Sabtu, 17 November 2018 10:38 WIB
pmk

Ekonomi

Optimistis UKM Terus Menanjak

Redaktur: Jakfar Shodik

Foto : Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID – Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop) optimistis kinerja koperasi dan UKM akan terus meningkat tahun depan. Berdasar jejak rekam empat tahun terakhir, secara tren meningkat signifikan. Kontribusi koperasi terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) meningkat menjadi 4,48 persen dari sebelumnya satu koma sekian.

Pada 2014, kontribusi koperasi terhadap PDB masih berada di angka 1,71 persen dan meningkat tajam pada 2016 menjadi 3,99 persen. Begitu juga dengan rasio kewirausahaan sudah berada di kisaran 3,1 persen dari sebelumnya 1,65 persen. ”Tahun ini, saya prediksi kontribusi dapat menyentuh lima persen,” tutur Kepala Biro Perencanaan Kemenkop dan UKM Ahmad Zabadi di Jakarta, Rabu (7/11).

Selain itu, sebut Zabadi, pengembangan performa koperasi terus meningkat. Saat ini, sudah ada dua koperasi besar masuk jajaran 300 koperasi besar skala global. Yaitu, Koperasi Warga Semen Gresik dan Koperasi Kisel. ”Masih banyak lagi koperasi besar Indonesia bisa didorong masuk ke kelas global, seperti Koperasi Sidogiri, Kospin Jasa, dan sebagainya,” imbuh Zabadi.

Melihat kondisi itu, Zabadi meyakini pertumbuhan gerakan koperasi tahun depan akan terus meningkat. Kondisi itu akan membuat sumbangan koperasi terhadap PDB menembus level 5 persen. Hal sama juga akan dialami sektor UKM. Di mana, dengan kemajuan teknologi akan mampu meningkatkan enterpreneur. ”Akan semakin banyak generasi milenial memiliki usaha produktif dengan memanfaatkan gadget,” tukasnya.

Melalui reformasi, banyak koperasi tidak aktif dan berjalan melenceng dari aturan dipangkas. Dampaknya, jumlah koperasi menyusut drastis. Secara kuantitas, jumlah koperasi menurun namun secara kualitas tidak diragukan. ”Sudah 40 ribu koperasi dibubarkan selama empat tahun belakangan ini,” tukasnya.

Selanjutnya, Kemenkop dan UKM juga akan mendorong pertumbuhan koperasi produksi, konsumen, dan jasa meningkatkan kontribusi PDB koperasi. Dengan keragaman itu, pengembangan koperasi tidak hanya didominasi Koperasi Simpan Pinjam (KSP). Pemerintah juga optimistis kontribusi UKM terus meningkat sejalan pertumbuhan entrepreneur baru. Apalagi, perusahaan rintisan (Startup) berbasis digital terus tumbuh untuk membantu perekonomian nasional. Untuk rasio kewirausahaan, Kemenkop dan UKM masih memakai data edisi 2016 yaitu 3,1 persen. Artinya, ini sudah melampauai kriteria negara memiliki daya saing global dua persen. ”Kami kalkulasi tahun ini bisa meningkat menjadi lima persen,” ulasnya.

Dalam mencapai target itu, Kemenkop dan UKM fokus membuat gerakan mahasiswa pengusaha dibangun bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi. Gerakan itu mendorong mahasiswa dan alumni muda untuk menjadi pencipta kerjaan, bukan sekadar karyawan perusahaan. Pelaku UKM mampu bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Itu berkat mengambil pelajaran dari krisis moneter 1998, 2003, 2005, 2008, 2017, hingga 2018. ”Pelaku usaha lebih tangguh dan responsif ketika krisis global melanda Indonesia,” tutur Chief Economist Bank BNI Ryan Kiryanto.

Indikator lain, ungkap Ryan, pertumbuhan kredit perbankan saat ini tercatat sekitar 12,6 persen didominasi sektor pertanian, industri, dan perdagangan (usaha besar, menengah, dan kecil). Transaksi pembayaran sektor ritel juga terus meningkat signifikan. ”Ada pelambatan kredit perbankan di sektor UMKM. Tapi, saya meyakini itu hanya sementara dan akan kembali meningkat pada 2019,” tukas Ryan.

Dalam kesempatan sama, pelaku UKM Du'Anyam (social enterprise) Juan Firmansyah menyebutkan pelaku UKM harus mampu berpikir global. Terlebih, perilaku konsumen saat ini sudah mengalami perubahan dari konvensional menjadi online. ”Kami harus mengembangkan website yang mendisplay seluruh produk hingga bisa dinikmati seluruh dunia,” ucap Juan. (hap/jpc)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kemenkop 

Berita Terkait

IKLAN