Sabtu, 17 November 2018 10:35 WIB
pmk

Nasional

Yusril Tetap Jadi Pengacara HTI

Redaktur: Nurhayat

Yusril Ihza Mahendra. Foto: Dok. Indopos

INDOPOS.CO.ID - Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin meminta Yusril Ihza Mahendra mundur sebagai kuasa hukum Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Namun, permintaan itu sepertinya tidak akan dipenuhi oleh Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) itu.

Menanggapi akan adanya hal itu, Yusril menilai dirinya tidak perlu mundur dikarenakan tidak ada conflict of interest yang terjadi. Pasalnya, dalam UU Advokat salah satu alasan diharuskan mundur apabila terjadi konflik kepentingan.

”Kalau dalam UU Advokat dan diatur dalam kode etik advokat salah satu dasarnya harus mundur karena ada conflict of interest, misalnya saya pernah membela Anda dalam satu kasus, lalu kemudian suatu hari ada orang lain melawan Anda, saya mewakili orang yang melawan Anda itu nggak boleh, itu melanggar kode etik dan saya wajib mundur jika itu ada,” terang Yusril di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (7/11).

Lebih lanjut, Yusril juga menjelaskan pandangannya soal pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan kesediaannya membela ormas yang telah dibubarkan itu. Dia pun menegaskan bahwa tidak akan pernah membela paham khilafah.

”Saya melakukan pembelaan HTI bukan karena menganut paham sama dengan HTI. Kalau khilafah dengan HTI kita beda tafsir, dan PBB beda tafsir dengan khilafah itu, kita bela bukan pahamnya, tapi organisasi badan hukum yang dicabut Kemenkumham,” tegasnya.

Selain itu, Ketua PBB ini menegaskan, yang digugat adalah Menkum HAM, bukan Presiden Jokowi, yang digugat adalah jabatan, bukan personal. Sehingga, Yusril menilai tidak ada polemik ideologi kalau saat ini dirinya menjadi pengacara Jokowi.

”Jadi antara Menkumham dan Pak Jokowi-Ma’ruf sebagai Paslon tidak ada hubungannya. Jadi tidak ada kewajiban saya untuk mundur. Bahwa mungkin Pemerintah ini beda pendapat dengan HTI mengenai pahamnya, itu saya tidak mecampuri,” sambungnya.

Di sisi lain, Yusril menegaskan, selama ini telah bersikap profesional. Meskipun dia bersikap kritis ke pemerintah, hal tersebut dilakukan dalam koridor profesionalitas sebagai pengacara.

Sementara, sejumlah kader Partai Bulan Bintang banyak yang meminta menjadi relawan tim pemenangan Prabowo-Sandi. Kondisi itu diungkapkan oleh Sandiaga saat berkampanye di Sulawesi beberapa waktu lalu. Suami dari Nur Asia Uno itu bilang, kader daerah PBB yang hadir menemuinya meminta ikut berjuang memenangkan Prabowo-Sandi di Pilpres 2019. ”Kemarin ada relawan sebagian dari PBB hadir di Sulawesi. Saya bilang jangan (mendukung) mengatasnamakan partai sebelum ada (arahan) secara resmi dari partainya,” kata Sandiaga di Jakarta, Rabu (7/11).

Kemudian, lanjut Sandiaga, para kader PBB itu akhirnya membentuk relawan pemenangan Prabowo-Sandi untuk Sulawesi. Tak hanya itu, aliran dukungan dari PBB juga dinilainya terus mengalir ke paslon yang disingkat PADI tersebut. ”Tadi pagi, saya didatangi beberapa kader PBB datang ke lapangan basket. Dukungan itu buat saya, natural dan mengalir saja dari bawah. Saya terima kasih atas dukungan dari PBB di level akar rumput,” pungkasnya.

Menanggapi itu, Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut 01, Ma’ruf Amin mengatakan, belum terlalu memikirkan terkait terpecahnya suara PBB. Hanya saja dia mensyukuri bergabungnya Yusril dengan koalisinya. Selain itu, Yusril sebagai Ketua Umum PBB diyakini memiliki efek besar di internal partai. Sehingga nantinya bisa membawa arah suara para kadernya. ”Ya kira lihat aja nanti, yang penting Yusril sudah ikut ke sini. Dia kan Ketua Umum PBB, saya kira pengaruh Ketua Umum kan besar sekali,” kata Ma’ruf di Rumah Situbondo Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (7/11).

Lebih lanjut, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu yakin betul pasangan petahana akan mendapat dukungan dari seluruh kader PBB. Hanya saja menurutnya butuh waktu untuk menyakinkan mereka. ”Ya yakin lah (PBB pasti dukung, Red), masa endak yakin,” tegasnya.

Diketahui, Pengacara kondang yang juga Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB), Yusril Ihza Mahendra mengaku dirinya kini menjadi tim hukum (lawyer) pasangan calon (paslon) presiden dan wakil presiden Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin. Yusril mengambil keputusan menggemparkan itu usai bertemu dengan Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Erick Thohir, di salah satu hotel di Jakarta. (ipp/ce1/aim/sat/jpc)

 

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #pilpres-2019 

Berita Terkait

IKLAN