Internasional

Turki Menentang Sanksi Ekonomi AS ke Iran

Redaktur: Indra Bonaparte
Turki Menentang Sanksi Ekonomi AS ke Iran - Internasional

BERANI : Presiden Erdogan dengan tegas mengatakan sanksi AS terhadap Iran untuk menghancurkan keseimbangan dunia. (FOTO : ADEM ALTAN / AFP)

INDOPOS.CO.ID - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengecam sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap Iran. Erdogan menyebutnya sanksi itu sebagai langkah AS untuk menghancurkan keseimbangan di dunia. Ia pun tegas mengatakan kalau negaranya tak akan pernah mematuhi sanksi ekonomi tersebut.

”Sanksi AS terhadap Iran salah. Langkah-langkah ini bertujuan untuk menghancurkan keseimbangan di dunia. Kami tidak ingin hidup di dunia imperialis,” tegas Erdogan seperti dikutip Xinhua dari Daily Sabah, Rabu (7/11).

Erdogan menekankan bahwa sanksi AS terhadap Iran bertentangan dengan hukum dan diplomasi internasional. "Sikap kami pada sanksi selalu jelas, kami tidak akan mematuhi sanksi seperti itu," kata Erdogan.

Sementara itu, Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Jerman, DIHK serta kalangan ekonomi di negara itu mengeritik kebijakan Presiden Trump terhadap Iran. Meski saat ini banyak perusahaan terpaksa mundur dari Iran akibat sanksi itu. DIHK serta asosiasi industri lainjuga mengeritik kebijakan sanksi ekonomi AS itu yang dinilai sangat bertentangan dengan kepentingan Eropa dan Jerman.

Ketua DIHK Eric Schweitzer mengatakan, hubungan ekonomi Jerman-Iran saat ini menjadi kritis pascaputusan itu. Asosiasi Pengekspor Jerman (BGA) bahkan melontarkan kritik lebih keras lagi. Dalam pernyataan yang dirilis hari Senin (19/11) BGA menyebutkan, penerapan kembali sanksi ekonomi terhadap Iran menjadi ’tamparan dari pemerintah AS untuk Eropa". BGA menegaskan pentingnya Eropa melakukan "emansipasi" dan melepaskan diri dari ketergantungan kepada AS dalam bisnis ekspor.

Pemerintah Jerman sendiri menerangkan tidak bisa memberi jaminan kepada perusahaan Jerman agar terhindar dari dampak negatif sanksi ekonomi AS. Pemerintah memang bisa mengusahakan beberapa kelonggaran bagi perusahaan kecil dan menengah, namun tidak ada jaminan perusahaan Jerman terhindar dari sanksi AS. Namun pemerintah Jerman menekankan, tetap masih ada bisnis dengan Iran yang legal menurut UU Uni Eropa.

Ketua DIHK Eric Schweitzer memperkirakan, bisnis Jerman-Iran dalam waktu dekat akan mengalami penurunan besar. Karena makin banyak perusahaan Jerman yang menarik diri dari Iran. "Selain karena sanksi terhadap perbankan, yang bersedia melakukan transaksi dan membiayai bisnis ke Iran, banyak perusahaan khawatir akan kehilangan bisnisnya di AS, kalau mereka tetap aktif di Iran," katanya. Sekalipun Uni Eropa sudah merencanakan cara melakukan transaksi dengan Iran melalui sarana khusus.

AS sejak Senin (5/11) mulai menerapkan sanksi ekonomi luas terhadap Iran seperti diumumkan Presiden Donald Trump setelah menarik dari dari Kesepakatan Atom Iran yang dicapai tahun 2015. Sanksi itu berlaku di sektor energi, penerbangan dan pelayaran serta sektor perbankan. Sepertiga pendapatan Iran berasal dari sektor minyak dan gas.

Bank-bank Eropa yang masih melakukan transaksi dengan Iran sekarang terancam sanksi dari AS. Karena itu, kebanyakan bank dengan cepat menyatakan segera menghentikan segala bentuk transaksi dengan negara itu. Hanya ada beberapa bank kecil yang masih melayani transaksi dengan Iran, kebanyakan bank yang bergerak dalam bidang-bidang khusus.

Sedangkan Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT), sebagai penyedia jaringan transfer moneter internasional mengatakan telah menghentikan layanannya di beberapa bank di Iran setelah Amerika Serikat memberlakukan kembali sanksi nuklir kepada negara beribu kota di Teheran tersebut.

Dikutip dari AFP, Selasa (7/11), penangguhan layanan telah diberlakukan sejak Senin (5/11) lalu. "Sesuai dengan misi kami mendukung ketahanan dan integritas sistem keuangan global sebagai penyedia layanan yang netral, SWIFT menangguhkan akses beberapa bank Iran di jaringan kami," sebut mereka.

"Langkah ini, meskipun disesalkan, telah diambil untuk kepentingan stabilitas dan integritas sistem keuangan global secara luas," jelas SWIFT lebih lanjut. SWIFT yang berbasis di Belgia ini menyediakan layanan messenger yang memungKinkan transfer internasional. Adapun jaringan SWIFT sendiri menghubungkan 11.000 bank dan lembaga keuangan di 200 negara dan teritori. Sehingga, tanpa layanannya bank-bank di Iran akan menjadi sulit untuk melakukan bisnis dengan klien yang berani berhadapan dengan sanksi AS.

Selain itu, maskapai penerbangan Inggris dan Perancis, British Airways dan Air France, sudah menghentikan penerbangan ke Iran sejak bulan lalu. Perdagangan obat-obatan dan kebutuhan medis tidak terkena sanksi secara langsung. Namun bisnis itu juga akan makin sulit, karena para importir di Iran sulit melakukan pembayaran ke Eropa. Sekalipun begitu, perusahaan farmasi Perancis Sanof mengumumkan akan melanjutkan bisnisnya dengan Iran. (hp/vlz/jpc/jpg/dpa/rtr/afp)

Berita Terkait

Internasional / 14 Pengebom Istanbul Divonis Seumur Hidup

Internasional / AS Tawarkan Rudal Patriot ke Turki

Internasional / Turki Desak Tiongkok Lindungi Kebebasan Beragama

Internasional / Desak NATO Sokong Turki Basmi Kelompok Teror

Internasional / Turki Desak AS Hormati Kemitraan Strategis


Baca Juga !.