Jakarta Raya

Waspada Hipoglikemia pada Diabetasi

Redaktur: Sicilia
Waspada Hipoglikemia pada Diabetasi - Jakarta Raya

PERLU DICEGAH-Para narasumber dokter menjelaskan pentingnya mengontrol hipoglikemia pada pasien diabetes di Jakarta, pekan lalu. Foto: DEWI MARYANI/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Diabetes menjadi beban kesehatan paling berat bagi dunia. International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan, ada 425 juta orang atau setidaknya satu dari 11 orang berusia 20-79 tahun hidup dengan diabetes diseluruh dunia.

Indonesia, menjadi rumah bagi 10,3 juta orang yang hidup dengan diabetes. Oleh karena itu, dibutuhkan konsistensi dan inovatif dari segi penanganan penyakit ini.

Satu dari banyak tantangan diabetes yang menjadi perhatian saat ini, adalah hipoglikemia (gula darah rendah). Hipoglikemia merupakan sebuah kondisi yang membutuhkan perhatian khusus dari pasien diabetes dan keluarga pasien selama 24 jam.

Menilik data dari studi IO HAT Indonesia baru-baru ini, secara umum, 36,4 persen pasien tidak tahu apa itu hipoglikemia ketika gejala awal. Sebanyak 25,7 persen angka kejadian hipoglikemia pasien pertahun dan 13 persen angka kejadian hipoglikemia berat pasien pertahun.

Ada 83 persen dari penderita diabetes tipe 1 mengalami kejadian hipoglikemia setidaknya sekali sebulan. Sedangkan 47 persen dari penderita diabetes tipe 2 mengalami kejadian hipoglikemia setidaknya sekali sebulan.

''Hipoglikemia dan konsekuensinya adalah beban yang cukup besar untuk pasien diabetes. Hipoglikemia ini adalah sebuah kondisi yang berbahaya. Terutama karena kejadian hipoglikemia seringkali tidak disadari oleh pasien diabetes. Sehingga mereka tidak melaporkan kejadian ini kepada dokter. Padahal hipoglikemia kronis dapat menyebabkan koma hingga kematian,” kata Dr Dante Saksono, SpPD-KEMD, Ph.D dalam acara yang digelar Novo Nordisk di Jakarta, pekan lalu.
Menderita diabetes, kata dia, bukan berarti harus menurunkan gula darah serendah mungkin. Gula darah yang rendah justru bisa menyebabkan hipoglikemia yang dapat berujung pada kematian.

''Selama ini banyak yang berpikiran kalau diabetes, makin rendah gula darahnya, makin canggih. Itu salah. Terlalu rendah bisa berbahaya karena hipoglikemia,'' tegasnya.
Dia pun meluruskan. Yang benar adalah, orang dengan diabetes mesti mengontrol gula darahnya berada pada kisaran 100-180 mg/dL.

Jika angkanya berada di bawah itu, seseorang berisiko tinggi terkena hipoglikemia. Hipoglikemia sendiri merupakan kondisi ketika kadar gula dalam darah berada di bawah kadar normal.
Pada diabetes melitus tipe 2, hipoglikemia biasanya terjadi karena kurangnya asupan makanan. Sebanyak 27 persen penderita diabetes mengalami hipoglikemia.

Hipoglikemia ditandai dengan gejala seperti kelaparan, gemetar, keringat dingin, lemas, sakit kepala, dan mudah marah. Kondisi gula darah yang rendah ini membuat jantung bekerja ekstra sehingga denyut jantung tidak stabil dan menyebabkan gangguan irama jantung atau aritmia.
Pada kondisi yang parah dan terjadi terus menerus, aritmia akibat gula darah rendah bisa menyebabkan serangan jantung atau kematian mendadak. ''Sering dijumpai pada orang diabetes meninggal saat tidur. Ini terjadi karena hipoglikemia,'' imbuhnya.

Dia menambahkan, ada 2 jenis terapi pengobatan untuk diabetes, dengan OAD atau insulin. Hipoglikemia pada pasien diabetes bisa juga disebabkan oleh pengobatan yang tidak sesuai.
Namun, seiring berkembangnya teknologi pengobatan, inovasi terapi insulin generasi baru telah menyesuaikan dengan kebutuhan pasien yang salah satunya adalah untuk mengurangi risiko hipoglikemia.

Walaupun begitu, imbuhnya, bagi pasien, rajin memeriksa nilai kadar gula darah secara berkala juga efektif mengurangi risiko hipoglikemia. ''Periksakan HbA1c, komponen dalam darah terkait glukosa, dan nilai gula darah untuk mengetahui kadar normal gula darah. Anda boleh merasa aman apabila hasil HbA1c kurang dari 7 persen, kadar gula darah puasa kurang dari 130 mg/dl, dan bernilai kurang dari 180 mg/dl dua jam setelah puasa,'' paparnya.

Dr Fahad Jameel, Clinical, Medical, Regulatory and Quality (CMRQ) Director dari PT Novo Nordisk Indonesia menjelaskan perawatan yang inovatif tidaklah cukup. ''Edukasi untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat tidak kalah penting untuk mengatasi tantangan utama diabetes di Indonesia,'' imbuhnya.

Pihaknya terus melakukan advokasi untuk pencegahan dan perawatan diabetes yang lebih baik di seluruh dunia. ”Di Indonesia kami melakukannya melalui inisiatif meningkatkan kesadaran dan pengetahuan mengenai diabetes, pertemuan para pemangku kepentingan, pengembangan kapasitas untuk tenaga kesehatan profesional, edukasi terhadap pasien, edukasi kepada HCP, serta berperan aktif dalam mendukung inisiatif yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan di berbagai kesempatan, salah satunya adalah Hari Diabetes Sedunia,'' paparnya. (dew)

 

Berita Terkait

Lifestyle / Ini Manfaat Olahraga Lari Bagi Tubuh

Lifestyle / Jangan Abaikan Flek dan Spruten

Kesehatan / Pentingnya Rutin Cek Tumbuh Kembang Anak

Lifestyle / Sembuhkan Diabetes dengan Bedah Bariatik

Lifestyle / Dokter Umum Diedukasi soal Emergensi Urologi


Baca Juga !.