Sabtu, 17 November 2018 10:45 WIB
pmk

Nusantara

Teknologi BJA Sukses Lipatgandakan Produktivitas Jagung Lahan Pasang Surut di Jambi

Redaktur: Ali Rahman

Terapkan teknologi Budi Daya Jenuh Air (BJA) mampu meningkatkan produktivitas jagung. Foto: HKTI untuk INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Proyek budidaya jagung lahan rawa pasang surut yang dilakukan Tim Ahli Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan PT FKS Multi Agro Tbk di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, sukses menghasilkan panen jagung berlipat ganda. Yakni dari biasanya sekitar dua ton per hektar menjadi rata-rata enam ton per hektar.

Hal itu setelah dilakukan penggunaan teknologi Budi Daya Jenuh Air (BJA) yang ditemukan oleh guru besar IPB yakni Profesor Munif Ghulamahdi. Dengan teknologi tersebut, lahan pasang surut dapat dimanfaatkan menjadi lahan yang lebih produktif. Bahkan tinggi pohon jagungnya ada yang mencapai hampir tiga meter.

Sementara itu, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) sekaligus Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jenderal (Purn) Dr Moeldoko, Asisten II Pemprov Jambi Agus Sunaryo, Bupati Tanjabtim Romi Haryanto, Wakil Bupati Tanjabtim Robby Nahliansyah, Komisaris PT FKS Multi Agro Fazwar Bujang, tim ahli IPB Prof Munif Ghulamahdi, Ketua DPP HKTI Jambi Usman Ermuland dan sejumlah pimpinan aparat terkait, Kamis (1/11/2018) melakukan panen perdana jagung BJA di Desa Karya Bhakti, Kecamatan Rantau Rasau, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi.

Turut hadir dalam acara panen ini, antara lain, sejumlah kepala daerah pemkab di wilayah Jambi, pimpinan DPN HKTI, dan beberapa unsur pimpinan FKS Multi Agro seperti Po Indarto Gondo (direktur) dan Yanuar (mewakili pemegang saham). Tak ketinggalan sekitar 1.500 petani dari HKTI dan sejumlah poktan maupun gapoktan turut memeriahkan acara panen raya tersebut.

Potensi lahan pasang surut di Indonesia seluas 21 juta hektar, yang dapat dikembangkan untuk menjadi lahan pertanian mencapai sembilan juta hektar. Akan tetapi lahan tersebut menghadapi kendala yang sangat komplekyaitu fisikokimia, infrastruktur, sumberdaya manusia , dan pasar, sehingga sampai sat ini produktivitastanaman pangan (jagung, kedela dan padi) masih sangat rendah.

"Inovasi teknologi yang dapat diterapkan untuk mengatasi kendala di lahan pasang surut adalah dengan penerapan teknologi Budidaya Jenuh Air (BJA) yang ditemukan oleh Profesor Munif Ghulamahdi," kata Toyip Hadinata, salah satu tim ahli IPB.

Menurut Prof. Munif, teknologinya BJA sangat sederhana sehingga mudah diaplikasikan oleh petani. Ia memanfaatkan BJA sejak 1998 di lahan biasa kemudian sejak 2009 sampai sekarang diaplikasikan di lahan pasang surut. Hasilnya juga sangat memuaskan. Banyak ahli dari luar negeri yang memuji dan tertarik dengan teknologi ini.

Secara keseluruhan lahan budidaya berteknologi BJA yang dikelola Tim Ahli IPB dan FKS Multi Agro di kecamatan Rantau Rasau mencapai 120 hektar. Budidaya tanaman jagung seluas 95 hektar, kedelai 10 hektar, dan padi 15 hektar.

Varietas jagung yang di tanam adalah varietas hibrida Pioner 32, varietas Bhisma dan varietas sukmaraga. Varietas padi adalah inpara 3. Varietas kedelai adalah anjasmoro dan Tanggamus.

Kegiatan budidaya di lahan pasang surut itu mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah dengan keterlibatan dinas pertanian dan petani setemat. Kelompok tani yang terlibat sebanyak empat kelompok dan dua Gapoktan.

"Untuk pengembangan dan kesuksesan ke depan diperlukan kerja sama semua sektor yaitu pemerintah, akademisi, pengusaha, dan petani. Hal yg perlu difokuskan adalah, pertama perbaikan tata air makro dan mikro, kedua penggunaan alsintan yang tepat guna, ketiga jaminan harga," tutur Toyip yang juga kandidat doktor pertanian.

Menurut data Bappeda tahun 2000, Provinsi Jambi diperkirakan memiliki lahan rawa seluas 684 ribu ha. Dari luasan tersebut berpotensi untuk pengembangan pertanian 246.481 ha terdiri dari lahan lahan rawa pasang surut 206.832 ha dan lahan non pasang surut seluas 40.521 ha. Lahan pasang surut di Provinsi Jambi sebagian besar terdapat di Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur.

Lahan pasang surut Provinsi Jambi telah lama diusahakan oleh penduduk lokal maupun penduduk transmigrasi. Tanaman yang diusahakan petani selain padi adalah palawija (jagung dan kedelai). Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa lahan rawa pasang surut cukup potensial untuk usaha pertanian baik untuk tanaman pangan, perkebunan, hortikultura maupun usaha peternakan bila ditopang teknologi dan manajemen pertanian yang baik.

Dengan suksesnya budidaya jagung lahan pasang surut di Rantau Rasau, Tanjabtim, ini maka PT FKS dan tim ahli IPB mewacanakan untuk menerapkannya di seluruh wilayah Jambi bahkan nasional.

Oleh karena itu mereka menggandeng HKTI sebagai refresentasi petani untuk mewujudkan rencana tersebut. Pemerintah daerah Jambi, baik provinsi maupun kabupaten, sangat mendukung rencana tersebut.

Untuk itu, dalam acara panen jagung di Rantau Rasau ini dilakukan juga penandatangan nota kesepahaman (MoU) tentang pemanfaatan Teknologi Budidaya Jenuh Air Lahan Pasang Surut untuk mendukung pertanian padi, jagung, dan kedelai nasional. Mou ini melibatkan tiga pihak, yakni HKTI, IPB (tim ahli), dan PT FKS Multi Agro Tbk.

Bagi HKTI, kesepahaman ini sesuai dengan visi dan misi HKTI sebagai lembaga yang bertugas menjembatani kepentingan petani dengan berbagai pihak. “HKTI akan berperan sebagai bridging institution dalam sistem inovasi pertanian. Dimulai dengan membangun kemitraan riset dengan universitas, perusahaan, pemerintah, dan komunitas (civil society),” kata Moeldoko.

Sementara PT FKS Multi Agro juga menyatakan siap mendukung setiap program pengembangan pertanian dan pangan Indonesia. (dai)

 

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #moeldoko #himpunan-kerukunan-tani-indonesia #budidaya-jagung #produktivits-jagung 

Berita Terkait

Ekonomi Dikelola dengan Kehati-hatian

Nasional

Moeldoko Tak Ingin Ada Kampanye Negatif

Politik

4 Pokok Perubahan pada Perpres 54 Tahun 2018

Nasional

Milenial Harus Salurkan Nilai Pancasila Kekinian

Nasional

IKLAN