Nasional

Tangkal Aliran Dana Kelompok Teroris

Redaktur: Jakfar Shodik
Tangkal Aliran Dana Kelompok Teroris - Nasional

CEGAH: Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (kanan) saat rapat kerja dengan komisi III DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (19/7). Foto: Charlie/Indopos

INDOPOS.CO.ID - Pemberantasan terorisme tidak hanya melalui penegakan hukum. Pencegahan dana terorisme menjadi salah satu kunci menegah terjadinya aksi teror. Namun, financial inteligence unit sebagai pelaksana pecegahan aliran dana teroris perlu bekerja sama antarnegara.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menuturkan tindak pidana terorisme salah satunya karena ada aliran dana kelompok teror yang bisa terjadi antarnegara. Pendanaan kelompok teror juga mengalami perubahan modus. ”Bom Bali I dengan Bom Gereja Surabaya itu berbeda,” tutur Tito dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (7/11).

Yang pasti, aliran dana kelompok teror itu harus diputus. Yang melaksanakannya biasanya merupakan Financial Inteligence Unit. ”Tapi tidak bisa bekerja sendirian sebuah negara,” papar mantan Kapolda Metro Jaya tersebut.

Setiap negara perlu bekerja sama dengan share informasi dan pengembangan kapasitas penegak hukum. Khususnya Financial Inteligence Unit. ”Saat ini bisa di kawasan regional Asia dan Australia,” ujarnya dalam acara The 4th Annual Counter-Terorism Financing (CTF) Summit di Bangkok, Thailand.

Sementara Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menuturkan, pemaparan kaolri mendapatkan apresiasi dari Thailand dan Australia. ”Kedua negara menyebut paparan Kapolri itu bisa membuat mereka mengetahui pengalaman dalam menangani terorisme. ”Apresiasi ini membanggakan,” ungkapnya.

Dia menuturkan acara CTF itu merupakan acara lanjutan dari pertemuan sebelumnya yang digelar di Bali, Sydney, dan Kualalumpur. Acara dihadiri penegak hukum, perwakilan pembuat kebijakan, lembaga kebijakan dan keamanan nasional di sejumlah negara. ”Ini acara bergengsi,” ujarnya.

Dengan acara itu diharap setiap peserta nanti memberikan perhatian lebih terhadap penanggulangan pendanaan terorisme dan kejahatan finansial berisiko tinggi. Perlu diketahui, Polri pernah mencegah aliran dana terorisme yang dikirim anggota ISIS asal Indonesia Bahrun Naim. Pengiriman uang dari Bahrun Naim di Suriah itu dilakukan menggunakan Papal dan Bitcoin.

Dengan begitu diketahui bahwa pengiriman dana terorisme berkembang tidak hanya melalui antar rekening. Namun, juga memanfaatkan perkembangan teknologi. (idr/jpg)

Berita Terkait


Baca Juga !.