitar," pungkasnya. (jaa)

Berita Terkait


Baca Juga !.