Internasional

Dua Wanita Muslim Jadi Anggota Kongres AS

Redaktur: Indra Bonaparte
Dua Wanita Muslim Jadi Anggota Kongres AS - Internasional

PERDANA-Ilhan Omar dan Rashida Tlaib adalah perempuan pertama yang menduduki kursi legislatif di Amerika Serikat.Foto: Kerem yucel/AFP/TWITTER

INDOPOS.CO.ID - mencetak sejarah sebagai wanita muslim pertama yang terpilih sebagai anggota Kongres dalam pemilihan sela Amerika Serikat pada Selasa (6/11). Omar, muslim Somalia-Amerika terpilih dari distrik kongres kelima di Minnesota. Omar menggantikan Keith Ellison, pria Muslim pertama yang menang namun mengubah kedudukannya untuk maju di kejaksaan umum negara bagian.

Politisi muda berusia 36 tahun ini menggantikan Republik Demokrat Keith Ellison, pria muslim pertama yang menang namun mengubah kedudukannya untuk maju di kejaksaan umum negara bagian. Tahun 1991, ketika Omar baru berusia 14 tahun, ia bersama keluarganya melarikan diri dari perang sipil di Somalia dan menghabiskan empat tahun di sebuah kamp pengungsi di Kenya sebelum pindah ke AS.

Ilhan Omar mengkampanyekan hal-hal progresif seperti, menyerukan kesehatan universal dan perguruan tinggi bebas biaya. Omar bahkan berjanji untuk memperjuangkan upah minimum tetap 15 dolar AS, mencegah pemotongan untuk kesejahteraan seperti Medicare dan Jaminan Sosial, serta menghentikan pemotongan pajak untuk perusahaan besar, dan perguruan tinggi bebas biaya.

Omar mengatakan ia mulai terjun ke dunia politik saat menghadiri kaukus Partai Demokrat Buruh Petani di Minnesota bersama kakeknya setelah ia tiba di AS. Omar kini menjadi wanita Muslim pertama yang terpilih jadi anggota legislatif Minnesota, dan ia merupakan bagian dari gelombang sejarah wanita yang akan menduduki jabatan-jabatan tinggi. Wanita dan orang kulit berwarna, seperti diwartakan Vox masih kurang terwakili di Kongres AS (20 persen wanita, dan 19 persen orang kulit berwarna).

Omar sempat menghadapi serangan Islamofobia selama kampanyenya. Ia diisukan pernah menikah dengan saudara laki-lakinya dan memiliki hubungan dengan teroris. Bahkan, dalam salah satu kampanye bersama Tlaib, Omar pernah ditanya soal Hamas dan mutilasi genital wanita. Namun, tampaknya serangan terhadap Omar itu tak mempengaruhi pemilihan.

Sedangkan Rashida Tlaib, 42, lahir dari orangtua imigran Palestina dan merupakan wanita muslim pertama yang memenangkan kursi legislatif di Michigan. "Anda dapat mencoba untuk melarang kami masuk ke negara itu tetapi Anda tidak dapat melarang kami terpilih menjadi anggota Kongres AS," kata Tlaib awal tahun ini mengutip Express.

Seperti halnya Omar, begitu juga Tlaib memperjuangkan kebijakan progresif, termasuk Medicare for All, upah minimum tetap 15 dolar AS dan reformasi imigrasi. Kedua kandidat telah melalui kontroversi terkait posisi mereka pada konflik Israel-Palestina.

Tlaib menang dari distrik kongres ke-13 Michigan, di mana ia merupakan kandidat terkuat dari partai utama. Dalam pemilihannya, tidak ada kandidat dari Partai Republik di distrik Tlaib yang sangat Demokrat. Oleh karena itu, bisa dipastikan ia menang dalam pemilihan. Jaminan kemenangan juga terjadi di distrik Omar, sebab distriknya didominasi Afrika-Amerika dan Demokrat yang sangat kuat. Tlaib dan Omar seolah ditakdirkan untuk maju bersama di Kongres AS.

Bukan sekali ini saja Tlaib, wanita yang lahir dari orang tua imigran Palestina mencetak sejarah. Sebagaimana diwartakan Aljazeera, sebelumnya pada 2008 lalu ia menjadi wanita Muslim pertama yang memenangkan kursi legislatif di Michigan.

Dalam kampanyenya, Tlaib berjanji untuk menjaga upah minimum tetap 15 dolar AS, mencegah pemotongan untuk program kesejahteraan seperti asuransi dan jaminan sosial, serta menghentikan keringanan pajak untuk perusahaan besar.

Tlaib mengucapkan selamat pada Omar di Twitter, setelah kemenangan pada Selasa (6/11/2018). "Saya tidak sabar untuk berjalan ke lantai Kongres Amerika Serikat bergandengan tangan denganmu. Saya sangat bangga padamu," tulis Tlaib, seperti dikutip Haaretz.

Smentara Omar, melalui akun Twitter-nya menulis untuk para pendukungnya: "Hari ini lebih dari sekadar kemenangan, ini tentang membangun koalisi untuk melawan politik ketakutan dan kelangkaan. Saya seorang legislator, pengungsi, dan ibu pekerja. Tapi di atas itu semua, saya seorang organisator dan saya siap untuk mengorganisir Amerika yang layak kita dapatkan. Saya meminta Anda untuk bergabung." (wid/rmol/jpg)

 

Berita Terkait

Politik / Sama-sama Klaim Kuasai Parlemen

Nasional / Mahasiswa Harus Lebih Peduli Politik

Megapolitan / DPRD Tolak Mobil Dinas untuk Walikota

Nasional / Keterlibatan Masyarakat Adat Belum Signifikan

Politik / Penambahan Kursi Parlemen Masih Misteri

Headline / Ketua MPR Berharap Hubungan Indonesia-China Semakin Kuat


Baca Juga !.