Headline

Gagal Ketemu Wiranto, Masa Aksi Bela Tauhid Ancam Aksi Lebih Besar

Redaktur: Juni Armanto
Gagal Ketemu Wiranto, Masa Aksi Bela Tauhid Ancam Aksi Lebih Besar - Headline

TUNTUT-Ribuan massa menggelar Aksi Bela Tauhid di kawasan Patung Kuda hingga Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Jumat (26/10). ISMAIL POHAN /INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Ribuan umat Islam akhirnya membuktikan diri bahwa mereka marah besar terhadap pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid,  La Ilaha Ilallah Muhammad Rosululloh oleh oknum anggota Banser di Garut, Minggu (22/10) lalu, dengan menggelar aksi damai di depan Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Jumat (26/10).

Dalam pantauan INDOPOS, demonstrasi yang mengatasnamakan Barisan Nasional Pembela Tauhid (BNPT) ini dimulai sejak pukul 13.00 WIB dan berakhir pukul 16.00 WIB.  Aksi yang berlangsung selama tiga jam ini, massa mengajukan sejumlah tuntutan agar Menteri Koordinator Politik Hukum dan HAM (Menko Polhukam) Wiranto dapat lebih berpihak kepada umat Islam yang marah atas pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid itu.

"Kami kecam aksi pembakaran bendera itu. Kami meminta agar aparat kepolisian dan pemerintah bertindak. Salah satunya agar mengadili Ketua Umum GP Ansor NU Yaqut Cholil Qoumas, karena tidak meminta maaf perihal pembakaran bendera tauhid. Serta meminta aparat kepolisian menahan para pelaku pembakar bendera Tauhid tersebut," ucap Habib Idrus Alhabsyi, salah satu perwakilan pendemo kepada wartawan.

Sayangnya para perwakilan peserta aksi itu tidak bisa berjumpa dengan Menko Polhukam Wiranto. Mereka hanya ditemui Sekretaris Kemenko Polhukam  Yoedhi Swastono. "Seluruh masukan dicatat seksama oleh Sekretaris Kemenko Polhukam. Ini dikarenakan Wiranto sedang berada di Palu," ucapnya.

Salain itu, tuntutan lainnya yang diajukan ke Menko Polhukam oleh peserta aksi adalah persoalan persekusi terhadap ulama. "Semua para ulama yang dipersekusi kalimat tauhid tak boleh lagi mendapatkan perlakuan wewenang," tambahnya.

Idrus Al Habsyi juga meminta kepada massa aksi mempercayakan kepada perwakilan delegasi yang telah diterima Sekretaris Kemenko Polhukam Yoedhi Swastono. "Saya memohon maaf tidak bisa bertemu dengan Menko Polhukam. Ketidakadaan Wiranto bukannya tidak mau bertemu dengan delegasi, karena beliau tidak ada di Jakarta. Insya Allah bapak-bapak tidak meragukan delegasi," ucap Idrus Al Habsyi.

Jika tuntutan mereka tidak mendapat respon dari Menko Polhukam, maka lanjut Idrus, BNPT akan menggelar kembali aksi. "Jika nanti aspirasi kami tidak ditindaklanjuti, maka kami akan menggelar aksi kedua pada 2 November 2018 dengan berkumpul di Masjid Istiqlal,” tandasnya. 

Idrus Al Habsyi menerangkan kepada para peserta aksi jika tuntutan yang telah disampaikan tidak dipenuhi, maka BNPT akan menggelar aksi kembali. Massa akan kembali memulai long march dari Masjid Istiqlal menuju Istana Kepresidenan Jakarta. Aksi itu akan berlangsung, Jumat (2/11) depan. "Nantinya kita kumpul di (Masjid, Red) Istiqlal. Kita akan long march langsung tembus ke Istana, mudah-mudahan," tandasnya.

Senada juga diutarakan Ketua Gerakan Nasional Pembela Fatwa (GNPF) Ulama Mohammad Yusuf Martak. Ia mengecam pembakaran bendera tersebut oleh oknum Banser saat perayaan Hari Santri Nasional beberapa waktu lalu. Di sisi lain, ia tetap mendoakan sebagian pihak yang masih diberikan kesadaran untuk membela bendera tauhid.

"Kami mengecam keras oknum banser yang membakar bendera tersebut. Kalimat tauhid milik kita, milik umat Islam. Maka siapa yang membakar bendera tauhid harus diproses secara hukum," tegas Ketua GNPF Ulama Yusuf Muhammad Marta dalam orasinya di Jalan Merdeka Barat, Jakarta.

Sebelumnya, polisi secara mengejutkan melakukan penangkapan terhadap pembawa bendera tauhid yang disebut oleh Banser sebagai bendera HTI. Sayangnya,  para anggota Banser yang melakukan pembakaran malah dibebaskan. Pembawa bendera itu berinisial US dan ditangkap pada Kamis (25/10) siang. US berasal dari Cibatu, Garut.

Dalam foto yang diperoleh INDOPOS, tampak US sedang duduk berdampingan dengan Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna. "Polda Jawa Barat berhasil mengamankan pembawa bendera HTI di upacara HSN (Hari Santri Nasional) di Garut," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jabar Kombes Pol Umar Fana.

Dia memastikan pembawa bendera HTI tersebut bukan santri yang diundang dalam acara. Dia pun memberi sinyal pembawa bendera tersebut adalah penyusup. "Amat sangat bisa dipastikan (bukan santri undangan, Red). Kalau ada orang yang nggak diundang dalam suatu acara, terus dia datang dan bawa sesuatu yang sudah dilarang, nama yang cocok apa?" tutur Umar Fana.

US masih berstatus sebagai terperiksa dalam perkara ini. Polisi masih menggali apakah ada kesengajaan US membawa bendera berkalimat tauhid yang dinyatakan sebagai bendera HTI itu. Sementara untuk ketiga anggota Banser pelaku pembakaran malah dinyatakan tidak bersalah oleh aparat kepolisian setelah Polda Jabar dan Polres Garut melakukan gelar perkara terbuka kasus tersebut.  ”Terhadap tiga orang anggota Banser yang membakar tidak dapat disangka melakukan perbuatan pidana karena salah satu unsur yaitu, niat jahat tidak terpenuhi,” kata Karopenmas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo kepada wartawan pada Kamis (25/10). (dil)

Berita Terkait


Baca Juga !.