Internasional

Kolonel Polisi Jual Narkoba Mati di Dor

Redaktur: Indra Bonaparte
Kolonel Polisi Jual Narkoba Mati di Dor - Internasional

BERANTAS – Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengatakan meski sudah 10 ribu orang pengedar yang ditembak mati, dia akan menambahnya menjadi 50 ribu orang dalam perang memberantas narkoba. (AFP)

INDOPOS.CO.ID - Seorang kolonel polisi bernama Santiago Rapiz yang telah lama ada dalam daftar orang yang dicari oleh Presiden Filipina Rodrigo Duterte terkait peredaran narkoba akhirnya tewas. Dia tewas setelah baku tembak dengan sepasukan polisi selama operasi penyergapan pada Selasa, (6/11) di Dipolog City Provinsi Zamboanga del Norte.

Seorang pejabat kepolisian setempat mengatakan, Rapiz berada di dalam daftar 6 ribu penjahat narkoba. Seperti diketahui, Duterte melakukan kampanye perang narkoba yang diluncurkan setelah dia memenangkan kursi kepresidenan pada 2016. "Rapiz memang menjual methamphetamine senilai 50 ribu Peso atau sekitar USD 940 kepada polisi yang menyamar di Kota Dipolog pada Senin malam. Sempat ada pengejaran singkat. Tetapi ketika dia terpojok, dia malah menembaki agen kami," kata Komandan Satuan Tugas Kontra-Intelijen Polisi Romeo Caramat dilansir dari SCMP pada Selasa, (6/11).

Caramat menambahkan bahwa Rapiz tewas dalam sebuah baku tembak. Polisi mengejar dan menembak mati Rapiz karena dituduh melindungi raja narkoba dan terlibat dalam perdagangan narkotika.

Kelompok hak asasi manusia di Filipina mengatakan, setidaknya sudah lebih dari 10 ribu orang telah tewas dalam perang narkoba yang dikobarkan Presiden Duterte. Namun kepolisian Filipina menolak keras pernyataan kelompok HAM. Menurut polisi, mereka mengatakan, kalau mereka hanya menangkap para pengedar narkoba yang menolak menyerahkan diri.

Sebelumnya Presiden Rodrigo menegaskan dirinya sendiri yang akan memenggal leher mereka yang menentang perang melawan narkoba yang dipeloporinya. Dia juga mengatakan tidak akan terintimidasi dengan kritik terkait kebijakannya yang disebut para aktivis HAM sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. "Jangan percayai kritikan para aktivis HAM itu. Jika kalian memercayainya, saya akan penggal kepala kalian. Saya tidak akan terpengaruh dengan berbagai ancaman. Penjarakan saya. Ayo, penjarakan saya. Jika mereka katakan saya harus masuk penjara, tidak apa,” lontar Duterte dalam pidato peresmian jembatan di wilayah selatan Filipina.

Meskipun para aktivis HAM menyebutkan 10 ribu orang tewas selama perang melawan narkoba di Filipina. Namun Duterte menegaskan, masih akan banyak lagi kematian dalam usahanya memberantas peredaran narkoba di negaranya itu. "Tambahkan korban tewas menjadi 50 ribu orang. Saya akan bunuh mereka semua. Dan jika saya harus masuk neraka atau membusuk di penjara, saya tak keberatan. Toh saya sudah tua," pungkasnya. (iml/jpc/jpg)

Baca Juga


Berita Terkait

Nusantara / Tiga Buruh Bangunan Jatuh ke Sungai, Satu Tewas

Nasional / Pengancam Presiden Ditangkap

Daerah / Lompat ke Kali, Mangapul Ditemukan Tak Bernyawa

Banten Raya / Bogem Bawahan, Pejabat Kecamatan di Tangsel Dipolisikan

Banten Raya / Kencan Singkat Berujung Kematian


Baca Juga !.